alexametrics

Melampaui Materialisme Ramadan

Oleh MASDAR HILMY*
4 Mei 2020, 13:22:08 WIB

PADA awalnya, Ramadan adalah murni soal spiritual dan ketakwaan. Ramadan tidak ada urusannya dengan segala hal yang bersifat materi atau hasrat libidinal. Secara normatif, tujuan disyariatkannya ibadah puasa di bulan Ramadan adalah untuk membentuk pribadi yang bertakwa (QS Al Baqarah: 183). Takwa menjadi kata kunci dalam Islam yang menjadi spirit seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadan, baik ibadah vertikal (hablun min Allah) maupun ibadah horizontal (hablun min al-nas).

Berbagai hadis Nabi juga mengafirmasi watak dasar Ramadan yang nirbendawi ini. Dalam sebuah hadis ditegaskan, ”Barang siapa yang mendirikan (ibadah) Ramadan dengan penuh iman dan mengharap rida Allah, maka segala dosanya akan diampuni.” Dalam hadis lain disebutkan, bulan Ramadan terdiri atas tiga keutamaan: ”awalnya adalah rahmat, di tengahnya maghfirah (ampunan), dan di akhir adalah pembebasan dari api neraka.” Lagi-lagi, tidak ada relevansi antara Ramadan dan materialisme libidinal.

Satu-satunya ibadah di bulan Ramadan yang mengandung dimensi materi atau kebendaan adalah zakat. Zakat adalah rukun Islam keempat yang wajib ditunaikan setiap muslim. Dimensi material yang terkandung dalam zakat menyangkut hitungan nominal dari harta yang wajib kita keluarkan, baik zakat fitrah maupun zakat mal. Namun, dimensi material dalam zakat lebih merupakan aspek instrumental yang berfungsi sebagai alat pembebas manusia dari berbagai keterbelengguan materi.

Selubung Konsumerisme

Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, Ramadan menjadi sangat lekat dengan dimensi materialisme libidinal. Tingkat konsumsi masyarakat naik berlipat-lipat di bulan ini dibanding sebelas bulan yang lain. Tidak mengherankan jika demi menyambut bulan suci ini, umat muslim harus menabung di sebelas bulan sebelumnya agar bisa merayakan Ramadan dan Lebaran secara bermartabat.

Akibatnya, proses transaksi ekonomi dan peredaran uang meningkat drastis di bulan ini. Mal-mal dan tempat perbelanjaan menjadi ramai oleh pengunjung yang berburu berbagai macam kebutuhan untuk menyambut datangnya Ramadan dan Idul Fitri. Tak ayal, pusat-pusat perbelanjaan harus menyediakan stok barang berlebih untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Berbagai ritel perbelanjaan wajib memajang menu kebutuhan seperti gula pasir; minyak goreng; serta berbagai macam kue Lebaran seperti kurma, biskuit, kue kering, roti kaleng, dan semacamnya.

Tingkat konsumsi ekonomi yang tinggi di kalangan masyarakat ternyata tidak berhenti seiring dengan usainya Ramadan. Pola hidup konsumtif berlanjut dan cenderung menemukan puncaknya saat Lebaran tiba. Menjelang Lebaran, masyarakat kita melakukan ”ritual” tahunan yang berbiaya tinggi: mudik.

Untuk menopang kebutuhan mobilitas mudik, banyak orang yang membutuhkan kendaraan baru. Tak jarang momen itu dimanfaatkan para pengusaha otomotif untuk menjual produk terbarunya. Mereka tahu persis kebutuhan kendaraan sangat tinggi pada saat Lebaran.

Karena itu, tidak mengherankan jika masyarakat kita cenderung ”memaksakan” diri untuk membelanjakan hartanya pada batas kemampuan maksimal di saat Lebaran. Bagi masyarakat yang mampu secara ekonomi, pola konsumsi demikian tentu saja tidak menjadi masalah. Mereka bisa saja merogoh koceknya untuk membeli barang-barang mewah di saat Lebaran. Tetapi, bagi masyarakat kelas bawah, pola konsumsi berbiaya tinggi sungguh sangat memberatkan mereka. Dalam konteks ini, Ramadan dan Lebaran menjadi parade gemerlap kemewahan duniawi ketimbang kesejatian spiritual. Pergeseran itu terjadi karena Ramadan dan Lebaran telah menjelma menjadi festival sosial budaya berbiaya tinggi.

