alexametrics

Pornografi di Medsos yang Makin Meresahkan

Oleh RAHMA SUGIHARTATI *)
19 November 2020, 19:48:37 WIB

DI media sosial, salah satu trending topic saat ini adalah video porno dengan pelaku mirip sejumlah artis tenar di tanah air. Gisella Anastasia dan Jessica Iskandar ramai menjadi pergunjingan karena ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Meski pelaku penyebaran video porno telah ditangkap, dua artis ini tetap saja gundah. Sebab, di balik orang-orang yang bersimpati, tidak jarang netizen yang bersikap nyinyir. Akibat video porno yang kini ramai beredar itu, sang artis menjadi bahan perisakan banyak orang. Selain dituding amoral, terlalu permisif, dan disalah-salahkan karena merekam aksi mesumnya, dua artis ini dilaporkan tengah bersedih karena harus menanggung akibat perbuatan orang lain yang merusak reputasi mereka.

Bagi netizen yang telanjur termakan hoaks, mereka dengan mudah terpapar berbagai informasi yang tidak jelas sumbernya. Bahkan ada yang cenderung ikut melakukan perisakan atau perundungan kepada artis yang mereka yakini sebagai pelaku adegan mesum itu. Ada kesan makin dibantah, sejumlah netizen justru merasa hal itu merupakan kebenaran, tanpa terlebih dahulu memastikan kredibilitas sumber informasi dan akurasi konten video yang beredar di dunia maya.

Peredaran Video Porno

Terlepas apakah tuduhan sebagian netizen tentang siapa sebetulnya yang menjadi pelaku adegan mesum itu, kasus yang menyeret nama baik Gisel dan Jessica Iskandar ini betul-betul menjadi pelajaran berharga. Pornografi, apa pun bentuknya, adalah sesuatu yang terlarang. Kita sepakat pornografi harus diberantas karena dampaknya niscaya merugikan para netizen dan masyarakat pada umumnya.

Sejumlah faktor yang menyebabkan peredaran video porno senantiasa mengundang kecaman adalah, pertama, karena peredaran video porno, terlebih jika pelakunya adalah artis terkenal, dikhawatirkan berdampak buruk bagi perkembangan kesehatan psikologis masyarakat, terutama anak-anak dan remaja.

Seperti diketahui, jumlah pengguna internet di Indonesia dilaporkan terus meningkat dari waktu ke waktu. Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan, pada 2018, pengguna internet di Indonesia hanya 171,2 juta jiwa. Dari sekitar 171,2 juta pengguna internet, diduga 80 persen di antaranya adalah remaja berusia 15–19 tahun. Per Juni 2020, jumlah pengguna internet sudah meningkat menjadi 196,7 juta jiwa.

Sementara itu, menurut rilis penelitian Global Web Index (2015), media sosial yang paling sering diakses masyarakat Indonesia secara spesifik adalah situs-situs seperti Facebook, Twitter, Path, Google+, Line, WhatsApp, Pinterest, LinkedIn, Instagram, dan Skype.

Kedua, dampak beredarnya video porno di media sosial sangat berpotensi menempatkan posisi perempuan yang sebetulnya merupakan korban justru sebagai pihak tertuduh yang disalah-salahkan akibat ulahnya sendiri.

Setiap terjadinya isu tentang peredaran video porno, kita tahu pihak yang menjadi korban yang paling menderita adalah perempuan. Pemberitaan dan pergunjingan di media sosial jarang atau bahkan tidak pernah memberitakan siapa laki-laki yang menjadi pelaku adegan mesum. Dalam kasus peredaran video porno, selalu yang menanggung rasa malu dan banyak pertanyaan dari media massa adalah pelaku perempuan atau artis yang mirip wajahnya dengan pelaku di cuplikan video yang viral di masyarakat.

Mencegah

Untuk mencegah agar pornografi tidak meluas di media sosial, pemerintah sebetulnya telah memiliki acuan hukum yang jelas. DPR bersama pemerintah telah mengesahkan UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi sebagai payung hukum yang melarang pornografi di Indonesia.

Pada 2019, berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, bagi pelaku yang menyebarluaskan konten pornografi, mereka disebutkan terancam denda Rp 100 juta per konten.

Apakah ancaman sanksi yang telah diatur dalam produk hukum seperti di atas terbukti efektif mencegah ulah sebagian netizen yang ingin meng-upload dan mengakses video porno? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu harus ditunggu bukti-bukti di lapangan. Tetapi, yang jelas, di kalangan anak-anak dan remaja yang setiap hari selalu bermain gadget, mereka sesungguhnya rawan terkontaminasi pengaruh buruk cyberporn.

Mencegah agar anak dan remaja tidak terkontaminasi pornografi di media sosial tidak mungkin hanya mengandalkan daya regulatif hukum dan ancaman sanksi. Sesuai rentang usianya, anak dan remaja memang merupakan kelompok masyarakat yang secara psikologis paling rawan tergoda mengakses pornografi internet.

Bagi sebagian netizen yang iseng atau sengaja meng-upload video porno artis, motif yang mendasari mungkin saja karena ketidaktahuan atau menginginkan popularitas dengan cara yang salah. Seperti para bloger yang hanya mengejar follower dengan cara melakukan hal-hal yang salah, tidak sedikit netizen hanya karena ingin populer lantas menempuh jalan pintas dengan mengunggah video porno. Bisa juga ulah netizen mengunggah video porno dengan tujuan untuk menjatuhkan nama baik artis atau orang tertentu.

Untuk mengurangi hasrat para netizen iseng agar tidak mengunggah video porno, kuncinya mau tidak mau pada sikap kritis para netizen yang lain. Para netizen, khususnya anak-anak dan remaja, perlu mendapatkan bekal literasi informasi dan literasi kritis agar tidak mudah teperdaya dan tergoda hasratnya untuk mengakses video porno.

Pornografi dan cyberporn adalah salah satu ancaman serius di era digital yang berpotensi merusak moral anak-anak dan remaja. Penyebaran video porno di media sosial saat ini sudah benar-benar mencemaskan. Tugas orang tua, sekolah, dan pemerintah adalah memberikan pendidikan literasi kepada anak-anak agar mereka tidak menjadi korban ulah sebagian netizen yang jahat. Tanpa kerja sama yang solid dari berbagai pihak, upaya untuk meredam peredaran video porno niscaya akan sulit dilakukan. (*)


*) Rahma Sugihartati, Dosen Isu-Isu Masyarakat Digital Program Doktoral Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads