Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 November 2022 | 04.54 WIB

Desa Tanggap Perubahan Iklim

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Desa telah menjadi penyangga kesejahteraan nasional. Bahkan ketika pandemi Covid-19 sekalipun, hingga awal 2022. Kini, desa harus bersiap menghadapi tantangan perubahan iklim.

Diramalkan hujan ekstrem masih berlangsung hingga Maret 2023. Setelah itu, arus udara panas bakal melanda. Meskipun, alhamdulillah, samudera di antara tujuh belas ribu nusa bakal menahan sebagian udara panas.

Agar tanggap perubahan iklim, harus disadari kondisi ekologi mutakhir. Pandemi Covid-19 ternyata memperbaiki ekologi desa. Misalnya, pembatasan gerak warga mengurangi cemaran air. Pada periode 2014-2018 pencemaran air meningkat ke 6.629 desa. Nah, lajunya berbalik menghilang sampai 5.163 desa sepanjang tahun 2019-2021.

Efeknya, bencana hidrologis turut menyusut. Pada tahun 2014-2018 banjir meningkat ke 2.560 desa, namun pada periode pandemi pada tahun 2019-2021 bencana banjir menyusut sampai 4.038 desa.

Tak ayal, perbaikan ekologi desa menunjang pertanian, terutama tanaman semusim. Indikasinya terjadi peningkatan produktivitas komoditas. Contohnya, sebelum pandemi, produktivitas padi 51,14 kuintal per hektar, sepanjang pandemi meningkat menjadi 52,26 kuintal per hektar.

Kala pandemi meremukkan sektor ekonomi lain, pertumbuhan usahatani tetap positif. Pada tahun 2020 pertanian tumbuh 0,22 persen poin, kemudian naik 0,24 persen poin pada tahun 2021. Pada triwulan kedua tahun 2022 pertanian tetap tumbuh 0,19 persen poin.

Kebijakan negara telah berperan penting menjaga kesejahteraan warga desa. Terbukti, sebagaimana diprediksi banyak analis, pandemi terbukti melonjakkan kemiskinan, di desa justru mencatatkan penurunan kemiskinan. Dibandingkan tahun 2019, saat Covid-19 memuncak pada tahun 2021 kemiskinan desa tetap turun 0,32 persen poin, padahal kemiskinan kota masih saja naik 0,91 persen poin.

Ketepatan kebijakan menangani pandemi Covid-19 membuhulkan harapan serupa agar desa tanggap perubahan iklim. Apalagi, arah kebijakan SDGs Desa menunjukkan lemahnya aktivitas desa menanggapi perubahan iklim, lingkungan laut dan daratan.

Sebenarnya, capaian SDGs Desa tidak fokus pada kondisi ekologi, namun menekankan upaya desa, diikuti manfaat dan dampaknya bagi warga. SDGs Desa Tujuan 13: Desa Tanggap Perubahan Iklim, baru tercapai 7,71 persen poin. Sebabnya, terlalu rendah mitigasi bencana di wilayah rukun tetangga. Padahal, inilah komunitas terkecil bagi keluarga.

SDGs Desa Tujuan 14: Desa Peduli Lingkungan Laut, tercapai 24,65 persen. Sedangkan, SDGs Desa Tujuan 15: Desa Peduli Lingkungan Darat, tercapai 55,96 persen. Rendahnya capaian ini disumbang oleh ketiadaan tata ruang desa, akibatnya konservasi lahan tidak terjaga.

Disadari, perubahan iklim melanda biosfer alias mondial, namun desa tetap merasakan dampaknya. Maka, rumusan pelokalan tujuan dalam SDGs Desa bukanlah penanganan, melainkan tanggap. Maknanya, bukan berpretensi mampu menangani perubahan iklim, namun fokus pada kesiagaan terhadap tantangan maupun dampak perubahan iklim pada tingkat desa.

Kebijakan desa tanggap perubahan iklim mencakup, pertama, desa menyusun hingga menerapkan tata ruang desa. Tujuannya, agar warga memahami peta spasial tempat tinggalnya, lalu berpartisipasi menjaga keberlanjutan lahan pertanian dan perikanan, serta konservasi flora dan fauna. Saat ini 31.354 desa (42 persen) sukses menyusun tata ruang desa. Langkah ini perlu diikuti desa-desa lain hingga total 74.961 desa.

Kedua, desa menyiapkan dan secara berkala mengecek mitigasi bencana. Ini mencakup akses peringatan dini cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Juga, menyiapkan tata kelola peringatan bencana antar desa. Sekarang 12.227 desa (17 persen) menjalankan peringatan dini bencana, dan baru 13.069 desa (18 persen) yang menyiapkan perlengkapan bencana.

Ketiga, desa tanggap bencana, ketika bencana benar-benar terjadi. KepMendesa PDTT Nomor 71/2022 telah mendetilkan langkah-langkah praktis mempercepat musyawarah desa, penanganan darurat bencana, bahkan boleh memanfaatkan dana talangan yang akan ditutup dengan dana desa, hingga kegiatan pemulihan warga pasca bencana.

Dari sini kita yakin, dengan SDGs Desa, desa akan selalu menjadi bantalan ekonomi nasional, menjadi entitas yang paling tahan terhadap krisis apapun. Percaya Desa, Desa Bisa.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore