Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 31 Juli 2024 | 20.45 WIB

Momentum dari Garuda Nusantara

RIZKY SUGIANTO PUTRI

TIM nasional (timnas) Indonesia menjadi juara di ajang Piala AFF U-19 2024 pada Senin (29/7/2024) malam. Momen tim Garuda Nusantara, julukan timnas U-19, tersebut menjadi sorotan penting dalam perkembangan sepak bola di negeri kita saat ini. Perlu digarisbawahi, pembinaan yang baik sejak usia dini adalah kunci untuk menciptakan generasi pemain yang unggul. Salah satu langkah penting dalam mencapai tujuan tersebut adalah dengan model pencarian bakat yang tepat.

Pencarian bakat yang sistematis harus dimulai dari level akar rumput, yaitu sekolah sepak bola dan klub-klub lokal di seluruh penjuru tanah air. Skema pencarian bakat juga harus melibatkan berbagai pihak. Mulai pelatih di sekolah sepak bola hingga tim scouting profesional.

Selanjutnya, skrining yang tepat dan terstruktur akan memastikan semua bakat dapat ditemukan dan dibina dengan baik. Pelatihan yang komprehensif dan berkelanjutan harus diimplementasikan agar para pemain muda dapat berkembang sesuai dengan potensinya.

Seluruh elemen perlu bekerja sama untuk menciptakan database pemain muda berbakat, yang dapat dipantau secara berkala. Selain itu, pertandingan antarsekolah dan klub lokal di berbagai kelompok umur harus rutin diadakan sebagai media observasi dan penilaian para pemain.

Peran Penting Diaspora

Selain itu, kita tidak boleh melupakan para pemain diaspora yang memiliki darah Indonesia. Mereka adalah aset berharga yang sering kali luput dari perhatian. Monitoring yang baik terhadap pemain diaspora harus dilakukan melalui kedutaan besar di luar negeri.

Setiap anak berdarah Indonesia, di mana pun mereka berada, berhak membela tanah air. Tidak boleh ada diskriminasi antara pemain lokal dan diaspora. Semua yang memiliki semangat, tekad, dan talenta untuk sepak bola Indonesia harus diberi kesempatan yang sama.

Untuk mencapai hal itu, PSSI perlu menjalin kerja sama dengan komunitas sepak bola di negara-negara para diaspora Indonesia tinggal. Mekanisme seleksi di luar negeri bisa diadakan secara berkala. Kemudian, pemain berbakat yang terpilih dapat terintegrasi dengan program pembinaan yang berjalan di tanah air. Tidak lupa, dukungan dari keluarga dan komunitas diaspora juga sangat penting. Terutama dalam memotivasi pemain muda untuk tetap berkomitmen pada timnas Indonesia.

Perspektif Antropologi Ragawi

Dalam proses pembinaan pemain, penting juga memahami tahapan tumbuh kembang mereka. Pemahaman mendalam dari perspektif antropologi ragawi dapat membantu merancang program latihan yang sesuai dengan usia dan fase perkembangan pemain.

Misalnya, pada kelompok umur U-12, fokus utama harus pada pengembangan koordinasi motorik dan teknik dasar. Pada tahap U-16, pembinaan harus lebih intensif pada pengembangan fisik dan variasi game plan. Selanjutnya, kelompok umur U-19 dan U-21 memerlukan pendekatan yang lebih kompleks, mencakup aspek fisik, mental, dan strategi permainan.

Tumbuh kembang fisik dan psikologis setiap pemain berbeda-beda sehingga pendekatan yang personal dan adaptif diperlukan. Pelatih harus mampu mengenali keunikan setiap pemain dan memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan individual mereka.

Selain itu, program nutrisi, pola diet, recovery management, hingga jaminan kesehatan bagi atlet yang mengalami cedera harus diperhatikan. Sebab, sepak bola saat ini membutuhkan elemen kompleks dari sport science, yang dapat memengaruhi proses para pemain mencapai performa maksimal mereka ke depannya.

Masa Depan

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore