Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Desember 2024 | 16.01 WIB

Refleksi Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2024: Jalan Panjang Vaksin HIV

Dominicus Husada - Image

Dominicus Husada

Makin hari makin banyak vaksin diciptakan. Perjuangan melawan penyakit pun jadi lebih menggembirakan. Sebab, semua orang tahu, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Di masa depan diharapkan makin sedikit penyakit lantaran pencegahan bisa dilakukan dengan efektif.

Salah satu tantangan terbesar di bidang vaksin adalah menciptakan pencegahan untuk penyakit infeksi HIV (human immunodeficiency viruses). Hingga saat ini, belum ada satu pun kandidat vaksin HIV yang berhasil. Upaya sudah berjalan sedikitnya selama 40 tahun, sejak kali pertama HIV ditemukan. Telah sangat banyak calon vaksin yang diteliti. Kandidat vaksin HIV bahkan merupakan pemegang rekor dunia dengan lebih dari 500 calon. Namun, belum satu pun yang memberikan hasil yang sesuai dengan harapan.

Pada 2003–2006 uji klinik vaksin RV144 di Thailand sempat memberikan hasil menggembirakan. Sekalipun angka efikasi hanya sekitar 30 persen, seluruh dunia menyambut gembira. Itulah bukti pertama bahwa kekebalan terhadap HIV bisa dibangkitkan.

Secara absolut, angka tersebut memang rendah jika dibandingkan dengan persyaratan WHO untuk vaksin Covid (50 persen) atau vaksin standar lainnya yang lebih dari 80 persen. Meski demikian, memperhatikan kesulitan yang dihadapi serta sifat virus dan penyakit infeksi HIV, pencapaian itu menjadi salah satu tonggak penting. Sayang sekali, angka tersebut hanya bertahan selama setahun. Karena itu, RV144 tidak jadi digunakan secara massal.

Keunikan HIV

HIV mempunyai beberapa keunikan. Pertama, HIV menyerang sistem kekebalan tubuh yang menjadi senjata utama pada saat vaksin diberikan. Karena sistem kekebalan runtuh, tidak ada lagi yang bisa dibangkitkan ketika vaksin dimasukkan.

Kedua, HIV sangat mudah bermutasi. Kemampuan mutasi itu jauh melampaui virus SARS-CoV-2 dan influenza. Belakangan kita tahu, mutasi virus SARS-CoV-2 juga sulit ditundukkan dengan vaksin secara jangka panjang. Secara agregat, kemampuan mutasi HIV seratus kali lebih dahsyat daripada virus penyebab Covid-19 itu. Ketiga, HIV bersembunyi pada kelenjar limfa di berbagai lokasi yang pada hakikatnya merupakan salah satu organ penting yang jumlahnya sangat banyak.

HIV adalah satu di antara tiga penyakit di dunia yang membutuhkan pendanaan sangat besar. Karena itu, penelitian mencari pencegahan dan pengobatannya, selain tentu saja penelitian di bidang lainnya, bisa berlangsung secara terus-menerus dan berskala luas.

Pandemi Covid-19 melahirkan beberapa vaksin dengan konsep baru. Memang, upaya penelitian telah dilakukan jauh sebelum pandemi terjadi. Namun, penggunaan secara massal untuk vaksin RNA, DNA, dan vaksin bervektor virus baru terjadi pada era pandemi empat tahun terakhir.

Keberhasilan beberapa vaksin mutakhir membuat para ahli mulai mencoba menggunakannya untuk vaksin HIV. Karena penelitian vaksin memerlukan waktu panjang (umumnya lebih dari 10 tahun), hasil terobosan mutakhir itu belum bisa dilihat dalam 1–2 tahun ke depan.

Vaksin Pengobatan

Upaya lain yang juga gencar dilakukan adalah mengalihkan vaksin yang semula dibuat dengan tujuan pencegahan menjadi bertujuan pengobatan. Artinya, vaksin diberikan pada orang yang sudah terinfeksi dengan harapan perjalanan sakit tidak berlanjut. Hal itu berbeda dengan vaksin pencegahan yang diberikan kepada orang yang belum tertular.

Vaksin RV144 adalah salah satu yang dialihfungsikan menjadi vaksin pengobatan setelah dikombinasikan dengan dua vaksin lain yang juga gagal berfungsi untuk pencegahan.

Hingga akhir 2024, dunia belum sepenuhnya berhasil menaklukkan HIV. Target menghilangkan penyakit baru pada 2030 sangat boleh jadi tidak akan tercapai. Saat ini saja, baru ada 9 negara yang bisa mencapai keberhasilan. Sepuluh negara tambahan sedang dalam proses yang sudah mendekati akhir.

Di antara 20 negara dengan penderita HIV terbanyak di dunia, yang sebagian besar berada di Benua Afrika, belum ada satu pun yang menunjukkan keberhasilan memuaskan untuk menurunkan kasus. Tahun lalu tercatat 1,3 juta penderita baru di seluruh dunia. Di Asia, penderita HIV terbanyak ditemukan di India dan Thailand.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore