Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Februari 2024 | 18.31 WIB

Mencegah Rezim Otoritarian yang Kompetitif

YOES C. KENAWAS

DEMOKRASI Indonesia ada di persimpangan jalan yang dapat mengubah arah gerak bangsa. Indonesia sedang berada di tubir jurang rezim otoritarian yang kompetitif. Pelanggaran etika berat yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK), berbagai intimidasi terhadap oposisi, pemberian bantuan sosial (bansos) yang masif menjelang pemilu, dan keberpihakan pejabat serta aparatur sipil negara, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, telah mengubah lapangan kompetisi elektoral menjadi tidak seimbang. Sayangnya, prospek Indonesia untuk kembali ke jalur demokrasi yang ideal tampak suram.

Rezim otoritarian yang kompetitif (competitive authoritarian regime) adalah konsep yang dikemukakan oleh ilmuwan politik Steven Levitsky dan Lucan Way (2010). Rezim tersebut didefinisikan sebagai rezim yang dipimpin pemerintahan sipil di mana berbagai institusi demokrasi hadir dan menjadi cara utama untuk memperoleh kekuasaan. Namun, kekuasaan, institusi, dan sumber daya negara disalahgunakan oleh penguasa sehingga memberi mereka keunggulan yang luar biasa atas oposisi.

Ada tiga karakteristik utama rezim otoritarian yang kompetitif. Pertama, ada kebebasan bagi oposisi untuk mencoba merebut kekuasaan melalui pemilu sehingga kompetisi antaraktor politik benar-benar terjadi. Namun, dalam rezim seperti ini sering kali terjadi berbagai kecurangan dalam pemilu seperti manipulasi daftar pemilih, surat suara, dan hasil penghitungan hasil pemilu.

Kedua, secara formal perlindungan terhadap kebebasan sipil tetap ada dan relatif dihormati. Namun, kebebasan sipil ini sering kali dilanggar oleh penguasa dan pendukungnya dengan cara-cara yang terselubung. Oposisi, pers, aktivis, dan suara kritis terhadap pemerintah sering kali mendapatkan intimidasi. Baik melalui jalur hukum formal yang diaplikasikan secara selektif dan ditargetkan, eksploitasi pasal karet, atau tekanan dengan menggunakan pendengung atau kelompok yang pro pemerintah.

Ketiga, petahana acapkali menggunakan berbagai strategi untuk membuat arena kompetisi berat sebelah. Penggunaan institusi negara secara terselubung guna mendukung kepentingan petahana, menekan pengusaha yang mendukung oposisi, intervensi terhadap institusi peradilan, pemanfaatan sumber daya negara secara terselubung, dan monopoli akses finansial dan media adalah beberapa cara yang sering kali digunakan untuk membuat lapangan permainan berat sebelah.

Sekali Indonesia menormalisasi gejala otoritarianisme yang kompetitif ini, maka akan sangat sulit bagi bangsa ini untuk keluar dari situasi tersebut. Levitsky dan Way (2010) menyebutkan ada dua faktor yang memungkinkan sebuah negara keluar dari rezim seperti itu.

Pertama, keterkaitan yang kuat dengan Barat. Asumsinya akan ada tekanan dunia internasional terhadap berbagai pelanggaran prinsip-prinsip demokrasi. Namun, situasi global hari ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan sekutu Baratnya semakin kehilangan legitimasi moral untuk mempromosikan nilai-nilai demokrasi. Pada saat yang sama, Tiongkok, yang tak peduli pada promosi demokrasi, semakin mendekatkan dirinya dengan Indonesia melalui berbagai proyek investasi dan pembangunan.

Kedua, rezim otoritarian yang kompetitif juga dapat jatuh ketika kekuatan organisasional pendukung kekuasaan petahana ternyata rapuh. Sayangnya, hari ini kekuatan organisasional pendukung petahana tampaknya semakin terkonsolidasi. Kartelisasi partai politik (Ambardi 2008; Slater 2018) telah menjadi sebuah kenormalan baru begitu pemilu usai. Pada saat yang sama, gerakan masyarakat sipil belum menemukan momentum untuk menghasilkan gelombang pergerakan yang besar dan masih terfragmentasi.

Menilik pada analisis di atas, tampaknya Indonesia tinggal menunggu waktu untuk menjadi sebuah rezim otoritarian yang kompetitif jika kondisi saat ini berlanjut. Perlu ada konsolidasi dan kerja sama antara masyarakat sipil, partai politik, dan media untuk mencegah Indonesia jatuh ke jurang otoritarianisme yang kompetitif. (*)


*) YOES C. KENAWAS, Research fellow Institute for Advanced Research Unika Atma Jaya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore