
Photo
PEMADAMAN listrik dalam waktu lama pada Minggu lalu membuat aktivitas perekonomian di wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, terganggu.
Saat ini Indonesia memang masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berbahan bakar batu bara.
PLTU membutuhkan waktu masuk ke sistem selama 6 hingga 8 jam jika tidak dalam perawatan. PLTU yang mati pada Minggu (4/8) baru bisa beroperasi Senin. Jika yang digunakan gas dan diesel, bisa cepat masuk ke sistem. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk kembali nyala. Lalu, bisa masuk sistem dalam 20 menit saja. Namun, agar sistem berjalan normal, akan ada protokol-protokol yang harus diikuti dan tidak boleh terburu-buru.
Jika ditopang dengan EBT (energi baru dan terbarukan) seperti PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) dan disimpan dalam storage atau baterai, bisa bertahan untuk waktu cukup lama.
PLN sebenarnya sudah memiliki rencana pembangunan upper cisokan pumped storage hydro-electrical power yang akan beroperasi pada 2021 dan 2022. Kapasitasnya 1.000 mw. Lokasinya di Jawa Barat.
Masyarakat juga bisa memasang panel surya atap. Sayang, itu sama saja saat listrik mati jika tidak memiliki baterai. Jika masyarakat harus menjual dayanya ke PLN, lalu membeli kembali daya tersebut, saat terjadi pemadaman masal, ya sama saja. Listrik tetap tidak bisa disambungkan ke masyarakat jika terjadi gangguan.
Potensi yang banyak ada di Indonesia untuk EBT adalah menggunakan geotermal maupun pembangkit listrik tenaga air dan angin. Relatif murah juga untuk panel solar karena potensinya besar di Indonesia dan bisa dengan gas, bahkan dengan PLTU. Tetapi, sekali lagi, skala ekonomi juga menentukan kompetitifnya tarif antara pembangkit EBT dan energi fosil.
Pemadaman listrik pada Minggu lalu memang belum sepenuhnya pulih. Hingga kemarin sore terus dilakukan pemulihan oleh PLN untuk wilayah terdampak. Hal itu terjadi karena pasokan daya listrik belum sepenuhnya pulih dari timur ke barat.
Jumlah pembangkit belum cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik yang ada. Transfer daya dari timur ke barat belum bisa dilakukan karena gangguan sirkuit.
*) Direktur eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR)
**) Disarikan dari wawancara Virdita Rizki

Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs Uzbekistan: Ruben Dias Siap Hadapi Tim Bertahan
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Penampakan Wajah Wanita yang Menipu Tantri Kotak dkk dengan Kerugian Mencapai Rp 10 Miliar
Viral! Pengakuan BEM FH UBK Usai Temui Gibran, Ngaku Terima Uang hingga Minta Maaf ke Mahasiswa
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Kolombia vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Daniel Munoz Motor Serangan Los Cafeteros
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
Prediksi Skor Panama vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Luka Modric Berburu Poin Pertama
