
Tokoh nasional yang namanya membumi menjadi simbol keindonesiaan.
JawaPos.com - Apalagi arti sebuah nama? Meski kita menyebut sekuntum mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap semerbak, demikianlah kata-kata Juliet ketika merindukan kekasihnya, Romeo, dalam drama tragedi Shakespeare, Romeo and Juliet. Namun, benarkah bahwa eksistensi pemilik nama jauh lebih penting daripada esensi arti nama itu sendiri?
Beda Zaman Beda Sapaan
Mari kita coba mengingat nama sapaan yang paling sering dipakai untuk para pemimpin RI sejak presiden pertama. Diawali dengan "Bung Karno". Kata sapaan "bung" berkonotasi kebersamaan selaku "kawan seperjuangan" disertai rasa hormat kepada pemimpin.
Lalu, muncullah "Pak Harto". "Pak" merupakan bentuk penghormatan kepada seorang pemimpin negara dan sosok yang lebih tua. Jauh berbeda, muncullah nama Habibie yang kerap disebut begitu saja tanpa kata sapaan tertentu.
Diikuti oleh "Gus Dur". Sejatinya kata sapaan itu telah melekat jauh sebelum beliau dipilih sebagai presiden. Kemudian, berurutan ada "Bu Mega" dan "Pak Beye", yang lebih sering dipanggil dengan "Megawati" dan "SBY" -tanpa kata sapaan apa pun. Serupa, untuk periode ini, media cetak atau daring berikut yang tua, muda, dan anak-anak akan lantang memanggil "Jokowi".
Sejenak, marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Akankah kita merasa risi jika membaca ataupun mendengar nama "Megawati", "SBY", dan "Jokowi" tanpa embel-embel apa pun? Hampir pasti, jawabannya adalah "tidak". Sebab, telah terbentuk pembiasaan. Sudah lumrah. Atau bisa jadi sebelum pertanyaan itu terlontar, fenomena tersebut bahkan jauh lepas dari pengamatan kita.
Deiksis Nama Diri, Ideologi, dan Kekuasaan
Kata sapaan merupakan deiksis nama diri yang mencerminkan identitas sosial, karakter, dan hubungan peserta ujaran-penutur dan pendengar (Levinson, 1983). Sebuah pilihan nama panggilan adalah bentuk riil representasi hubungan sosial dan semua aspek sosial yang mendasari pilihan.
Kata sapaan tidak lain adalah bagian dari bahasa. Bahasa itu sendiri merupakan praksis sosial, peristiwa sosial, dan, utamanya, konstruksi ideologis subjek (Haryatmoko, 2016). Selanjutnya, dalam istilah sederhana, ideologi adalah (1) sistem nilai kolektif, yang bisa saja menyusup menjadi suatu kebenaran umum (Van Dijk, 2006) dan (2) relasi kekuasaan (Fairclough, 2013).
Dua Lapis Pergeseran
Perbedaan penggunaan deiksis mencerminkan dua lapis pergeseran nilai ideologi. Pertama, bergesernya cara pandang dalam sebuah relasi kekuasaan. Struktur sistem kekuasaan di masyarakat telah berubah.
Hierarki kekuasaan telah menyempit. Berbeda dengan Orde Baru yang beranalogi dengan era otoriter, seorang presiden, selaku pemimpin negara, bukan lagi dipandang sebagai sosok yang "maha" -"mahatahu", "mahakuat", "maha disegani", dan "maha berkuasa". Distansi antara pemimpin dan yang dipimpin memudar. Tidak terdapat jarak. Posisi pembatas keduanya samar dan melebur.
Selanjutnya, berubahnya hubungan dari struktur vertikal menjadi horizontal menggiring ke perubahan lapis kedua. Terdapat degradasi sistem nilai dalam relasi sosial. Penggunaan kata sapaan merupakan unsur penanda kesopanan.
Hilangnya penanda tersebut berindikasi pula lunturnya adab kesantunan dalam berbahasa. Budaya "sungkem" kepada sosok yang selayaknya dituakan atau dihormati sebagai bagian dari norma kesopanan dalam berkehidupan berbudaya telah lenyap.
Bukankah, misalnya, untuk menyapa seorang atasan di lingkungan kerja saja selayaknya kita menyertakan kata sapaan. Apalagi jika itu ditujukan kepada sosok pemimpin tertinggi negara.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
