
Photo
PANDEMI Covid-19 yang ditetapkan sebagai masalah kesehatan dunia oleh WHO pada Maret 2020 telah mengubah tata kehidupan manusia. Grafik pertambahan kasus mingguan di RSUD dr Soetomo menunjukkan bahwa hanya ada dua kasus dirawat pada Maret 2020. Lalu, jumlah kasus meningkat tajam sampai puncaknya pada Juni–Juli. Kemudian, terjadi penurunan. Namun, kasus Covid-19 naik turun dan bahkan mulai naik lagi pada pertengahan Oktober hingga November.
Begitu pun pola pasien secara nasional. Bahkan, di banyak negara, terjadi second wave atau gelombang kedua yang lebih tinggi daripada serangan awalnya. Mungkin ada gelombang-gelombang berikutnya. Penulis prediksi, setelah pandeminya dapat dikendalikan, Covid-19 ini menjadi penyakit baru yang endemis, yang outbreak-nya bisa muncul setiap saat di setiap wilayah, bila tidak diantisipasi dengan baik.
Pengendalian pandeminya pun tidak semudah teori yang sudah diketahui selama ini. Mengapa demikian? Kita simak perjalanan penyakitnya (natural history of diseases) atau karakteristiknya dan interaksi antara host-agent-environment serta respons masyarakat terhadap penyakit baru tersebut.
Covid-19 kali pertama muncul dalam berbagai variasi di Wuhan, RRT, Desember 2019. Mulai yang tidak bergejala, gejala flu ringan, anosmia atau tidak merasakan fungsi pembauan, batuk, pilek, sesak, dan diare, sampai yang paling berat berupa severe acute respiratory syndrome (SARS) dan gagal napas. Berikutnya, virus itu tidak hanya menyerang sistem respirasi, tetapi hampir semua sistem organ tubuh mengalami kelainan atau perberatan dari penyakit atau kelainan yang ada sebelumnya. Ditemukan hubungan penyebab penyakit baru tersebut dengan virus SARS yang pernah mewabah sebelumnya.
Karakter yang paling membedakannya dengan penyakit sebelumnya adalah sebagian pengidap penyakit (20–30 persen) itu tampak sehat, tetapi sudah dapat menularkan penyakitnya. Keadaan tersebut disebut OTG (orang tanpa gejala). Karakteristik lain yang perlu diperhatikan adalah manifestasi penyakitnya pada 80 persen pasien cukup ringan dan bisa sembuh sendiri. Artinya, tubuh melalui sistem kekebalannya (imunitas) mampu menghalau virus tersebut. Menurut WHO, kematian akibat penyakit itu hanya 2–3 persen, terutama pada penderita high-risk.
Berdasar pengamatan terhadap 2.816 pasien di RSUD dr Soetomo hingga 24 November 2020, perjalanan penyakitnya ternyata berbeda pada setiap pasien. Pasien high-risk umumnya memiliki gejala yang lebih berat dan perlu perawatan yang lebih lama. Contoh kondisi high-risk adalah memiliki penyakit diabetes, hipertensi, sakit paru kronis, obesitas, penyakit sistem imun, dan penyakit kanker. Karakter lain yang juga perlu diperhatikan adalah penularannya sangat tinggi, terutama melalui percikan atau droplet dan secara aerosol (udara), khususnya di ruang tertutup.
Respons tubuh setiap pasien berbeda-beda akibat adanya reseptor angiotensin converting enzyme 2 (ACE2). Tentu jumlah dan aktivitas reseptor setiap orang berbeda. Keterlibatan sistem imun setiap manusia juga berbeda serta ada tidaknya penyakit penyerta. Strain virus yang masuk ke tubuh juga dicurigai dapat membedakan perjalanan penyakit tersebut. ACE2 merupakan gateway atau pintu masuk virus pada sel tubuh manusia.
Karakteristik dari sisi respons masyarakat juga tidak kalah penting untuk disimak. Kebaruan dari virus dan penyakitnya serta pengetahuan dalam diagnosis dan tata laksana Covid-19 yang terus berkembang dari waktu ke waktu menimbulkan banyak kontroversi atau dibuat kontroversi. Ditambah era everything of internet. Informasi pun bisa dengan mudah didapat dan dengan mudah pula kita semua menyampaikan informasi ke publik secara cepat, baik itu hasil riset (bahkan riset yang belum final) maupun opini dan harapan. Lengkaplah masalah Covid-19 ini. Kita semua tidak hanya menghadapi pandemi Covid-19, tetapi juga pandemi sosial akibat distorsi informasi tentang Covid-19.
Selain itu, hubungan antara manusia berperan ganda sebagai yang sakit (host) dan pembawa atau penular (vektor) menarik untuk dipelajari. Dari telaah hubungan host-agent-environment dalam timbulnya Covid-19, sebenarnya eliminasi atau eradikasinya tidak terlalu sulit secara teoretis. Namun, kenyataan membuktikan sebaliknya. Komponen terpenting sebenarnya terletak pada perilaku manusianya.
Ada beberapa faktor yang sangat mungkin berpengaruh. Pertama, mengubah perilaku manusia untuk menjaga jarak dengan sesamanya, tidak bergerombol dan berkumpul. Ini sesuatu yang melawan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Tidak mudah dilakukan. Ketaatan terhadap jaga jarak dan tidak bergerombol adalah hasil yang terendah dari banyak survei perilaku untuk mencegah penularan Covid-19. Memakai pelindung masker dan mencuci tangan setelah bersentuhan dengan benda juga bukan perkara mudah untuk dilakukan secara konsisten. Perlu terus-menerus digaungkan dan pemaksaan. Terbukti, diperlukan peraturan dan operasi yustisi untuk menjaga ketaatan masyarakat.
Kedua, Covid-19 adalah penyakit baru yang patofisiologinya belum terpahami 100 persen. Pada era Revolusi Industri 4.0, semua orang dapat menjadi ”jurnalis” sehingga bisa menyebarkan informasi yang kebenarannya atau pertimbangan efeknya belum terkonfirmasi. Akibatnya, protokol atau program pemerintah sering terkacaukan oleh opini-opini menyesatkan.
Baca Juga: Manfaat dan Tantangan Siaran TV Digital
Ketiga, semua komponen, baik pemerintah maupun masyarakat, sedang belajar, learning by doing, sehingga ketidaktepatan atau perubahan kebijakan, program, dan tindakan bisa terjadi. Hal itu kadang sulit diterima sehingga kontroversi sering meruncing menjadi isu sistemis yang merugikan kita semua dalam pengendalian Covid-19. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada negara kita, tetapi juga di negara maju yang sistem pencegahan penyakitnya sudah mapan.
Dari pengalaman penulis selama sembilan bulan turut serta mengendalikan Covid-19, baik membantu Ibu Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Pemprov Jatim sebagai ketua satgas kuratif maupun di RSUD dr Soetomo sebagai direksi, penulis berkesimpulan bahwa terkendali tidaknya pandemi Covid-19 sangat bergantung kepada manusia yang mengalaminya. Perubahan perilaku untuk menghentikan penularan yang akhirnya akan menghentikan persebaran Covid-19 adalah hal mutlak yang harus dilakukan. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan perlindungan-Nya. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
