Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Februari 2022 | 02.48 WIB

Omicron dan Tantangan Vaksin Dalam Negeri

Photo - Image

Photo

YANG membedakan varian Omicron dengan varian sebelumnya adalah adanya mutasi susunan asam amino di reseptor spike protein. Reseptor tersebut berhubungan dengan kemampuan virus untuk berikatan dengan sel tubuh manusia melalui reseptor angiotensin converting enzyme 2 (ACE2). ACE2 banyak didapat di sel tubuh manusia, khususnya di saluran pernapasan.

Mutasi ini terjadi sebanyak 30 susunan asam amino dan yang mengkhawatirkan adalah 15 mutasi tersebut terjadi di bagian yang sangat penting untuk berikatan dengan sel yang diberi nama receptor binding domain (RBD). Sehingga sejak ditemukan di Afrika pada November tahun lalu, WHO segera memasukkan Omicron dalam varian of concerns karena berhubungan dengan tiga hal. Yakni kecepatan penularan, berpotensi menurunkan efektivitas vaksin, dan tingginya potensi reinfeksi bagi orang yang pernah terpapar SARS-CoV-2 sebelumnya (Suresh Kumar, 2021).

Dalam hal kecepatan penularan, varian Omicron sangat cepat dibanding varian sebelumnya. Data WHO sampai akhir Januari 2022 (dua bulan setelah Omicron), didapat 772 ribu kasus Omicron yang tersebar di 127 negara. Kondisi ini lebih cepat dari varian sebelumnya (Alpha, Delta, dan Gamma) karena terjadi kenaikan eksponensial sebesar 70 persen per pekan dibandingkan varian sebelumnya yang membutuhkan beberapa bulan untuk mencapai hal yang sama.

Sedangkan potensi menurunkan efektivitas vaksin didapatkan dari penelitian bahwa Omicron tiga kali lebih berpotensi terjadinya infeksi ulang pada orang yang belum divaksin atau vaksin dua kali tanpa booster. Sehingga sangat disarankan untuk memberikan vaksin booster (vaksin ketiga), terutama untuk orang dengan komorbid seperti usia tua atau berpenyakit tertentu.

Yang ”melegakan”, derajat keparahan varian Omicron lebih rendah daripada varian Delta. Menurut penelitian Centers for Disease Control and Prevention (CDC), didapatkan pada pasien Omicron lebih rendah 53 persen untuk opname, lebih rendah 74 persen membutuhkan perawatan ICU, dan risiko kematian menurun 91 persen dibandingkan varian Delta (Rochelle Walensky 2022).

Di Indonesia awal Februari 2022 telah tercatat pasien Covid-19 sebanyak 2.980 varian Omicron yang menyebar di banyak provinsi. Namun, hasil sequences sebagian masih menunjukkan varian Delta. Artinya, ada beberapa varian lain yang masih menyebar di masyarakat bersamaan dengan varian Omicron. Kondisi ini akan mempersulit pemetaan karena gejala klinis hampir sama.

Biaya Penanganan


Salah satu hal yang memberatkan penanganan Covid-19 adalah besarnya biaya penanganan pandemi ini. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, biaya langsung untuk menangani kasus Covid-19 di seluruh dunia tahun 2021 menyentuh angka USD 11 triliun atau Rp 158.400 triliun.

Sedangkan pemerintah Indonesia di tahun 2021 lalu telah menganggarkan lebih dari Rp 744,75 triliun untuk penanganan langsung pandemi di negeri ini. Sebagai informasi, tambahan biaya untuk membayar tagihan rawat inap saja bagi rumah sakit se-Indonesia yang merawat Covid telah menghabiskan dana Rp 94 triliun. Padahal, sebagian tagihan rumah sakit tersebut belum terbayar dan akan dibebankan di anggaran APBN tahun 2022.

Vaksinasi nasional juga menghabiskan anggaran yang cukup banyak. Menurut sebuah sumber, anggaran untuk impor vaksin Covid di tahun 2021 lebih dari Rp 58 triliun. Langkah impor vaksin ini harus diambil untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia agar segera terbentuk imunitas semesta (herd immunity). Hasilnya cukup memuaskan. Di awal tahun 2022 ini, sudah lebih dari 77,7 persen penduduk Indonesia telah mendapat dosis pertama dan 54,8 persen dosis kedua.

Namun, dengan adanya gelombang ketiga yang saat ini didominasi varian Omicron dengan tingkat penularan yang sangat tinggi, tentunya harus ditangani secara cepat. Konsekuensinya, makin banyak dana yang harus dialokasikan di APBN. Sedangkan kita tahu, salah satu sumber APBN sebagian didapat dari utang luar negeri yang semakin lama semakin meningkat, yang mencapai Rp 6.625,43 triliun dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 40,84 persen. Sehingga mendapat kritik para ahli ekonomi tentang besarnya risiko utang bila terjadi guncangan ekonomi dunia.

Percepat Vaksin Merah Putih


Maka, cara terbaik yang dapat dilakukan bangsa kita dalam pencegahan Covid-19 sekaligus menekan biaya penanganannya adalah cara klasik. Yakni selalu meningkatkan disiplin protokol kesehatan dan percepatan imunisasi. Peningkatan kedisiplinan perlu digerakkan lagi karena penurunan kasus dalam 3–4 bulan lalu telah terlenakan dan merasa seolah Indonesia sudah bebas dari pandemi.

Sebenarnya kita tetap bisa berjalan seirama dengan pola persebaran Covid-19 yang sangat dinamis. Protokol kesehatan, terutama pemakaian masker saja, bila dilakukan secara disiplin, tidak hanya bisa mengurangi penularan penyakit. Tapi juga bisa menurunkan pengeluaran dana bangsa kita karena tidak terpakai untuk pembiayaan langsung.

Sedangkan pemberian vaksin booster ketiga berharap dipenuhi dari vaksin produksi dalam negeri sehingga bisa menekan keluarnya devisa negeri ini karena impor. Kita bisa memahami proses pembuatan vaksin Covid-19 ini sangat rumit. Karena tidak hanya harus dimulai dari nol, yakni membuat platform sendiri pada vaksin sebelumnya/selain Covid-19, kita bisa mendapat lisensi dari luar negeri dan tinggal memproduksinya. Hal lain, uji klinis yang harus diberikan kepada relawan yang belum divaksin di saat sebagian besar penduduk Indonesia sudah divaksin menjadi tantangan tersendiri.

Tantangan produksi vaksin lainnya adalah berubahnya lembaga penelitian terkemuka yang berkecimpung di bidang Covid-19 yang telah digabung menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Apalagi, ketua Dewan Pengarah BRIN adalah ketua partai politik penguasa tanpa reputasi riset akademik yang memadai sehingga menjadi sasaran kritik di awal berdirinya BRIN. Itu yang harus dijawab dengan kerja nyata. Salah satunya adalah mempercepat produksi Vaksin Merah Putih lebih cepat dari rencana semula. (*)




*) BADRUL MUNIR, Dosen neurologi FK Universitas Brawijaya, dokter di RS Saiful Anwar Malang

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore