alexametrics

100 Hari Pertama Kepala Daerah Baru

Oleh BADRI MUNIR SUKOCO *)
4 Maret 2021, 19:48:08 WIB

SEBAGIAN besar kepala daerah yang terpilih pada pilkada serentak 2020 telah dilantik pada Februari lalu. Menyisakan sebagian yang masih menjalani sengketa dan sejumlah daerah yang masa jabatan kepala daerahnya habis pada Maret hingga Juni mendatang.

Pilkada yang diselenggarakan Desember tahun lalu diikuti serentak oleh 270 daerah (49,27 persen dari total 548 daerah). Perinciannya, 9 provinsi (26,47 persen), 37 kota (37,76 persen), dan 224 kabupaten (53,85 persen). Mengingat hampir setengah dari jumlah kepala daerah di Indonesia berganti, tentu dampaknya terhadap pencapaian visi Kabinet Indonesia Maju untuk lepas dari middle income trap sangatlah signifikan.

Sebagai kepala daerah baru, realisasi janji-janji kampanye akan sangat ditunggu masyarakatnya. Dan masyarakat umumnya melihat kinerja pemimpin baru pada 100 hari pertamanya. Apa yang seharusnya dilakukan kepala daerah baru pada 100 hari pertamanya?

Tindakan Cepat

Istilah ”100 hari pertama” kali pertama diperkenalkan Presiden Ke-32 Amerika Serikat (AS) Franklin D. Roosevelt (FDR). Memimpin pada tahun keempat sejak depresi ekonomi, beliau menekankan pentingnya tindakan yang cepat dan tepat dalam mengatasi dampak ekonomi yang dialami AS.

Sesuai catatan The Economist, dalam 100 hari pertamanya FDR mengusulkan 76 rancangan undang-undang (RUU) untuk disetujui Kongres AS. Termasuk RUU untuk mengatur pasar saham yang memicu terjadinya depresi ekonomi pada 1929. Di samping itu, terdapat 99 executive orders yang diluncurkan pada 100 hari pertama.

Bisa dibayangkan sibuknya FDR dalam mengorkestrasi semua sumber daya yang dimiliki untuk merancang dan mengegolkan RUU di Kongres dan secara bersamaan memberikan executive orders untuk diimplementasikan bawahannya. Yang paling mendekati rekor tersebut adalah Harry S. Truman, penerus FDR, dengan menyelesaikan 53 RUU pada 100 hari pertamanya.

Tentu kompleksitas pengajuan RUU saat ini berbeda. Misalnya, Barack H. Obama membutuhkan satu tahun penuh untuk meloloskan The Affordable Care Act (Obamacare). Rekor yang dimiliki FDR tidak akan terlewati presiden lain. Namun, ”100 hari pertama” senantiasa menjadi cara paling efektif dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa pemimpin baru siap untuk bekerja.

Seratus hari pertama adalah waktu yang ideal karena approval ratings di masyarakat sedang tinggi-tingginya (sehingga terpilih). Tidak memiliki konflik dengan banyak pihak dan para staf akan mendukung semua program yang dicanangkan dengan harapan posisi strategis dengan membantu pemimpin baru.

Kepala Daerah yang Ambidextrous

Dewa Romawi Janus memiliki dua pasang mata. Sepasang mata pertama fokus pada apa yang telah terjadi dan yang kedua fokus pada apa yang akan terjadi. Pemimpin organisasi, menurut O’Reilly dan Tushman (2004), harus memiliki kemampuan untuk menghubungkan keduanya, ambidextrous. Pemimpin harus mampu memperbaiki kualitas layanan dan produk yang dihasilkan organisasi, pada saat yang sama menciptakan inovasi-inovasi yang akan menentukan masa depan organisasi. Organisasi dengan pemimpin ambidextrous 90 persen memiliki tingkat kesuksesan lebih tinggi.

Pemimpin yang ambidextrous senantiasa konsisten dalam mengeksplorasi ide-ide inovatif guna mencapai visi jangka panjang sekaligus memimpin operasi organisasi agar makin efektif dan efisien (eksploitatif). Eksploitasi mengarah pada pemanfaatan dan perbaikan akan proses, kompetensi, teknologi, dan sumber daya yang telah ada. Sedangkan eksplorasi menitikberatkan pada eksperimentasi pada pengetahuan dan alternatif baru yang belum ada.

Dalam konteks daerah, eksploitasi cenderung dilakukan daerah-daerah yang memiliki kekayaan alam besar. Keputusan ini dipilih karena menjanjikan kesuksesan lebih cepat dan lambat laun makin tergantung untuk lebih mengeksploitasinya, mengakibatkan success trap. Eksplorasi merupakan pilihan logis bagi daerah dengan SDA terbatas dengan menawarkan alternatif-alternatif baru bagi dunia. Biasanya high tech atau services economy menjadi pilihan karena menjanjikan hasil besar dalam jangka panjang.

Mengingat arah eksplorasi susah diprediksi, mekanisme ini akan mendorong sebuah daerah untuk menyiapkan beberapa alternatif dan mengarahkan pada failure trap. Bilamana eksploitasi menjadikan daerah sukses dalam jangka pendek tapi rentan dalam jangka panjang, eksplorasi kurang efektif dalam jangka pendek dan rentan akan perubahan teknologi dan pasar meskipun menjanjikan kesuksesan dalam jangka panjang.

Seratus hari pertama bagi para kepala daerah bukanlah akhir cerita, melainkan akhir dari permulaan baru pada 1.825 hari masa jabatan. Bagi kepala daerah baru, 100 hari pertama sangat krusial dalam merealisasikan perubahan-perubahan yang telah dijanjikan pada kampanye sebelumnya. Program-program prioritas akan dilaksanakan dalam 100 hari ini dan dukungan dari stakeholders bergantung bagaimana kepala daerah baru mengeksekusinya.

Seratus hari pertama juga menjadi sinyal inovasi baru yang akan dieksekusi dan peningkatan efektivitas serta efisiensi program sebelumnya yang telah sukses mengantarkan pada periode kepemimpinan kedua. Yang pasti, 100 hari pertama adalah langkah awal bagi para kepala daerah dalam mempersiapkan legasi bagi kepemimpinannya.

Baca Juga: Diduga Buat Laporan Fiktif, Aktor Senior Mark Sungkar Didakwa Korupsi

Salah satu program prioritas Kabinet Indonesia Maju adalah transformasi ekonomi agar Indonesia terlepas dari middle income trap. Tentu kebijakan nasional ini perlu diikuti para kepala daerah. Mengeksploitasi keunggulan daerah yang sudah ada (meminimalkan success trap) dan mengeksplorasi keunggulan baru yang bernilai tambah tinggi (memitigasi failure trap) adalah sebuah keharusan. Kepala daerah yang ambidextrous-lah yang akan mampu mewujudkannya. (*)


*) Badri Munir Sukoco, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads