Memahami potensi dampak perubahan iklim diperlukan langkah antisipasi atau dikenal dengan istilah adaptasi perubahan iklim. Adaptasi perubahan iklim diarahkan untuk memanfaatkan dampak positif dan meminimimalkan dampak negatif perubahan iklim. Kegiatan adaptasi dapat dilakukan melalui perbaikan insfrastruktur maupun melalui pengembangan kapasitas petani dan komoditas.
Adapun penyebab adanya perubahan Iklim adalah melalui berbagai faktor yang menyebabkan peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Gas-gas rumah kaca utama yang menyebabkan perubahan iklim adalah karbon dioksida (CO2), metan (CH4), dan nitrus oksida (N2O).
Berikut adalah beberapa sumber utama gas-gas rumah kaca tersebut:
1. Deforestasi dan Kebakaran Hutan: Proses deforestasi, termasuk pembabatan hutan secara besar-besaran dan kebakaran hutan, menyebabkan pelepasan besar-besaran karbon dioksida ke atmosfer. Pohon-pohon yang ditebang dan terbakar melepaskan karbon yang telah disimpan dalam biomassa pohon tersebut.
2. Konversi Daerah Lahan Basah, Gambut, dan Mangrove: Konversi daerah lahan basah seperti rawa dan gambut menjadi lahan pertanian atau perkotaan juga menyebabkan pelepasan karbon yang signifikan ke atmosfer. Proses degradasi gambut dan pengeringan lahan basah menyebabkan pelepasan metana, yang merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat daripada CO2.
3. Pertanian Padi: Produksi padi secara intensif dapat menyebabkan pelepasan metana ke atmosfer melalui proses anaerobik dalam tanah yang tergenang air (anaerobic decomposition). Proses ini terutama terjadi pada pertanian padi sawah.
4. Peternakan: Praktik peternakan, terutama peternakan besar yang menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar, dapat menyebabkan produksi metana melalui proses pencernaan hewan dan penguraian limbah.
5. Pemakaian Pupuk: Pemakaian pupuk nitrogen dalam pertanian menyebabkan pelepasan nitrus oksida ke atmosfer. Nitrus oksida adalah gas rumah kaca yang kuat dan memiliki potensi pemanasan global yang tinggi.
Dengan demikian, aktivitas manusia seperti deforestasi, konversi lahan, pertanian intensif, dan praktik peternakan yang tidak berkelanjutan berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer, yang pada gilirannya menyebabkan perubahan iklim global.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa perubahan iklim memiliki dampak yang signifikan pada ketahanan pangan di Indonesia. Perubahan iklim mengancam produktivitas pertanian melalui perubahan pola curah hujan, suhu ekstrem, dan bencana alam, serta meningkatkan risiko ketidakstabilan pasokan pangan.
Selain itu, transformasi ekonomi yang mengakibatkan alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian juga menimbulkan tantangan baru dalam mempertahankan ketahanan pangan. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dalam mengembangkan kebijakan dan praktik yang berkelanjutan untuk meningkatkan produksi pangan, mengelola sumber daya alam, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim.
Dengan pendekatan holistik dan kolaboratif ini, diharapkan Indonesia dapat membangun sistem pangan yang kuat dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.
*) Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
