JawaPos.com - Dalam pencapaian yang luar biasa, Google DeepMind, anak perusahaan Alphabet (GOOGL), telah memanfaatkan kekuatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memprediksi struktur lebih dari dua juta material baru. Tonggak sejarah ini diterbitkan dalam jurnal sains bergengsi Nature.
Dalam jurnal tersebut, temuan baru oleh AI DeepMind disebut memiliki potensi untuk membentuk kembali berbagai industri dengan meningkatkan produksi baterai, panel surya, dan chip komputer secara signifikan serta banyak lagi hal yang bahkan tidak bisa diprediksi manusia.
Secara tradisional, penemuan dan sintesis material baru memakan biaya dan waktu, seringkali memakan waktu satu dekade atau lebih. Namun, AI inovatif DeepMind, yang dilatih berdasarkan data dari Materials Project, sebuah kelompok penelitian internasional yang didirikan pada tahun 2011, telah berhasil memprediksi struktur dari hampir 400.000 desain material hipotesis.
Terobosan ini diharapkan dapat mempersingkat jangka waktu pengembangan material yang biasanya memakan waktu 10 hingga 20 tahun. Demikian dilansir via Reuters.
Alat Pembelajaran Mendalam GNoME, komponen penting dari gudang senjata DeepMind, mengidentifikasi 2,2 juta kristal anorganik baru, dengan 380.000 di antaranya diidentifikasi sebagai kristal paling stabil untuk penelitian eksperimental.
Akurasi prediksi ini mencakup stabilitas struktur kristal, seperti yang ditunjukkan oleh penemuan 52.000 senyawa berlapis baru yang mirip dengan graphene dan 528 konduktor potensial litium-ion, yang merupakan 25 kali lebih banyak dibandingkan penelitian sebelumnya.
Untuk memfasilitasi kemajuan lebih lanjut, DeepMind mengambil pendekatan kolaboratif dengan membagikan kumpulan datanya yang luas kepada komunitas riset melalui Proyek Material Generasi Berikutnya. Data tersebut mencakup seluruh penemuan dan prediksi GNoME, memberikan para peneliti akses bebas untuk mengeksplorasi dan bereksperimen dengan harta karun struktur material yang baru ditemukan.
Lompatan signifikan menuju sintesis material yang efisien telah dimungkinkan melalui kolaborasi DeepMind dengan Berkeley Lab, yang menghasilkan terciptanya laboratorium robotik. Laboratorium otonom ini berhasil mensintesis 41 material yang baru ditemukan, menunjukkan potensi transformatif AI dalam sintesis eksperimental.
Ekin Dogus Cubuk, ilmuwan peneliti di DeepMind, menyatakan harapannya akan peningkatan substansial dalam eksperimen, sintesis otonom, dan model pembelajaran mesin. Optimisme yang sama juga dirasakan oleh Kristin Persson, direktur Proyek Material, yang menekankan perlunya memperpendek jadwal pengembangan material.
Meskipun industri cenderung berhati-hati terhadap kenaikan biaya, terobosan kolaboratif yang didorong oleh AI dapat mengubah dinamika, sehingga berpotensi mengurangi waktu yang diperlukan agar material baru menjadi hemat biaya.
Konvergensi AI dan ilmu material yang ditunjukkan oleh pencapaian DeepMind mewakili percepatan radikal dalam perkembangan teknologi. Dampaknya terhadap industri seperti penyimpanan energi, elektronik, dan lainnya akan membuka jalur inovasi yang tak terhitung.