
Photo
KITA patut bersyukur kondisi perekonomian nasional pada triwulan III 2020 mulai menunjukkan kinerja yang lebih baik. Baik secara tahunan (YoY) maupun secara triwulan (QoQ). Perekonomian nasional pada triwulan III 2020 terhadap triwulan III 2019 masih mengalami kontraksi pertumbuhan minus 3,49 persen (YoY). Tetapi, mulai membaik dari triwulan sebelumnya -5,32% (YoY). Sedangkan terhadap triwulan II 2020, sudah meningkat 5,05 persen (QtQ). Bahkan, perekonomian nasional mulai menunjukkan perbaikan yang signifikan pada triwulan III 2020. Titik balik pemulihan ekonomi di triwulan III 2020 ini tecermin dari membaiknya berbagai sektor ekonomi.
Seluruh komponen pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren meningkat. Membaiknya indikator ekonomi dari sisi lapangan usaha menunjukkan kinerja ekonomi mulai membaik. Bahkan, secara triwulan (QtQ), seluruh lapangan usaha menunjukkan tren positif. Secara tahunan (YoY), beberapa lapangan usaha masih tumbuh positif, di antaranya jasa kesehatan dan kegiatan sosial; infokom; serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang. Sektor lain, walaupun masih kontraksi, sudah menunjukkan perbaikan.
Struktur PDB Indonesia menurut pengeluaran sampai dengan triwulan III 2020 masih didominasi komponen konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari separo PDB, yaitu 57,31 persen. Konsumsi rumah tangga juga sudah menunjukkan tren perbaikan di triwulan III, yang sebelumnya -5,5% menjadi -4,0% di triwulan III. Perbaikan konsumsi rumah tangga itu tidak bisa dilepaskan dari belanja perlindungan sosial (perlinsos) hingga triwulan III 2020.
Data BPS juga menunjukkan terjadinya percepatan realisasi belanja negara yang meningkat cukup pesat itu berdampak signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan konsumsi pemerintah yang tumbuh 9,8% (YoY). Angka pertumbuhan belanja konsumsi pemerintah sebesar 9,8% pada triwulan III 2020 atau meningkat sangat tajam apabila dibandingkan triwulan II yang -6,9%. Peningkatan tersebut menunjukkan titik baliknya mencapai kurang lebih 17%.
Titik balik perekonomian nasional pada triwulan III 2020 harus tetap dipertahankan hingga triwulan IV atau hingga akhir 2020. Pemerintah harus mengoptimalkan sisa 1,5 bulan hingga akhir 2020. Serapan belanja perlinsos harus lebih optimal. Selain itu, tidak bisa kita mungkiri mulai terjadi perbaikan ekonomi, khususnya pada sektor riil. Perbaikan ekonomi domestik diharapkan terjadi secara bertahap. Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi fiskal dan moneter untuk pemulihan ekonomi.
Salah satu kunci akselerasi pemulihan ekonomi nasional hingga akhir tahun adalah optimalisasi penggunaan dana penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2020. Realisasi pemanfaatan dana Covid-19 dan PEN hingga 11 November 2020 baru mencapai Rp 386,01 triliun. Realisasi tersebut setara 55,5% dari pagu anggaran Rp 695,2 triliun. Perlu kerja keras untuk bisa mewujudkan alokasi anggaran hingga 100%.
Dari program PEN 2020, terdapat beberapa program yang perlu akselerasi. Kita mengapresiasi realisasi program perlinsos yang sudah mencapai Rp 182,54 triliun (77,9% dari pagu Rp 234,33 triliun). Realisasi penyerapan dana perlinsos menjadi yang terbesar. Dana tersebut telah dirasakan lebih dari 40% masyarakat berpenghasilan terbawah. Dengan sisa waktu hingga akhir 2020, kita berharap pemerintah bisa mengoptimalkan alokasi anggaran perlinsos hingga 100%.
Sejalan dengan itu, alokasi anggaran untuk UMKM sudah terserap hingga Rp 95,62 triliun atau 93,3% dari pagu Rp 114,81 triliun. Program UMKM harus menjadi motor bergeraknya sisi penawaran (supply) sehingga bisa membangkitkan sektor riil. Banyak UMKM yang gulung tikar selama pandemi. Pulihnya UMKM diharapkan bisa membuka lapangan pekerjaan. Apalagi, selama pandemi Covid-19, angka pengangguran dan kemiskinan meningkat tajam.
Tetapi, kita juga memberikan catatan kritis terhadap beberapa program yang realisasinya masih rendah. Hingga 11 November 2020, realisasi anggaran untuk kesehatan masih Rp 34,39 triliun atau 35,3% dari pagu Rp 97,26 triliun. Rendahnya realisasi sektor kesehatan dalam PEN 2020 harus mendapat perhatian. Banyak program kesehatan yang terkait langsung dengan insentif tenaga kesehatan dan penyediaan alat-alat kesehatan. Jadi, jangan sampai rendahnya serapan anggaran berdampak terhadap kinerja tenaga kesehatan.
Selain anggaran kesehatan, realisasi dana kementerian/lembaga dan pemda juga baru tercatat Rp 39,92 triliun atau 19,9% dari pagu Rp 65,97 triliun. Bantuan untuk realisasi stimulus bagi dunia usaha, termasuk insentif pajak, tercatat Rp 38,64 triliun atau 32% dari pagu Rp 120,6 triliun. Sementara itu, realisasi pembiayaan korporasi baru Rp 2 triliun atau 3,2% dari pagu Rp 62,22 triliun. Pemerintah perlu terobosan untuk mengatasi rendahnya serapan anggaran dunia usaha dan korporasi. Perlu ada kebijakan alternatif untuk membiayai program strategis dan jangka panjang, misalnya membangun food estate untuk ketahanan pangan nasional.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
