Produsen mobil Jepang tersebut berencana untuk melanjutkan penjualan dan layanan purna jualnya di Thailand dengan mengimpor kendaraan, termasuk kendaraan listrik dan hibrida, dari pabrik di negara lain di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean), Jepang, dan India.
Keputusan untuk menutup pabrik, yang merupakan bagian dari strategi Suzuki untuk menyelaraskan dengan tujuan netralitas karbon dan elektrifikasi global, akan mempengaruhi pabriknya di provinsi Rayong. Fasilitas yang didirikan 12 tahun lalu ini memiliki kapasitas produksi 60.000 unit per tahun dan mempekerjakan sekitar 800 orang, demikian dilansir dari Pattaya Mail.
Suzuki sendiri telah menguraikan rencana untuk memperkenalkan enam model kendaraan listrik pada tahun fiskal 2030-2031 dan memperkirakan akan meluncurkan kendaraan listrik pertamanya di India pada tahun depan.
Menurut Federasi Industri Thailand (FTI), sektor otomotif Thailand sedang menghadapi tantangan. Tahun ini, peningkatan penutupan pabrik disebabkan oleh krisis ekonomi, merger, dan kenaikan biaya operasional. (NNT)
Sementara mengutip Nation Thailand, Suzuki menambahkan, untuk mendukung kebijakan pemerintah mengenai netralitas karbon, perusahaan akan memperkenalkan kendaraan listrik dan mobil hybrid di Thailand di masa depan.
Saat ini Suzuki mengimpor kendaraan dari negara tetangga Indonesia, termasuk model populer seperti Ertiga dan XL7, yang merupakan salah satu model Suzuki terlaris di Thailand. Impor ini mendapat manfaat dari pengecualian pajak khusus berdasarkan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN, yang memungkinkan impor bebas bea jika kendaraan mengandung setidaknya 40% kandungan ASEAN
Di India, yang menjadi basis pasar utama Suzuki, perusahaan berencana memproduksi EV pertamanya pada tahun 2025. Masih harus dilihat apakah EV ini akan diimpor untuk dijual di Thailand.
Saat ini belum ada perjanjian perdagangan bebas antara India dan Thailand khusus untuk pasar otomotif. Artinya, kendaraan yang diimpor dari India ke Thailand tidak mendapatkan pengecualian pajak yang sama seperti kendaraan dari negara-negara ASEAN.
Keputusan Suzuki untuk menghentikan produksi mobil di Thailand menandai langkah signifikan kedua, menyusul pengumuman Subaru sebelumnya untuk menghentikan produksi kendaraannya di Thailand mulai akhir tahun 2024. Pabrik Subaru di Thailand merupakan perusahaan patungan antara Tan Chong International Group yang memegang 74,9% saham dan Subaru International yang memegang 25,1%.