
Photo
RAMADAN bulan penuh berkah. Umat Islam berlomba memperbanyak amal ibadah, termasuk sedekah. Tak jarang, ”perlombaan” bersedekah memancing problem sosial baru, yaitu endemi pengemis.
Meningkatnya jumlah pengemis tak jarang dikoordinasi oleh jaringan mafia pengemis. Sindikat ini sengaja mendatangkan orang, termasuk anak-anak dari kampung, untuk menjadi pengemis musiman selama Ramadan, utamanya mendekati Lebaran. Pada bulan ini, para pengemis mendulang banyak rupiah. Rata-rata mencapai Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per hari. Bahkan bisa lebih.
Uniknya, di antara para pengemis musiman, tak semua memiliki latar belakang miskin secara ekonomi. Sebab, secara umum mereka masih dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok untuk mencapai standar hidup layak di kampung halamannya (Emil Salim, 1981).
Fenomena sosial semacam ini tak hanya terjadi di kota-kota besar Indonesia. Kisah para pengemis kaya bisa ditemukan di sejumlah negara. Di antaranya, India, China, Inggris, Malaysia, Amerika, maupun Uni Emirat Arab. Di Kota Mumbai, India, para pengemisnya terkenal kaya-kaya. Seorang pengemis bernama Massu atau Malana, 60, punya penghasilan mengemis setara Rp 400 ribu per hari. Dia mengemis mulai pukul 08.00 hingga 15.00. Dari penghasilan mengemisnya, Malana berhasil memiliki investasi bangunan properti senilai Rp 500 juta.
Para pengemis di China pun demikian. Contohnya di Kota Nanking. Para pengemis bisa memperoleh penghasilan Rp 15,8 juta dalam sebulan. Mereka mengemis selama delapan jam sehari. Sebagaimana dilansir surat kabar Sin Chew, sekitar 80 persen di antara para pengemis di Kota Nanking sebenarnya tidak miskin.
Di Inggris, ada seorang pengemis yang memiliki tempat tinggal senilai Rp 4,5 miliar di sebelah barat London. Pengemis ini memperoleh penghasilan Rp 762 juta setiap tahun dari mengemis. Sebuah jumlah yang sangat fantastis. Sementara itu, di Kota Johor Bahru, Malaysia, ada seorang pengemis perempuan berusia 73 tahun yang memiliki tiga rekening bank berisi ribuan ringgit. Pengemis ini juga mempunyai sertifikat saham senilai 16,1 juta ringgit di Amanah Saham Bumiputra.
Ramadan sebagai bulan memperbanyak amal kebaikan menjadi magnet bagi pengemis musiman untuk melakukan aksinya. Pengemis ini, yang dalam bahasa arabnya adalah tasawwul, meminta-minta bukan untuk kemaslahatan orang banyak. Melainkan untuk kepentingan pribadi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Umar disebutkan, Rasulullah bersabda, ”seseorang yang senantiasa meminta-minta kepada orang lain, akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya”.
Pesan agama jelas bahwa kita harus menghindari perbuatan meminta-minta untuk kepentingan pribadi. Namun, pesan moral saja tidak cukup untuk mengatasi problem pengemis yang akut di negara kita. Merazia dan memidanakan pengemis juga bukan cara yang efektif mengatasi problem ini. Butuh pemikiran serius dan pemetaan mendalam.
Ada beberapa strategi yang bisa ditempuh. Pertama, intervensi individual. Para pengemis, terutama yang permanen, merupakan kelompok miskin kota yang mengalami kondisi deprivasi atau akses yang terbatas terhadap berbagai fasilitas layanan publik. Misalnya, kesehatan, pendidikan, air bersih, dan sanitasi.
Keterbatasan ini lama-kelamaan akan melahirkan perasaan tidak berdaya (helpless) sehingga pola pikir mereka menjadi jangka pendek, sulit untuk berubah, kurang gigih dalam berusaha, serta ingin cepat mendapatkan hasil dengan cara-cara yang instan dan mudah. Dengan kondisi semacam ini, perlu pembongkaran mindset pengemis untuk memutus budaya mengemis yang telah mengakar. Membongkar problem kognitif (pola pikir) sebagai akar dari budaya mengemis merupakan kunci mengatasi persoalan pengemis.
Agar proses rekonstruksi mindset lebih efektif, para pengemis perlu dimasukkan ke semacam ”motivation camp” untuk menumbuhkan harga diri (self-esteem), jati diri, kehormatan dan kemuliaan diri, kebanggaan sebagai makhluk yang mulia di sisi Allah SWT dan manusia. Perlu juga ditumbuhkan keyakinan bahwa sebenarnya setiap mereka mempunyai kemampuan dan keterampilan (self-efficacy) yang bisa dilatih dan dikembangkan.
Sikap represif berupa memidanakan pengemis sebenarnya hanya akan menyuburkan konflik internal dalam diri seseorang. Dan konflik-konflik inilah yang akan mendorong seseorang melakukan tindak asosial.
Kedua, intervensi kultural. Artinya, setiap kelompok pengemis terbelenggu oleh budaya kemiskinan yang sering kali diturunkan dari generasi ke generasi. Budaya kemiskinan ini seperti tidak adanya perencanaan hidup, tidak dapat menunda kesenangan, dan berorientasi pada kepentingan jangka pendek. Sehingga urusan pendidikan bukan prioritas bagi mereka. Kesadaran pentingnya investasi jangka panjang berupa pendidikan sangat kurang.
Dari titik inilah relevan dilakukan intervensi kultural bagi para kelompok pengemis. Misalnya, melalui program empowering sebagai upaya menumbuhkan kemandirian, self-efficacy, dan self-reliance. Bukan hanya orang tua, anak-anak pengemis juga harus menjadi sasaran pemberdayaan, misalnya dengan pemberian beasiswa dan kemudian menempatkan mereka di asrama yang jauh dari lingkungan orang tuanya, agar tumbuh budaya baru yang jauh dari budaya mengemis. Cara ini diperlukan untuk memotong kultur generasi yang sudah mengakar dalam keluarga pengemis.
Baca Juga: Lily Yunita Kirim Roti Tiap Hari sebelum Tipu Rp 48,9 Miliar
Ketiga, intervensi struktural. Artinya, intervensi terhadap kebijakan struktural sangat diperlukan. Misalnya, memprioritaskan terbukanya akses bagi kelompok pengemis terhadap pendidikan, kesehatan, air bersih, perumahan, listrik, dan program-program welfare lainnya. Sebagai manusia yang memiliki martabat dan derajat tinggi, sudah selayaknya para pengemis merdeka dari belenggu cara pandang, mental, sikap, dan perilaku yang negatif. Bebas dari budaya meminta, lepas dari bayang-bayang kultur kemiskinan, dan adil mendapatkan pelayanan sebagaimana masyarakat dari golongan yang lain. (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