Untuk menopang kebutuhan masyarakat saat Ramadan dan Lebaran, tak jarang Bank Indonesia (BI) harus mencetak uang lebih banyak daripada biasanya. Pada Lebaran 2019 BI telah mengucurkan uang segar 217,1 triliun rupiah untuk menopang keperluan masyarakat. Jumlah tersebut meningkat 13,5 persen dari tahun sebelumnya yang ”hanya” Rp 188,2 triliun. Uang sebanyak itu pun berputar hanya di saat Ramadan dan Lebaran. Setelah itu kebutuhan konsumsi masyarakat kembali normal seperti sediakala.

Memang berbagai atribut bendawi dan kesenangan libidinal tidak dilarang untuk dirayakan di bulan suci Ramadan dan Lebaran. Di satu sisi, masyarakat berhak merayakan ”kemenangan” menjalani ibadah puasa sebulan penuh lamanya dengan sukacita. Sayangnya, perayaan kemenangan tersebut cenderung berlebihan dan membebani ekonomi masyarakat kelas bawah. Bagi kelompok tersebut, alih-alih mendatangkan sukacita dan kegembiraan, datangnya Lebaran barangkali lebih merupakan nestapa sosial.

Alhasil, tidak bisa dimungkiri, Ramadan dan Lebaran telah menjelma menjadi ajang pemenuhan hasrat libidinal bagi sebagian masyarakat kita. Ironisnya, konsumsi berbiaya tinggi pada saat Ramadan dan Lebaran bukan untuk memenuhi kebutuhan primernya, tetapi untuk memenuhi kebutuhan sekunder, bahkan kebutuhan tersier mereka. Sebuah tradisi pemborosan (tabdzir) yang tidak berkorelasi langsung terhadap peningkatan kualitas takwa dan kesalehan seseorang.

”Spiritual Distancing”

Di tahun ini, segala bentuk gempita bendawi tersebut hampir dipastikan hilang dari lanskap keberagamaan masyarakat kita akibat pagebluk Covid-19 yang masih mengancam bangsa ini. Pemerintah pun telah melarang mudik bagi masyarakat pada Lebaran tahun ini. Bagi kebanyakan masyarakat kita, hilangnya tradisi mudik dan perayaan Lebaran mungkin cenderung diratapi sebagai sebuah kehilangan besar. Tidak ada lagi parade kemewahan dan unjuk status sosial pada saat Lebaran tiba.

Tetapi, bagi para pencari kesejatian, tidak ada bedanya antara gemerlap dan kesunyian Lebaran. Sebaliknya, gempita bendawi dan riuh rendah Lebaran niscaya tidak mampu menggoyahkan kekhusyukan mereka menggapai esensi ibadah yang hakiki: takwa. Ada sebuah kata mutiara Arab yang sangat indah untuk direfleksikan: ”Hari Raya Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang mengenakan baju baru, tetapi bagi orang-orang yang bertambah ketaatannya.”

Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menggali hikmah terselubung (blessing in disguise) dari peristiwa pandemi ini untuk melakukan spiritual distancing (jaga jarak spiritual) antara jiwa dan rohani kita dengan segala hal yang berbau kenikmatan material dan libidinal. Harus diakui, selubung materialisme bendawi di saat Ramadan dan Lebaran telah menumpulkan ketajaman mata batin kita dalam menggapai kesejatian spiritual yang sesungguhnya. Hal itu terjadi karena kita lebih asyik masyuk dengan berbagai atribut bendawi dan hasrat libidinal ketimbang pencerahan spiritual. Akibatnya, Ramadan dan Lebaran menjadi rutinitas festival yang tak berbekas secara spiritual.

Sekarang inilah saatnya kita melupakan segala bentuk kenikmatan libidinal Lebaran untuk berempati sejenak kepada para ”mujahid” di garda depan medan pertempuran melawan Covid-19 seperti tenaga medis dan relawan satuan tugas (satgas) Covid-19. Kita juga harus berempati atas penderitaan para warga yang terdampak akibat pandemi ini dengan menyantuni mereka secara tulus. Merayakan Ramadan dan Lebaran di tengah keheningan memberikan peluang bagi terbebaskannya jiwa-jiwa kerdil yang terbelenggu oleh penjara materialisme libidinal. (*)

*) Guru besar dan rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra


Close Ads