Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Februari 2018 | 15.29 WIB

Yenny Wahid Dalam Minus Dan Bonus Indonesia

Yenny Wahid bersama Presiden Joko Widodo dalam sebuah acara di Pondok Pesantren Jombang, Jawa Timur - Image

Yenny Wahid bersama Presiden Joko Widodo dalam sebuah acara di Pondok Pesantren Jombang, Jawa Timur

MENGAMATI Indonesia pada saat ini dan dalam beberapa tahun kedepan terlihat ada dua masalah dalam negeri yang sangat krusial dihadapi bangsa Indonesia yaitu, konflik agama dan bonus demografi.


Kedua masalah ini mempunyai kekuatan besar yang dapat menghancurkan atau sebaliknya bisa menumbuhkan.


Bila tidak tepat penanganannya maka keduanya dapat meledak bersamaan. Akibatnya mengancam kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.


Namun jika tepat menanganinya maka kedua masalah tersebut dapat menjadi energi besar untuk mewujudkan kesejahteraan dan kesejatian Indonesia.


Keragaman agama yang ada di Indonesia ternyata menimbulkan dilema tersendiri. Di satu sisi, memberikan kontribusi positif untuk pembangunan bangsa tapi di sisi lain berpotensi menjadi sumber konflik. Konflik agama dalam sejarah Indonesia telah terjadi berulangkali.


Terakhir demonstrasi yang sangat besar melibatkan sekitar dua juta orang berkumpul di Jakarta untuk memprotes penistaan agama yang dilakukan Gubernur Ahok.


Kasus ini menunjukkan bagaimana cara pandang terhadap agama dengan menempatkan agama sebagai sumber konflik.


Agama sendiri pada dasarnya dapat memiliki faktor integrasi dan faktor disintegrasi. Faktor integrasi yaitu ajaran agama yang bersifat universal antara lain, agama mengajarkan persaudaraan atas dasar iman, kebangsaan dan kemanusiaan.


Mengajarkan kedamaian dan kerukunan di antara manusia dan sesama makhluk.


Dan mengajarkan budi pekerti yang luhur, hidup tertib dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku dalam masyarakat.


Selain itu, terdapat ajaran agama yang juga bisa menimbulkan disintegrasi, bila dipahami secara sempit dan kaku.


Di antaranya, setiap pemeluk agama menyakini bahwa agama yang dianutnya adalah jalan hidup yang paling benar, sehingga dapat menimbulkan prasangka negatif atau sikap memandang rendah pemeluk agama lain.


Lalu mana diantara faktor tersebut yang paling dominan? Menarik untuk menyimak ucapan Prof Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama, usai bertemu Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Kantor KWI, Jakarta Pusat, 31 Oktber 2017.


Din Syamsuddin menegaskan, konflik antar agama yang kerap terjadi belakangan ini bukan murni karena faktor ajaran agama.


Konflik yang lahir justru disebabkan karena sejumlah faktor non agama seperti politik, ekonomi dan hukum.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore