Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Februari 2018 | 15.29 WIB

Yenny Wahid Dalam Minus Dan Bonus Indonesia

Yenny Wahid bersama Presiden Joko Widodo dalam sebuah acara di Pondok Pesantren Jombang, Jawa Timur - Image

Yenny Wahid bersama Presiden Joko Widodo dalam sebuah acara di Pondok Pesantren Jombang, Jawa Timur


"Ada yang bisa tokoh agama lakukan, tapi juga ada peran dari para tokoh negara, dari partai politik untuk mengeliminasi dari daya rusak faktor non agama ini terhadap kerukunan," kata Din Syamsuddin.


Melihat pada kasus pilkada Jakarta, apa yang dikatakan Prof Din Syamsuddin terbukti benar.


Faktor dominan dalam konflik agama seringkali dipicu oleh unsur-unsur yang tak berkaitan dengan ajaran agama sama sekali.


Konflik sesungguhnya dipicu oleh persoalan politik, ekonomi, dan hukum yang selanjutnya di-blow up menjadi konflik agama.


Faktor politik untuk memperebutkan posisi Gubernur Jakarta dan faktor ekonomi untuk memperebutkan APBD Jakarta yang hampir Rp 80 triliun/tahun serta faktor hukum yang menggusur rakyat kecil, dialihkan kepada konflik agama.


Kemudian konflik agama ini memainkan peranan besar dalam memenangkan salah satu calon.


Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Desember 2017 mencatat sentimen agama terus meningkat. Hal itu berimbas pada pemilihan presiden (pilpres) 2019.


Dua calon presiden terkuat, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto, dinilai masyarakat sebagai sosok nasionalis. Sehingga dalam situasi terus menguatnya sentimen agama, maka menuntut kedua tokoh tersebut agar mencari pendamping dari kalangan Islam.


Menurut Peneliti LSI Taufik Febri, pilkada di DKI Jakarta membangunkan lagi kesadaran masyarakat atas perlunya tokoh Islam. Sejak Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggal, penduduk Muslim merasa tak ada tokoh sentral yang mewakili mereka untuk menyatukan umat Islam.


Padahal, dengan tokoh sentral itu diharapkan dapat mengarahkan umat Islam, setidaknya mengantisipasi menguatnya isu agama dalam pilpres 2019. Salah satu cara adalah memilih calon wakil presiden dari tokoh muda Islam sebagai pendamping calon presiden nasionalis.


Momentum inilah yang dimiliki Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau lebih dikenal Yenny Wahid. Putri kedua Gus Dur ini memiliki pendidikan yang mumpuni dan pengetahuan yang luas. Yenny tampak selalu mendampingi Gus Dur baik dalam kegiatan kenegaraan luar negeri maupun dalam aktifitas politik Gus Dur di dalam negeri.


Sejak kepergian Gus Dur, Yenny dikenal konsisten mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Gus Dur dalam seluruh kegiatannya. Yang diimplementasikan dalam Wahid Institute maupun Wahid Foundation.


Hal ini membuat Yenny diterima oleh semua pihak, baik golongan agama, dari yang mayoritas sampai minoritas. Diterima oleh semua golongan ideologi politik, dari yang kiri hingga kanan.


Dan diterima oleh seluruh strata sosial masyarakat, dari yang paling bawah hingga paling atas. Sehingga kerinduan pemilih muslim terhadap Gus Dur dapat tergantikan dengan hadirnya Yenny Wahid.


Selain itu Indonesia saat ini sedang memasuki era bonus demografi. Yang saat ini sudah dimulai dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada rentang tahun 2025-2030 ketika jumlah penduduk usia produktif berada pada angka 70 persen.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore