Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Maret 2024 | 18.39 WIB

Perbedaan Awal Ramadan: Gak Bahaya Ta?

ABDUL MU’TI - Image

ABDUL MU’TI

TAHUN ini umat Islam memulai puasa Ramadan pada hari yang berbeda. Warga Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab hakiki wujudulhilal untuk menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah mulai berpuasa pada Senin (11/3). Muhammadiyah tidak sendiri. Tidak sedikit umat Islam yang bukan Muhammadiyah juga sudah berpuasa pada Senin. Sementara sebagian umat Islam yang menggunakan metode imkan al-ru’yah mulai berpuasa pada Selasa (12/3).

Tahun 1445 H, umat Islam Indonesia akan merayakan Idul Fitri dan Idul Adha pada hari yang sama. Berbeda dengan tahun 1444 H, umat Islam mulai berpuasa pada hari yang sama, tetapi berbeda perayaan Idul Fitrinya (dan Idul Adha). Meskipun demikian, ada kemungkinan sebagian umat yang mengikuti Arab Saudi (Kalender Ummul Qura) akan merayakan Idul Adha lebih awal. Jika pemerintah menggunakan kriteria MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) dengan posisi hilal di atas 3 derajat dan elongasi 6,4 serta Muhammadiyah mulai menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) tahun 1446 H dan 1447 H, kemungkinan terjadi (lagi) perbedaan awal Ramadan, Idul Fitri, atau Idul Adha.

Perbedaan Ijtihad

Semua umat Islam sepakat bahwa puasa dilaksanakan 1 Ramadan, Idul Fitri 1 Syawal, dan Idul Adha 10 Zulhijah. Akan tetapi, realitasnya, sering kali umat Islam merayakannya pada hari yang berbeda.

Yusuf Qaradhawi dalam buku Al-Shahwah al-Islamiah: Baina al-Ikhtilaf al-Masyru’ wa al-Tafarruq al-Madhmum (1990) menjelaskan, berbagai perbedaan di dalam tubuh umat Islam terjadi karena tiga sebab: alamiah, ilmiah, dan amaliah. Perbedaan alamiah terjadi karena ”fitrah” bawaan (by nature), misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, dan sebagainya. Sebab, ilmiah terkait dengan ijtihad dan metode dalam memahami ajaran agama. Sebab, amaliah terjadi karena perbedaan konteks, tujuan, pilihan strategi, dan sebagainya.

Perbedaan awal puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha terjadi karena sebab ilmiah (ijtihad) yang berpangkal pada tafsir: hilal, hisab, dan rukyat (ru’yah) Nabi Muhammad serta para sahabat. Sebagian berpendapat bahwa ru’yah bi al-aini: melihat hilal secara langsung hukumnya wajib karena merupakan sunah dan wilayah taabbudi (ibadah). Sebagian berpendapat bahwa Nabi Muhammad dan para sahabat melihat hilal secara langsung karena belum menguasai ilmu falak (hisab). Rukyat bukan merupakan sunah dan ibadah.

Dalam masalah Idul Adha, selain karena perbedaan metode penetapan, juga terkait dengan tafsir makna Hari Arafah. Semua sepakat, Hari Arafah terjadi pada 9 Zulhijah. Akan tetapi, umat Islam berbeda dalam menetapkan kapan Hari Arafah. Sebagian berpendapat Hari Arafah adalah ketika jemaah haji berwukuf di Arafah (9 Zulhijah): mengikuti kalender Arab Saudi. Sebagian lainnya berpendapat, Hari Arafah tidak terkait dengan wukuf di Arafah. Penetapan Arafah dan Idul Adha didasarkan atas hisab atau rukyat di negeri masing-masing.

Gak Bahaya Ta

Perbedaan dalam beragama dan pemahaman agama merupakan hal yang biasa. Hal demikian sudah terjadi sejak para sahabat Nabi. Perbedaan akan senantiasa terjadi karena kehendak Ilahi: ”... kalau sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu akan dijadikan umat yang satu... ” (QS Al-Maidah [5]:48).

Dalam sejarah Islam, perbedaan menjadi salah satu sebab utama perpecahan: fitnah, adawah (permusuhan), dan pertumpahan darah. Hal demikian terjadi karena tiga faktor. Pertama, klaim kebenaran mutlak suatu pendapat (truth claim) dan menyalahkan yang lain dengan penghakiman teologis: kafir, sesat, dsb. Dalam sejarah, sikap ekstrem (tatharruf) dalam beragama merupakan masalah serius yang berdampak hingga saat ini.

Kedua, ”demokratisasi” agama dan keyakinan berdasar kuantitas: mayoritas vs minoritas. Paham yang paling banyak diikuti masyarakat (mainstream) dianggap (paling) benar. Mereka yang di luar mainstream dicap sebagai splinters, cults, deviants, dan lain-lain yang semua berkonotasi salah, sesat, merusak, menyimpang, serta berbahaya. Atas nama kebersamaan (conformity), keberadaan kelompok minoritas sering diabaikan, dipinggirkan, bahkan disingkirkan.

Ketiga, regimentasi paham agama, yaitu ketika agama atau paham agama dijadikan sebagai paham resmi negara atau penguasa. Dalam sejarah, Bani Abbasiyah membawa Islam ke zaman keemasan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi, pemerintahan Bani Abbasiyah menyisakan ”noda hitam” ketika Khalifah Al-Makmun (170–218 H/785–833 M) memberlakukan mihnah terhadap masyarakat dan ulama.

Mihnah adalah skrining yang bertujuan memaksakan paham Muktazilah sebagai paham resmi dan menghukum mereka yang menentangnya. Salah satu ulama yang dipenjara akibat mihnah adalah Imam Ahmad bin Hambal (Hambali). Mihnah menjadi masalah karena intervensi atau pemaksaan penguasa terhadap keyakinan agama.

Perbedaan awal Ramadan hanyalah salah satu di antara khilafiah (perbedaan) internal umat Islam. Di bulan Ramadan umat Islam salat Tarawih dengan jumlah rakaat yang berbeda. Perbedaan awal Ramadan tidak menjadi bahaya apabila tidak ada ekstremisme, rezimentasi paham agama, intervensi atas keyakinan, dan nihilisasi atau diskriminasi terhadap minoritas. (*)


*) ABDUL MU’TI, Sekretaris UmumPP Muhammadiyah, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore