Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Maret 2019 | 17.36 WIB

Enam Kabupaten Direndam Banjir, Ada yang Setinggi 3 Meter

Akibat curah hujan yang tinggi menguyur wilayah Kabupaten Madiun hampir 10 jam lebih menyebabkan air sungai meluap hingga merendam ratusan rumah di beberapa wilayah. - Image

Akibat curah hujan yang tinggi menguyur wilayah Kabupaten Madiun hampir 10 jam lebih menyebabkan air sungai meluap hingga merendam ratusan rumah di beberapa wilayah.


JawaPos.com - Hujan deras pada Selasa (5/3) memicu banjir di kabupaten-kabupaten di Jawa Timur. Ngawi, Madiun, Tuban, Ponorogo, Bojonegoro, dan Pacitan seperti terisolasi. Sebab, banyak desa di wilayah-wilayah itu yang terendam air sampai ketinggian 3 meter.


Berdasar catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi, ada 15 desa di empat kecamatan yang terendam.


Perinciannya, 8 desa di Kecamatan Kwadungan, 5 desa di Kecamatan Pangkur, dan masing-masing 1 desa di Geneng serta Ngawi. "Kami terus pantau perkembangan di lapangan," ujar Plt Kepala Pelaksana BPBD Ngawi Eko Heru Tjahjono kemarin (6/3).


Heru mengatakan, hingga kemarin genangan air di sejumlah wilayah terdampak belum surut. Bahkan dimungkinkan mengalami kenaikan muka air. Pasalnya, wilayah hulu Bengawan Madiun kembali diguyur hujan deras. "Madiun banjirnya juga lumayan besar. Nanti semuanya mengalir ke Ngawi," jelasnya.


Dengan begitu, wilayah terdampak banjir akan bertambah. "Kalau meluas, yang akan terdampak mungkin Mangunharjo dan Kandangan (Kecamatan Ngawi, Red). Untuk wilayah timur saya pikir masih aman, kecuali Kecamatan Padas," terangnya.


Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Teguh Puryadi menambahkan, sejauh ini belum ada laporan soal jumlah penduduk yang terdampak banjir kali ini. Begitu pula soal kerugian materiil. "Sampai saat ini (kemarin sore, Red) kami bersama relawan masih melakukan pendataan," ujarnya.


Hal yang sama terjadi di Madiun. Di sana air merendam rumah warga hingga ketinggian 3 meter. Misalnya yang terjadi di Dusun Jetak, Desa Purworejo, Kecamatan Pilangkenceng, kemarin. Yudi, warga setempat, menyebutkan bahwa tempat tinggalnya pernah dilanda banjir terakhir pada 1986. "Banjir kala itu tidak separah ini yang sampai 3 meter," katanya.


Banjir merendam ratusan rumah di sembilan RT desa setempat. Mulai RT 17 hingga 29. "Saya panik karena tidak menyangka air sampai masuk rumah. Warga lain juga bingung hewan ternaknya," ujar dia.


Menurut Yudi, karakteristik Kali Jerohan, kali yang bersebelahan dengan desanya, dulu dengan sekarang berbeda. Sungai yang hulu alirannya dari kawasan Gunung Wilis dan Karangjati, Ngawi, itu ditumbuhi banyak rumpun bambu di tepinya. Aliran sungai yang menjadi sempit diduga sebagai salah satu penyebab banjir menjadi parah.


Kemarin sedikitnya 125 warga Desa Purworejo terjebak banjir. Rumah mereka terendam hingga 2 meter. Petugas gabungan dari BPBD, kepolisian, dan TNI melakukan evakuasi dengan menggunakan perahu karet.


Kegiatan serupa dilakukan di sejumlah titik di antara belasan desa lain di lima kecamatan yang terdampak banjir. Selain Kecamatan Pilangkenceng, ada Saradan, Mejayan, Balerejo, dan Wungu. Desa Klumutan, Kecamatan Saradan, salah satu desa terparah terdampak banjir dengan ketinggian mencapai 5 meter. "Ini termasuk parah," kata Kepala Desa Klumutan Agus Rokamanto.


Agus mengakui, wilayahnya memang daerah langganan banjir. Namun, genangannya tidak sampai menyentuh teras warga. Pada 1986, 33 tahun silam, tinggi genangan hanya 1 meter.


Di Tuban, banjir juga tidak kalah mengkhawatirkan. Hujan mengakibatkan sejumlah sungai meluap dan banjir bandang di beberapa kecamatan. Antara lain Kecamatan Parengan, Singgahan, Senori, dan Bangilan. Kemudian Kecamatan Montong, Kerek, Merakurak, dan wilayah kota.


Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban, banjir terparah menerjang wilayah Kecamatan Parengan dan Merakurak. Banjir di dua kecamatan itu terjadi akibat meluapnya sungai setempat.


Kepala Pelaksana BPBD Tuban Joko Ludiyono mengatakan, di Parengan, luapan dari Kali Kening menerjang sepuluh desa. Akibat banjir, banyak kantor pemerintah yang tidak memberikan pelayanan. Sekolah menghentikan kegiatan belajar-mengajar. Puskesmas juga tutup, tak bisa memberikan pelayanan karena terendam.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore