ACHMAD MUNJID
FAKTOR Jokowi jelas sangat menentukan kemenangan telak (angka sementara berdasar hitung cepat lebih dari 55 persen!) pasangan Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024. Meski hasilnya belum final, sebagian orang kini sibuk memberikan legitimasi, sebagian lainnya menggugat berbagai kecurangan pemilu.
Efek atau Manuver Jokowi?
Oleh para pengagumnya, Jokowi diyakini sukses memimpin dua periode dengan tingkat approval sangat tinggi. Dengan slogan ’’kelanjutan”, kemenangan Prabowo-Gibran adalah bukti tak terbantah bahwa mayoritas rakyat tetap menghendaki ’’jalan Jokowi”.
Bagaimana dengan kecurangan ’’terstruktur, sistematis, dan masif” yang ditunjukkan banyak pakar, diteriakkan para guru besar dari seratusan lebih kampus, dan diungkap lewat investigasi pers hingga film Dirty Vote? Pemilu adalah rebutan kekuasaan. Mana ada pemilu bebas kecurangan?
Mungkin narasi seperti Democracy in Indonesia, from Stagnation to Regression (Thomas Power, 2020) hanyalah obsesi kelas menengah sekolahan. Kalau benar demokrasi kita jeblok, tapi mayoritas rakyat tetap memilih ’’jalan Jokowi”, mungkin demokrasi tak penting-penting amat buat mereka.
Inilah perspektif pemenang. ’’Efek Jokowi” dipakai sebagai penjelasan utama ’’kenapa” Prabowo-Gibran menang. Penjelasan itu tak banyak berguna, kecuali sebagai alat legitimasi.
Ada perspektif lain yang perlu diperhatikan lebih serius. Faktor Jokowi memang jadi kunci kemenangan Prabowo-Gibran. Bukan dalam pengertian ’’efek Jokowi”, melainkan ’’manuver Jokowi”, rekayasa, cawe-cawe. Ada manuver terang-terangan, seperti pembagian bansos dengan target elektoral.
Lebih banyak lagi manuver terselubung. Mobilisasi birokrasi di hampir semua level, skandal syarat cawapres di MK, dan pelanggaran etik ketua KPU hanya contoh paling mencolok yang kini diketahui publik. Tentu saja, ini semua bisa berlangsung karena Jokowi tidak bekerja sendirian.
Di sini saya tidak sedang menafikan prestasi Jokowi dalam urusan infrastruktur. Akibat manuver Jokowi tersebut, sejak awal jelas kontestasi Pilpres 2024 berjalan tidak fair. Kecurangan sistematis sebelum pencoblosan itulah faktor terbesar kemenangan Prabowo-Gibran. Bahkan, jika kecurangan pada saat dan setelah pencoblosan dibongkar, hasil akhir tak akan banyak berubah.
Demokrasi Terjerembap
Dengan memeriksa ’’bagaimana” kemenangan penuh rekayasa itu diraih, bagaimana hasil pemilu ini bisa diklaim sebagai representasi kehendak rakyat? Demokrasi adalah one man one vote (satu orang satu suara). Tapi, jika ada satu –apalagi banyak– orang kaya atau orang kuat dibiarkan ’’membeli” atau ’’merebut” puluhan juta suara, lain ceritanya.
Bukankah itu yang dulu dilakukan rezim Orde Baru selama puluhan tahun semasa Soeharto? Memang tidak persis sama, tapi sulit untuk ’’aja dibanding-bandingke” jika polanya sangat mirip. Beda modus, tapi plek persis modelnya. Jadi, buat apa bangsa ini jungkir balik berdarah-darah kalau akhirnya kembali ke titik nol Reformasi setelah 25 tahun?
Prabowo-Gibran menang, tapi demokrasi kita terjerembap.
Saya tidak setuju jika demokrasi dianggap sebagai urusan kelas menengah sekolahan dan bukan isu penting bagi rakyat. Para pendiri bangsa sudah memilih demokrasi sebagai prosedur partisipasi khalayak dalam pengelolaan kekuasaan supaya cita-cita kemerdekaan ’’meraih masyarakat adil makmur” terbuka untuk segenap warga. Konstitusi kita tegas soal itu. Itulah kenapa kita menggelar pemilu.

Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jadwal dan Link Live Streaming Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang Hari Ini, Kick-off 15.30 WIB di Gelora Bung Tomo
Resmi! Daftar Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang, Alex Martins Starter, Ramadhan Sananta Cadangan
Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Minta Hormati Martabat Wartawan dan Kemerdekaan Pers
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang: Alex Martins Jadi Mesin Gol Baru Green Force
Prediksi Skor Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia 2026: La Roja Siap Gagalkan Mimpi Indah Lionel Messi Cs
Jude Bellingham dan Harry Kane Cadangan! Ini Susunan Pemain Prancis vs Inggris di Perebutan Peringkat Ketiga Piala Dunia 2026
