
Photo
JawaPos.com - Di wilayah Ngawi dan Madiun terdapat pertemuan Sungai Bengawan Solo hulu dengan Kali Madiun. Keduanya menjadi Sungai Bengawan Solo yang mengalir melewati Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik.
Bila curah hujan di Wonogiri dan Solo (DAS Bengawan Solo hulu) serta wilayah Madiun, Ponorogo, dan Magetan (DAS Kali Madiun) tinggi, akan terjadi luapan air Sungai Bengawan Solo yang menggenangi daerah sekitar.
Pada saat muka air Bengawan Solo tinggi, sungai-sungai kecil atau anak sungai akan sulit mengalirkan air. Sebaliknya, akan terjadi aliran balik dan meluap. Penggunaan lahan yang cenderung memperkecil resapan air sangat berperan menimbulkan banjir.
Sungai Bengawan Solo tidak memiliki waduk atau bendungan besar yang bisa menampung air hujan dalam volume besar. Hanya ada Waduk Wonogiri dan beberapa waduk kecil. Namun, waduk tersebut belum cukup meÂnampung air hujan dalam volume besar. Beberapa waduk sedang dibangun dan masih diperlukan lebih banyak waduk lagi. Sebab, Bengawan Solo memiliki DAS yang luas.
Pengelolaan banjir juga harus terintegrasi. Tidak bisa parsial hanya di hulu atau hilir. Konsepnya, di bagian hulu, sebanyak-banyaknya air hujan bisa ditampung dan diresapkan ke dalam tanah. Tujuannya, air yang mengalir ke sungai bisa berkurang.
Lahan di bagian hulu lebih utama untuk hutan daripada tanaman musiman atau lahan terbangun. Fungsinya, air gampang meresap. Daerah-daerah rendah atau cekungan harus digunakan untuk menampung air.
Selain itu, harus dilakukan perbaikan tanggul yang rusak dan penertiban bangunan-bangunan yang memperkecil penampang sungai. Daerah bantaran sungai sebaiknya tidak digunakan untuk kegiatan atau bangunan yang bisa menghambat aliran air.
Masalah banjir adalah masalah bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Semua pihak, termasuk masyarakat, juga harus terlibat. Pengelolaan banjir dilakukan bersama-sama antara pendekatan struktur dan nonstruktur.
Pendekatan struktur, antara lain, membangun waduk, bendungan, atau tanggul serta pelebaran atau pengerukan sungai. Pendekatan nonstruktur bisa dilakukan melalui edukasi ke masyarakat hingga peringatan dini. Kalau hanya pendekatan struktur, tidak akan berhasil.
Sungai Bengawan Solo lintas provinsi. Pemerintah Provinsi Jatim dan Jateng, termasuk pemerintah kabupaten yang terdampak, sebaiknya duduk bersama. Mencari solusi dan berkomitmen terhadap mitigasi bencana banjir besar yang sudah beberapa kali terjadi.
Setiap musim hujan, kita tidak bisa mencegah terjadinya banjir. Sebab, pembangunan struktur penanggulangan banjir dan perbaikan tata guna lahan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Namun, dengan mitigasi banjir, dampak dan kerugian yang ditimbulkan bisa dikurangi.
Kondisi yang terjadi saat ini, di wilayah tersebut sering terjadi beberapa kali banjir besar. Namun, begitu musim hujan selesai, banjir sering dilupakan. Seolah-olah masalah sudah selesai hingga terjadi banjir berikutnya.
*) Pakar Teknik Hidrologi ITS

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
