
Ismail Fahmi
Oleh: Ismail Fahmi, Ph.D. Founder Drone Emprit
BERTAHUN-tahun yang lalu, di rumah saya di Belanda, seorang anak muda datang berkunjung. Itu pertemuan pertama saya dengannya. Saya saat itu telah menyelesaikan PhD selama 5 tahun, kemudian telah bekerja di Amsterdam selama 5 tahun berikutnya, dan tengah menyiapkan diri untuk pulang ke Indonesia.
Anak muda itu bernama Ibrahim Arief. Panggilannya Ibam.
Dia datang dengan pertanyaan yang jujur dan sederhana. "Mas, apa yang membuat Mas ingin pulang ke Indonesia? Dan kalau anak muda seperti saya, yang sedang berkarier di luar, apakah harus pulang juga?"
Saya jawab apa adanya. Untuk saya pribadi, saya memang ingin pulang. Belanda sudah maju, infrastrukturnya sudah terbangun, sistemnya sudah rapi. Indonesia yang sedang membangun, yang masih penuh kekurangan di sana-sini — di situlah saya merasa kehadiran saya lebih bermakna. Tetapi untuk anak-anak muda seperti Ibam, saya memberikan saran yang berbeda: berkaryalah dulu di luar, kumpulkan pengalaman, bangun jaringan, dan ikutilah suara hati ketika waktunya tiba untuk pulang.
Ibam, seperti yang kita tahu sekarang, akhirnya mengikuti suara hatinya. Dia pulang ke Indonesia. Dia menolak tawaran dari Facebook UK yang bernilai Rp5,1 miliar per tahun. Dia memilih mengabdi pada digitalisasi pendidikan Indonesia.
Dan hari ini, di usia produktifnya, dia berdiri di kursi terdakwa — dituntut 15 tahun penjara dan denda Rp16,9 miliar dalam kasus pengadaan Chromebook Kemendikbudristek.
Saya menulis artikel ini karena saya merasa wajib. Bukan karena saya membela Ibam secara personal. Tetapi karena kasus ini — seperti yang ditunjukkan oleh data Drone Emprit — telah menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari nasib satu orang. Kasus ini menjadi cermin ketakutan satu generasi talenta digital Indonesia.
Selama periode 23 Maret hingga 22 April 2026, Drone Emprit mencatat 11.426 mentions dan 13.140.377 interaksi mengenai Ibrahim Arief di enam kanal: Twitter/X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan media online. Angka ini menunjukkan bahwa kasus ini bukan sekadar berita hukum biasa — ini adalah gelombang perhatian publik berskala nasional.
Yang menarik dan penting untuk dipahami adalah polarisasi tajam antara media arus utama dan media sosial:

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
