JawaPos.com - Beberapa hari lalu, sejumlah nasabah Bank Syariah Indonesia atau BSI mengeluhkan mereka tidak bisa mengakses aplikasi BSI Mobile. Pihak bank menjelaskan, hal ini terjadi karena tengah dilakukan maintenance atau perawatan sistem sehingga membuat layanan BSI tidak bisa diakses sementara waktu.
Namun lebih dari itu, belakangan terungkap bahwa macetnya layanan perbankan BSI karena ulah hacker. Sebuah akun twitter Fusion Intelligence Center atau @darktracer_int mengungkapkan bahwa kelompok hacker ransomware LockBit lah yang sudah meretas layanan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Melalui cuitannya, akun Twitter yang kerap memberikan informasi akurat soal dunia keamanan siber (kamsiber), @darktracer_int mengungkapkan, kelompok hacker ransomware LockBit mengaku bertanggung jawab atas gangguan semua layanan di BSI.
Parahnya lagi, kelompok ransomware LockBit mengklaim telah mencuri 1,5 TB data milik BSI. Di antara 15 juta data pengguna (nasabah) dan password untuk akses internal dan layanan.
Lalu, siapakah LockBit? LockBit sendiri dikenal sebagai nama kelompok hacker yang paling produktif dan ganas dalam melancarkan serangan ransomware.
Laman The Guardian mengungkapkan,
kelompok peretas LockBit diketahui juga menjual jenis malware (ransomware) ke operator lain untuk keuntungan finansial. Hal ini dikenal sebagai Ransomware as a Service (Raas).
“Kami telah melihat tren nyata dalam geng ransomware yang mengoperasikan 'model afiliasi' di mana mereka menjual akses ke malware ini di dark web dengan imbalan pembayaran, seringkali dalam mata uang kripto,” kata Toby Lewis, kepala analisis ancaman global di Darktrace, perusahaan keamanan siber Inggris.
Lewis menambahkan, strategi jahat itu membantu LockBit untuk menskalakan operasinya seperti waralaba. Disebutkan juga kalau operator LockBit tidak hanya mengenkripsi file tetapi juga melakukan pemerasan ganda, di mana mereka mencuri data dan mengancam akan merilisnya secara online.
Kelompok ransomware LockBit, seperti kebanyakan grup ransomware juga menuntut pembayaran dalam bentuk kripto. Bitcoin menjadi metode pembayaran yang disukai secara historis tetapi menurut Sophos, sebuah perusahaan keamanan siber Inggris, LockBit menuntut pembayaran dalam aset digital lainnya.
"Banyak kelompok seperti hacker LockBit telah beralih ke monero cryptocurrency, karena peningkatan anonimitas yang diberikannya,” kata Peter Mackenzie, yang memimpin tim respons insiden di Sophos.
Kembali ke BSI, pegiat keamanan siber di Indonesia melalui akun Twitter @paijodirajo menyebut, kendati layanan BSI sudah mulai normal sejak Kamis lalu, ternyata urusan BSI dg kelompok hacker penyerangnya, LockBit ransomware, belum selesai.
"Diduga BSI menolak membawar tebusan (ransom) dan melakukan recovery sendiri," cuit akun Twitter tersebut.
Dia menambahkan, saat ini LockBit ransomware juga menebar ancaman. Jika dalam tiga hari BSI tidak membayarkan uang tebusan, mereka akan menyebarkan 15 juta data nasabah yang diklaim telah mereka kuasai. "Waktunya sedang dihitung mundur," tulis akun tersebut.
Sementara terkait rumor bahwa BSI sedang dalam sandera LockBit ransomware, sejauh ini pihak BSI belum memberikan tanggapan.