alexametrics

Pandemi dan Transformasi Pascakrisis

Oleh Badri Munir Sukoco*
28 Desember 2020, 16:16:46 WIB

SEBAGIAN besar resolusi tahun baru 2020 penduduk dunia cenderung tidak terpenuhi, kecuali ”liburan panjang” di rumah bersama keluarga. Tanpa terasa, hampir sembilan bulan semua aktivitas sekolah, kuliah, bahkan kerja harus dilakukan secara online dari kediaman masing-masing. Tidak hanya bagi bangsa, Covid-19 menjadi isu sentral bagi semua pemerintahan. Target utamanya adalah meminimalkan penderita (kesehatan) dan mengoptimalkan pertumbuhan (ekonomi) sampai dapat dikendalikan melalui vaksin dan obat yang efektif.

Covid-19 dan Dampaknya

Covid-19 mengakibatkan ekonomi turun hingga 4,5 persen dengan nilai USD 8,1 triliun hingga USD 15,8 triliun secara global. Untuk Indonesia, penurunan ekonomi mencapai -5,32 persen pada triwulan II dan -3,49 persen pada triwulan III.

Ekonomi Indonesia pada triwulan III 2020 turun Rp 309,5 triliun dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan resesi yang dihadapi Indonesia nyata adanya. Menurut BPS, di antara empat sektor yang berkontribusi besar bagi perekonomian Indonesia, hanya pertanian yang tumbuh positif. Manufaktur, perdagangan, dan konstruksi pada triwulan II serta III tumbuh negatif.

Tutupnya (terbatasnya) perbatasan dan karantina menjadikan volume perjalanan berkurang drastis. International Air Transport Association (IATA) melaporkan penurunan volume penerbangan hingga 66 persen di seluruh dunia. Sementara itu, World Trade Organization (WTO) melaporkan penurunan volume perdagangan dunia hingga 32 persen. Penurunan ekonomi yang diikuti turunnya volume transportasi, baik di darat, laut, maupun udara, mengakibatkan membaiknya kondisi udara di seluruh dunia. Misalnya, berkurangnya polusi udara hingga 50 persen di New York, sedangkan di Indonesia mencapai 42 persen ketika PSBB diberlakukan. Secara agregat, terjadi penurunan 30–60 persen untuk NO2 dan CO di seluruh dunia. Namun, di sisi lain, dunia mengalami peningkatan limbah biomedis dan peralatan protokol kesehatan seiring meningkatnya penderita Covid-19.

Prospek 2021

Kita patut bersyukur bahwa dampak Covid-19 terlokalisasi pada aspek kesehatan dan ekonomi. Tidak merembet pada aspek kehidupan yang lain. Hal itu menjadikan penanganan krisis Covid-19, baik di Indonesia maupun dunia, relatif lebih mudah dibandingkan bila terjadi krisis multimensi.

Semua sepakat bahwa vaksin Covid-19 adalah game changer guna memulihkan krisis kesehatan dan perekonomian. Aktivitas perekonomian suatu negara akan pulih ketika minimal 70 persen penduduk tervaksinasi. Perdagangan bilateral maupun multilateral akan terjadi ketika 70 persen atau lebih penduduk negara yang bertransaksi tervaksinasi. Saat ini semua pemerintahan berlomba untuk mendapatkan vaksin. Seperti biasa, negara maju menjadi pemenangnya. Meskipun produsen vaksin yang tersedia makin beragam (Indonesia dengan vaksin Merah Putih), tantangan terbesarnya adalah memastikan 70 persen penduduk Indonesia tervaksinasi kurang dari setahun agar efektif dalam mencegah Covid-19.

Secara paralel, pemulihan ekonomi nasional (PEN) di bawah koordinasi Gugus Tugas PEN tetap berlangsung. Government spending penting dalam memulihkan perekonomian dan secara bertahap menunggu pulihnya investasi maupun aktivitas ekspor dan impor. Besarnya kontribusi konsumsi domestik (58,6 persen) pada PDB Indonesia perlu menjadi prioritas, khususnya melalui social safety net yang dikeluarkan pemerintah. Pada APBN 2021 dialokasikan Rp 260,1 triliun (13,3 persen), jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata negara lain yang mengalokasikan hingga 20 persen agar konsumsi rumah tangga meningkat. Dengan mengurangi belanja pos ekonomi dan pelayanan umum hingga 4,2 persen, re-financing bagi UMKM yang terdampak sangatlah strategis mengingat besarnya kontribusi UMKM pada PDB Indonesia (60,4 persen). Menurut McKinsey, dibutuhkan 3–4 tahun untuk pulihnya ekonomi seperti akhir 2019.

Baca juga: Kebangkitan Inovasi Indonesia

Perubahan pola hidup juga mengubah profil perekonomian pascapandemi, khususnya akselerasi Industrial Revolution 4.0. Pentingnya kesehatan menjadikan gaya hidup yang lebih sehat mengedepan. Digitalisasi, baik dalam bekerja maupun mengonsumsi barang dan jasa, akan semakin dominan. Proses pendidikan akan berubah. Minimal blended learning menjadi new normal dan revitalisasi infrastruktur kampus dan sekolah perlu dilakukan. Penggunaan big data dalam kebijakan nasional yang lebih tepat sasaran akan meningkat. Mobilitas yang lebih rendah, bila online dan stay at home bisa dilakukan, menjadikan industri transportasi dan akomodasi perlu adaptasi besar-besaran.

Terakhir, banyak negara yang mentransformasi diri menjadi maju ketika krisis. Contohnya, Korea Selatan pasca-Perang Korea atau Jepang pasca-Perang Dunia II. Program kerja kelima Kabinet Indonesia Maju adalah mentransformasi ekonomi Indonesia. Tingginya ketergantungan pada bahan baku obat dan alat kesehatan dari luar negeri (mencapai 90 persen) sangatlah rentan bagi Indonesia, apalagi ketika pandemi yang menjadikan semua kepala negara mementingkan kepentingan domestik.

Baca juga: Merdeka dari Resesi Ekonomi

Dalam enam bulan terakhir, banyak karya anak bangsa yang hadir menjawab permasalahan kesehatan di Indonesia. Memfasilitasi tumbuhnya ekosistem inovasi dan menopang tumbuhnya industri kesehatan yang lebih mandiri menjadi awal dan kunci transformasi ekonomi Indonesia yang berdaya saing dan bernilai tambah tinggi. (*)

*) Badri Munir Sukoco, Direktur Sekolah Pascasarjana Unair

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads