alexametrics
JawaPos Radar | Iklan Jitu

Lingua

Celana dan Sruwal

Oleh Budi Darma*

13 Januari 2019, 11:08:29 WIB
Celana dan Sruwal
Ilustrasi celana (pixabay)
Share this

JawaPos.com - Orang Indonesia pasti tahu makna "celana" dan orang Jawa angkatan lama pasti tahu makna "sruwal". Sementara itu, sampai dengan pertengahan tahun 1960-an, ada juga istilah "pantalon", kosakata asal Prancis yang diserap oleh bahasa Belanda, kemudian masuk ke dalam bahasa Indonesia.

Sebetulnya celana dan pantalon sama. Hanya, pantalon dianggap lebih keren daripada celana karena pipa kakinya menyentuh mata kaki. Jadi tampak lebih sopan.

Lalu, apa makna sruwal? Dalam bahasa Jawa dulu sruwal adalah celana atau kathok, tapi konotasinya berbeda. Celana dipakai orang-orang kota, sedangkan sruwal, dengan makna yang sama, khusus untuk orang-orang desa yang tidak mempunyai pendidikan dan juga tidak memiliki harta yang cukup.

Celana dan Sruwal
Ilustrasi celana (Pixabay)

Sruwal dipakai orang-orang "ndeso". Atau lebih parah lagi, "ndesit", dengan konotasi betapa rendahnya orang desa itu. Istilah ndeso, apalagi ndesit, lebih parah daripada udik sekarang. Implikasi dari ndeso, apalagi udik, adalah "plonga-plongo" dan "bikin malu".

Perbedaan antara "kota" dan "desa" pada zaman dahulu, katakanlah sampai dengan sekitar akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an, memang sangat mencolok. Setiap Lebaran Idul Fitri orang-orang desa pergi ke kota dan pakaian mereka kadang-kadang mengundang gelak tawa orang-orang kota.

Ada, misalnya, anak-anak kecil yang pakai celana pendek dilengkapi kaus kaki panjang. Bukan kaus kaki biasa, melainkan kaus kaki untuk main bola. Anak-anak perempuan juga memakai pakaian yang mungkin menurut orang tua mereka sangat pantas, tapi bagi orang kota sangat norak. Warna-warna yang mereka pilih menunjukkan betapa ndesit-nya mereka.

Banyak orang laki-laki dari desa waktu itu yang masih memakai sarung atau kain diwiron. Kepalanya pakai belangkon dan perempuannya pakai jarit. Itulah yang terjadi waktu itu, setidaknya di beberapa kota di Jawa Tengah.

Kalau laki-lakinya pakai celana, celana itu pun norak seperti celana anak-anaknya. Bedanya, orang tua laki-laki memakai celana panjang, sedangkan anak-anak memakai celana pendek.

Itulah yang dinamakan sruwal. Ada pula konotasi "sruwal", yaitu celana bobrok yang kumal, jarang dicuci, karena sering dipakai untuk bertani, mengangkut barang, kerja kotor, dan kerja serabutan lainnya.

Karena pendidikan makin merata, sedikit demi sedikit perbedaan mencolok antara kota dan desa makin lama makin tipis. Bahkan, sekarang di desa pun, sebagaimana yang tampak di beberapa kabupaten, ada kafenya.

Istilah celana memang keren dan enak didengar. Karena itu, jangan heran manakala dalam beberapa sajaknya penyair Joko Pinurbo suka bicara mengenai celana. Celana mempunyai roh, celana bisa dicuci, celana bisa disetrika, celana bisa dipakai sampai kotor, dan celana pun bisa diajak adu pikiran.

Dalam ilmu jiwa pun tidak ada istilah sruwal. Sebab, yang ada adalah istilah celana. Kita pasti pernah mendengar tentang laki-laki yang suka mencuri celana dalam perempuan. Rasanya lebih mantap juga mengakronimkan "celana dalam" menjadi "celdam" daripada "sruwal dalam" menjadi "waldam". Bisa diduga, laki-laki yang suka mencuri celana dalam perempuan tidaklah sekadar ingin tahu. Tapi, ada yang tidak beres dalam jiwanya.

Namun, hati-hatilah kalau berbicara mengenai celana di Singapura. Ada seorang mahasiswa Singapura yang ibunya suka menjahit pakaian untuk menambah penghasilan. Orang yang ukuran tubuhnya tidak standar di sana akan kesulitan mencari celana. Sebab, semua celana di toko berukuran standar.

Terceritalah, ada mahasiswa Indonesia di Singapura yang kesulitan mencari celana karena ukuran tubuhnya tidak standar. Setelah mendengar bahwa ada teman yang ibunya suka menjahit pakaian, mahasiswa dari Indonesia itu pun bertanya: "Maaf, saya memerlukan celana. Saya dengar ibu kamu pandai menjahit celana ya?"

Maka, merah padamlah wajah mahasiswa Singapura itu. Konotasi "celana" di Singapura tidak begitu baik. Celana adalah pakaian bawah yang sangat fancy, yang biasa dipakai selebriti atau merasa dirinya selebriti. Bagi orang tua, juga mahasiswa itu, konotasi "celana" sangat tidak menyenangkan.

Usut punya usut, ternyata istilah terhormat "celana" di Indonesia berbeda. Lalu, apa istilah "celana" yang terhormat di Singapura? Ingat, bukan "celana", melainkan "sruwal". Demikian juga di Malaysia.

*) Sastrawan, pengarang kumcer Hotel Tua

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : *, jpk

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini