Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Maret 2024 | 22.09 WIB

‘Bersahabat’ dengan Gempa Bumi

Agustinus Agus Setiawan, Pengajar pada Program Studi Teknik Sipil Universitas Pembangunan Jaya

Agustinus Agus Setiawan *)

BELUM hilang dari ingatan akan musibah gempa di Cianjur pada 21 November 2022, dengan kekuatan magnitudo 5,6 dan menelan korban jiwa sejumlah 327 orang. Minggu lalu, tepatnya 23 Maret 2024, Indonesia kembali diguncang gempa dengan magnitudo cukup besar. Tercatat 158 kali gerakan gempa di sekitar Pulau Bawean, dengan magnitudo terbesar adalah 6,5 sejarak 132 km dari Timur Laut Tuban, Jawa Timur.

Kejadian Gempa Bawean ini mengakibatkan 331 rumah rusak berat, 706 rumah rusak sedang, dan 1.356 rumah rusak ringan. Selain itu turut terdampak pula fasilitas-fasilitas umum seperti fasilitas pendidikan, fasilitas Kesehatan, rumah ibadah, kantor desa, hingga ke beberapa gedung bertingkat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sendiri mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 di seluruh wilayah Indonesia diguncang gempa bumi sebanyak 10.789 kali dengan berbagai intensitas.

Anehkah hal ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita perlu menggali kembali letak negara kita Indonesia. Secara geografis Indonesia terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Jika ditelisik lebih jauh, Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 129 gunung api aktif, atau dikenal dengan ring of fire, serta terletak berada pada pertemuan empat lempeng tektonik aktif yang bergerak, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Filipina.

Kebanyakan lempeng tektonik ini bergerak kurang dari satu milimeter per hari; gerakan ini hampir sering tidak terlihat atau dirasakan oleh indra manusia. Namun, pergerakan harian ini berarti pergerakan 1-10 sentimeter selama setahun, dan pergerakan tahunan tersebut berarti pergerakan 10-50 kilometer selama satu juta tahun.

Pergerakan pelat tektonik sendiri terbagi menjadi 3 jenis, yaitu konvergen, divergen dan transform. Pergerakan konvergen terjadi apabila dua lempeng pelat bergerak saling mendekati di mana salah satunya bergerak menghunjam hingga masuk di bawah lempeng lainnya. Pergerakan divergen terjadi manakala dua lempeng pelat tektonik bergerak saling menjauh.

Sedangkan pergerakan transform terjadi jika pertemuan dua pelat tektonik saling bergerak menggeser ke samping satu sama lain. Gerakan-gerakan pelat yang umumnya lambat namun tanpa henti ini mampu mengakibatkan tersimpannya energi di bawah kulit bumi.

Gempa bumi sendiri timbul sebagai akibat dari pergerakan tiba-tiba sepanjang patahan di dalam bumi. Pergerakan tersebut melepaskan simpanan energi dalam bentuk gelombang seismik, yang merambat ke seluruh bumi dan menyebabkan permukaan tanah berguncang.

Berkaca dari hal tersebut, maka tidaklah aneh apabila wilayah Indonesia ini cukup sering diguncangkan oleh gempa bumi, baik yang berkuatan kecil, sedang hingga besar.

Kerugian Akibat Gempa Bumi
Gempa bumi dapat menimbulkan dampak bencana terhadap lingkungan, bahkan dalam skala kekuatan yang cukup besar tidak jarang suatu kejadian gempa dapat menimbulkan akibat yang serius.

Kerusakan-kerusakan yang sering terjadi berupa kerusakan infrastruktur. Beberapa contoh kegagalan infrastruktur antara lain runtuhnya bangunan, kegagalan jembatan, jebolnya saluran air, pecahnya pipa gas, bendungan kegagalan bendungan, ledakan pipa uap, hingga kegagalan dalam sektor komunikasi.

Dampak dari kerusakan atau kegagalan infrastruktur ini tidak jarang berdampak pada manusia atau sistem lain. Kerusakan pada infrastruktur dapat menciptakan kondisi yang semakin rentan bagi masyarakat karena kerusakan infrastruktur dapat mengurangi akses terhadap sumber daya tertentu atau kegiatan yang menghasilkan pendapatan, sehingga membuat daya tahan masyarakat pasca kejadian gempa menjadi rentan terhadap risiko-risiko baru yang muncul.

Pelajaran yang diambil dari kejadian ini adalah penyediaan infrastuktur yang handal, yang memiliki kinerja baik di saat terjadi gempa, tentunya merupakan suatu tuntutan mutlak. Sudah selayaknya bangunan-bangunan di Indonesia harus didesain dan dilaksanakan dengan profesional sesuai kaidah-kaidah yang benar dan handal.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore