Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Maret 2019 | 17.44 WIB

Hujan Selesai, Lupa Pernah Banjir

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Di wilayah Ngawi dan Madiun terdapat pertemuan Sungai Bengawan Solo hulu dengan Kali Madiun. Keduanya menjadi Sungai Bengawan Solo yang mengalir melewati Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik.


Bila curah hujan di Wonogiri dan Solo (DAS Bengawan Solo hulu) serta wilayah Madiun, Ponorogo, dan Magetan (DAS Kali Madiun) tinggi, akan terjadi luapan air Sungai Bengawan Solo yang menggenangi daerah sekitar.


Pada saat muka air Bengawan Solo tinggi, sungai-sungai kecil atau anak sungai akan sulit mengalirkan air. Sebaliknya, akan terjadi aliran balik dan meluap. Penggunaan lahan yang cenderung memperkecil resapan air sangat berperan menimbulkan banjir.


Sungai Bengawan Solo tidak memiliki waduk atau bendungan besar yang bisa menampung air hujan dalam volume besar. Hanya ada Waduk Wonogiri dan beberapa waduk kecil. Namun, waduk tersebut belum cukup me­nampung air hujan dalam volume besar. Beberapa waduk sedang dibangun dan masih diperlukan lebih banyak waduk lagi. Sebab, Bengawan Solo memiliki DAS yang luas.


Pengelolaan banjir juga harus terintegrasi. Tidak bisa parsial hanya di hulu atau hilir. Konsepnya, di bagian hulu, sebanyak-banyaknya air hujan bisa ditampung dan diresapkan ke dalam tanah. Tujuannya, air yang mengalir ke sungai bisa berkurang.


Lahan di bagian hulu lebih utama untuk hutan daripada tanaman musiman atau lahan terbangun. Fungsinya, air gampang meresap. Daerah-daerah rendah atau cekungan harus digunakan untuk menampung air.


Selain itu, harus dilakukan perbaikan tanggul yang rusak dan penertiban bangunan-bangunan yang memperkecil penampang sungai. Daerah bantaran sungai sebaiknya tidak digunakan untuk kegiatan atau bangunan yang bisa menghambat aliran air.


Masalah banjir adalah masalah bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Semua pihak, termasuk masyarakat, juga harus terlibat. Pengelolaan banjir dilakukan bersama-sama antara pendekatan struktur dan nonstruktur.


Pendekatan struktur, antara lain, membangun waduk, bendungan, atau tanggul serta pelebaran atau pengerukan sungai. Pendekatan nonstruktur bisa dilakukan melalui edukasi ke masyarakat hingga peringatan dini. Kalau hanya pendekatan struktur, tidak akan berhasil.


Sungai Bengawan Solo lintas provinsi. Pemerintah Provinsi Jatim dan Jateng, termasuk pemerintah kabupaten yang terdampak, sebaiknya duduk bersama. Mencari solusi dan berkomitmen terhadap mitigasi bencana banjir besar yang sudah beberapa kali terjadi.


Setiap musim hujan, kita tidak bisa mencegah terjadinya banjir. Sebab, pembangunan struktur penanggulangan banjir dan perbaikan tata guna lahan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Namun, dengan mitigasi banjir, dampak dan kerugian yang ditimbulkan bisa dikurangi.


Kondisi yang terjadi saat ini, di wilayah tersebut sering terjadi beberapa kali banjir besar. Namun, begitu musim hujan selesai, banjir sering dilupakan. Seolah-olah masalah sudah selesai hingga terjadi banjir berikutnya. 


*) Pakar Teknik Hidrologi ITS

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore