alexametrics

Renungan Hari Pahlawan: Merajut Kepahlawanan Kaum Milenial

Oleh SUPARTO WIJOYO *)
11 November 2020, 19:58:29 WIB

’’…Memang tugas bukan seluruhnya berada di pundak kita, namun kita tidak dibenarkan bersikap abstain terhadapnya.’’ (Erich Fromm, The Revolution of Hope, 1968)

Selamat. Jawa Pos telah menerima WOW Brand Award 2020. Pastinya tidak lepas dari gaya berita serta sentuhan manajemen media yang milenial. Selansiran itu mengingatkan saya terhadap pidato Megawati Soekarnoputri pada acara peresmian patung Bung Karno di Jogjakarta (28/10) yang menyentil ’’milenial jangan dimanja’’, bahkan dijustifikasi ’’sumbangsih kaum milenial untuk bangsa belum terlihat’’.

Sebuah pernyataan kontroversial yang dapat melahirkan reaksi balik ’’yang sepuh tak mau beringsut dari kemapanan’’. Tulisan ini tidak hendak memasuki ruang polemik ’’pemanjaan milenial’’ karena kriteria ’’dimanja’’ dan ukuran ’’sumbangsih untuk bangsa’’ masih teramat subjektif. Padahal, terdapat keniscayaan bahwa pandemi Covid-19 bertabur sikap-sikap kepahlawanan ekonomi, ekologi, dan sosial generasi milenial yang spektakuler.

Zamannya Milenial

Mata rantai sejarah umat manusia membuktikan bahwa di setiap era ada serumpun inovasi sebagai penanda zamannya. Baca saja karya-karya Yuval Noah Harari, Sapiens (2011) maupun Homo Deus (2015). Sapiens merekam jejak asal mula manusia dan Homo Deus menuangkan arah masa depannya. Demikian pula beribu referensi historis manusia, termasuk karya Hendrik Willem van Loon, The Story of Mankind (2014): ’’sejarah adalah sebuah menara pengalaman yang besar’’.

Untuk itu, merupakan suatu kebajikan apabila kita memberikan apresiasi kepada setiap memori generasi guna membangkitkan kemajuan bangsa Indonesia menuju seratus tahun heroisme, 2045.

Serat-serat energetik kepahlawanan kawula muda pada babakan zaman harus dirajut menjadi kekuatan kolektif, bukan dirapuhkan penuh sinisme. Pembagian waktu ala generation theory menuntun publik mempersiapkan agenda besar ke arah mana perjalanan bangsa ini ditambatkan. Setiap generasi menjadi fondasi beranjaknya generasi berikutnya. Apakah NKRI di 2045 mampu melahirkan gerakan kepahlawanan seperti 10 November 1945, ataukah sekadar kerumunan yang menyaksikan membanjirnya tenaga kerja asing atau barisan penonton drama keserakahan eksploitasi SDA, sangatlah ditentukan oleh kualitas milenialnya.

Kaum milenial yang berselancar di generasi alfa (2011–2025) merupakan kurun lanjut generasi Z (1995–2010), suatu generasi yang beratribut i-generation. Generasi Z adalah bibit sah generasi Y (1981–1994) yang melanjutkan generasi X (1965–1980). Generasi X merupakan turunan generasi baby boomer usai Perang Dunia II (1946–1964).

Generasi milenial secara tematik sangat menguasai teknologi dengan jaringan yang multitasking. Inilah wahana generasi digital yang serbagadget, yang vitur dan akses informasinya tidak terkendala. Dunia milenial ini sungguh tak berbatas melalui support teknologi internet yang dikendalikan cukup dari kelincahan jemari sambil melirik poros kosmologi.

Milenial yang Pancasilais

Secara ideologis, milenial mempunyai daya ledak kreativitas yang idealnya dapat digunakan untuk membangun kepahlawanan berdasar Pancasila. Teknologi adalah instrumen yang harus difungsikan untuk mengimplementasikan nilai luhur bangsa.

Para milenial diproyeksi berkeunggulan nanoteknologi yang berkarakter Bhinneka Tunggal Ika serta dirancang sejak sekarang meneguhkan ideologi Pancasila menjadi nilai aksi, bukan fiksi. Hadirkanlah milenial yang berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, dan berkeadilan sosial. Jiwa ini wajib dirangkai dalam rajutan rumah besar kebangsaan milenial, yang kini acap kali menyuarakan gerakan go green tanpa kenal jeda.

Apa yang dilakukan mereka di pedalaman Nusantara dapat ditengok masyarakat internasional. Saya optimistis bahwa orientasi ekonomi, sosial, dan ekologis bangsa ini esok hari dikonstruksi sangat berdaya saing, bermagma sinergisitas, dan kolaboratif. Tanda-tanda zaman itu telah ada di kaum milenial yang terus menaburkan benih sikap kepahlawanan sesuai genderang kreativitasnya.

Lihatlah jejak filantropi milenial untuk berkontribusi dalam mengatasi pandemi, kesetiakawanan sosial membantu korban bencana alam, keterpanggilan bertani, berkebun, menjadi nelayan, dan aksi advokasi. Cermatilah pengelolaan desa-desa wisata yang diberitakan Jawa Pos selama cuti bersama pekan terakhir Oktober 2020 lalu. Kemajuan pariwisata pedesaan tidak luput dari peran besar kaum milenial. Mereka berjibaku memberdayakan masyarakat desanya dengan penuh totalitas. Sikap kepeloporan pemuda milenial sedang mekar, janganlah diribeti. Kemampuan manajerial teknologi tepat guna dalam mengampanyekan produk-produknya menunjukkan peran dirinya. Di sinilah dibutuhkan orang tua yang sedia ngayomi, bukan menjadikan oposan.

Teriakan apa pun akan disimak milenial dan ’’cibiran’’ sang tokoh dengan cepat dapat diakses untuk membangkitkan tindakan yang terkadang tidak dapat diduga eskalasinya. Situasi sekarang ini sejatinya kawah candradimuka untuk melahirkan pahlawan baru kaum milenial.

Apa yang terjadi sewaktu pagebluk dengan menghasilkan cita rasa kuliner yang tumbuh subur serta wisata desa yang terhelat semarak adalah peristiwa kepahlawanan kaum milenial yang mengagumkan. Generasi milenial yang tampil menyebarkan embrio inovasinya jauh lebih dominan daripada yang lontang-lantung. Maka, khalayak ramai jangan disuguhi narasi mendiskreditkan milenial.

Bobot kepahlawanan seratus tahun NKRI nanti ditentukan penyikapan kita sekarang ini. Generasi yang superkreatif mengikuti bahasa Kerry Patterson sedang memuncaki era generasi influencer atau generasi sang inovator dalam ukuran Steve Jobs. Kepahlawanan milenial menanggungkan lahirnya generasi the new inovators, pahlawan yang tengah dipersiapkan.

Inilah pahatan yang tersedia untuk memahami posisi kesejarahan. Seperti diajarkan dalam karya klasik Seni Perang Sun Zi (abad ke-6 SM), seorang leader harus mengantisipasi terjadinya perubahan dan memiliki kemampuan menyesuaikan diri. Renungkan jua ungkapan Erich Fromm di awal tulisan. (*)


*) Suparto Wijoyo, Wakil direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads