Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Desember 2018 | 17.20 WIB

Max Havelaar dan Dosa Kolektif

Eka Kurniawan - Image

Eka Kurniawan

JawaPos.com - Kenapa novel seperti Max Havelaar begitu penting, terutama dalam konteks kolonialisme Belanda di Indonesia? Pertama, tentu karena novel itu memberi sejenis inspirasi kaum pribumi. Kedua, sebenarnya ini kekuatan terbesarnya: Ia juga memberi pengaruh besar bagi pembaca Belanda sendiri.


Setidaknya itulah yang saya sadari beberapa waktu lalu, ketika duduk satu meja dengan seorang Belanda. Dia lelaki berumur enam puluhan tahun. Mengaku pernah jadi diplomat, jadi penulis, bekerja sebagai bos penerbitan, dan pernah belajar kesusastraan Belanda.


"Terutama kesusastraan yang ada hubungannya dengan Hindia."


Saat itulah dia bicara tentang novel-novel kesukaannya. Dari novel karya Hella Haasse, De Stille Kracht karya Louis Couperus yang versi panggungnya selalu terjual habis dalam setiap pementasan di Amsterdam, dan berakhir dengan membicarakan Max Havelaar karya Multatuli. Dia menyebutnya sebagai karya terbesar kesusastraan Belanda.


Satu jilid novel itu bahkan selalu tersimpan di gedung parlemen, dan itu bukan tanpa arti sama sekali. Menurut dia, "Novel itu membuka kesadaran kami bahwa kami melakukan kesalahan di tanah kolonial."


Tentu tidak sekaligus, tapi bisa dibilang novel tersebut membuka kesadaran seperti keran air. Makin lama semakin membesar dan menguat.


Perbincangan tersebut kembali mengingatkan saya kepada sejenis keyakinan lama tentang karya yang hebat. Sebuah karya menjadi sangat berarti tak semata-mata karena ia membuka realitas, katakanlah memperlihatkan ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan. Banyak novel atau karya lain melakukan itu, termasuk Max Havelaar.


Ada kekuatan dahsyat lain yang terkandung di dalamnya. Apa? Menurut saya, kekuatan untuk membuka borok diri. Kekuatan yang membuat si pembaca sadar betapa brengsek dirinya, betapa jahat bangsanya. Sebuah refleksi diri bahwa untuk ketidakadilan, penindasan, dan kesewenang-wenangan itu, salah satu pelakunya adalah kita sendiri.


Itulah kehebatan novel itu, kata kawan saya. Kekuatan yang membuatnya jadi cermin. Kekuatan yang menerbitkan rasa malu tak terkira, tapi juga membuat banyak orang Belanda bersedia melewati perasaan tersebut. Tidak semua seperti itu, memang. Namun, para pembaca Max Havelaar atau De Stille Kracht yang tersadarkan juga tidak sedikit.


Lantas, apa arti kisah pertemuan saya dengan orang Belanda dan omong-omongan kami tentang kesusastraan Belanda di Hindia untuk Indonesia di masa sekarang?


Saya punya sedikit kenangan kecil bertahun lampau dengan sebuah buku. Judulnya Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma. Sampai hari ini saya masih menganggap buku itu sebagai kumpulan cerpen terbaik di Indonesia. Selain karena kisah-kisahnya, gaya menulisnya, terutama karena pengaruhnya (sastra maupun politik) terhadap saya pribadi.


Seperti banyak orang tahu, buku tersebut berisi cerita-cerita tentang pendudukan (militer) Indonesia di Timor Leste. Terutama selepas insiden Santa Cruz, Dili, 1991.


Jujur saja, sebelum membaca buku itu, saya tak tahu-menahu tentang Timor Timur (nama yang kita kenal waktu itu). Dan, menganggapnya sebagai provinsi bungsu (ke-25) yang sah. Timor Timur merupakan bagian dari Indonesia.


Namun, selepas membaca buku tersebut ketika masih mahasiswa, pikiran saya perlahan mulai berubah. Yang sangat mengganggu saya terutama bukan para klandestin yang disiksa, kepala manusia yang ditancapkan di pagar depan rumah, melainkan orang-orang yang melakukan penyiksaan itu.


Kenapa? Sebab, saya melihat wajah sendiri. Kita. Tentu kita tak melakukannya langsung. Namun, bagaimanapun, mereka mewakili kita: Indonesia.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore