Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Februari 2024 | 17.18 WIB

Terjerembapnya Demokrasi Kita

ACHMAD MUNJID

FAKTOR Jokowi jelas sangat menentukan kemenangan telak (angka sementara berdasar hitung cepat lebih dari 55 persen!) pasangan Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024. Meski hasilnya belum final, sebagian orang kini sibuk memberikan legitimasi, sebagian lainnya menggugat berbagai kecurangan pemilu.

Efek atau Manuver Jokowi?

Oleh para pengagumnya, Jokowi diyakini sukses memimpin dua periode dengan tingkat approval sangat tinggi. Dengan slogan ’’kelanjutan”, kemenangan Prabowo-Gibran adalah bukti tak terbantah bahwa mayoritas rakyat tetap menghendaki ’’jalan Jokowi”.

Bagaimana dengan kecurangan ’’terstruktur, sistematis, dan masif” yang ditunjukkan banyak pakar, diteriakkan para guru besar dari seratusan lebih kampus, dan diungkap lewat investigasi pers hingga film Dirty Vote? Pemilu adalah rebutan kekuasaan. Mana ada pemilu bebas kecurangan?

Mungkin narasi seperti Democracy in Indonesia, from Stagnation to Regression (Thomas Power, 2020) hanyalah obsesi kelas menengah sekolahan. Kalau benar demokrasi kita jeblok, tapi mayoritas rakyat tetap memilih ’’jalan Jokowi”, mungkin demokrasi tak penting-penting amat buat mereka.

Inilah perspektif pemenang. ’’Efek Jokowi” dipakai sebagai penjelasan utama ’’kenapa” Prabowo-Gibran menang. Penjelasan itu tak banyak berguna, kecuali sebagai alat legitimasi.

Ada perspektif lain yang perlu diperhatikan lebih serius. Faktor Jokowi memang jadi kunci kemenangan Prabowo-Gibran. Bukan dalam pengertian ’’efek Jokowi”, melainkan ’’manuver Jokowi”, rekayasa, cawe-cawe. Ada manuver terang-terangan, seperti pembagian bansos dengan target elektoral.

Lebih banyak lagi manuver terselubung. Mobilisasi birokrasi di hampir semua level, skandal syarat cawapres di MK, dan pelanggaran etik ketua KPU hanya contoh paling mencolok yang kini diketahui publik. Tentu saja, ini semua bisa berlangsung karena Jokowi tidak bekerja sendirian.

Di sini saya tidak sedang menafikan prestasi Jokowi dalam urusan infrastruktur. Akibat manuver Jokowi tersebut, sejak awal jelas kontestasi Pilpres 2024 berjalan tidak fair. Kecurangan sistematis sebelum pencoblosan itulah faktor terbesar kemenangan Prabowo-Gibran. Bahkan, jika kecurangan pada saat dan setelah pencoblosan dibongkar, hasil akhir tak akan banyak berubah.

Demokrasi Terjerembap

Dengan memeriksa ’’bagaimana” kemenangan penuh rekayasa itu diraih, bagaimana hasil pemilu ini bisa diklaim sebagai representasi kehendak rakyat? Demokrasi adalah one man one vote (satu orang satu suara). Tapi, jika ada satu –apalagi banyak– orang kaya atau orang kuat dibiarkan ’’membeli” atau ’’merebut” puluhan juta suara, lain ceritanya.

Bukankah itu yang dulu dilakukan rezim Orde Baru selama puluhan tahun semasa Soeharto? Memang tidak persis sama, tapi sulit untuk ’’aja dibanding-bandingke” jika polanya sangat mirip. Beda modus, tapi plek persis modelnya. Jadi, buat apa bangsa ini jungkir balik berdarah-darah kalau akhirnya kembali ke titik nol Reformasi setelah 25 tahun?

Prabowo-Gibran menang, tapi demokrasi kita terjerembap.

Saya tidak setuju jika demokrasi dianggap sebagai urusan kelas menengah sekolahan dan bukan isu penting bagi rakyat. Para pendiri bangsa sudah memilih demokrasi sebagai prosedur partisipasi khalayak dalam pengelolaan kekuasaan supaya cita-cita kemerdekaan ’’meraih masyarakat adil makmur” terbuka untuk segenap warga. Konstitusi kita tegas soal itu. Itulah kenapa kita menggelar pemilu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore