
Photo
EKONOM ini selalu muncul saat krisis ekonomi terjadi: Nouriel Roubini. Namanya meroket karena menebak persis terjadinya krisis finansial/moneter 1997/1998. Julukannya ”Dr Doom”.
Doom sendiri bisa dimaknai sebagai ”mala, kemalangan, kebinasaan”. Secara tidak langsung, ia ditahbiskan sebagai ahli nujum krisis (yang membuat kemalangan hidup).
Pada 2010, ia menerbitkan buku (bersama Stephen Mihm) yang bertajuk Crisis Economics: A Crash Course in the Future of Finance.
Bab 5 buku tersebut secara eksplisit ia beri judul: Global Pandemics. Sebagai pembuka bab, ia menulis: jika AS bersin, seluruh dunia akan demam. AS ekonomi terbesar dunia kala itu dan memiliki pengaruh ekonomi/keuangan ke semua penjuru negara.
Pembuka tulisan itu tidak ada yang istimewa, semua orang paham perkara tersebut. Jika ekonomi AS ambruk, negara lain akan segera terhuyung karena memiliki hubungan perdagangan, keuangan, investasi, dan yang lain.
Nyaris tidak ada negara yang kalis dari pengaruh AS dalam isu ekonomi. Namun, dalam sub-bab tulisan tersebut, Roubini dan Mihm kembali membuat titel yang mengagetkan: Disease Vectors.
Narasi yang ia buat memang mengartikan disease sebagai kerentanan dalam perspektif ekonomi (AS). Artinya, kata pandemics and disease belum menjadi suguhan krisis akibat virus yang melumpuhkan kesehatan warga dunia. Tetapi, dalam risalah yang lain, Roubini beberapa kali menyatakan bahwa wabah menjadi salah satu sebab terjadinya krisis (ekonomi).
Satu dekade kemudian, parafrase global pandemics akhirnya terjadi dan menciptakan histeria dunia. Pandemi melengkapi kejadian pilu dalam sejarah manusia modern. Di luar itu, krisis ekonomi sendiri selalu menciptakan cekam.
Depresi ekonomi usai Perang Dunia II, mala ekonomi-politik 1965 (di Indonesia), kejatuhan harga minyak pada awal dekade 1980-an dan krisis utang di Amerika Latin, krisis moneter 1997/1998, krisis perumahan AS pada 2008 (subprime mortgage), turbulensi fiskal di Eropa pada 2010, dan resesi besar 2020–2021 akibat Covid-19 telah menggetarkan semesta.
Negara murung dan warga muram memikirkan gelapnya masa depan. Hari ini kita terentak karena banyak warga Inggris yang tidak mampu makan. Tragedi selalu terselip dalam setiap resesi.
Krisis juga memproduksi mitos, sebuah keyakinan yang dipupuk secara teguh, baik dari segi penyebab maupun dampak yang ditimbulkan. Krisis diyakini akan menghancurkan bisnis yang sulit diuangkan secara cepat, misalnya investasi aset tanah/rumah.
Daya beli penduduk hancur sehingga cenderung menghindari transaksi (termasuk tanah). Bahkan, rumah banyak dijual dengan harga rendah demi memperoleh dana segar. Bukti sesaat mungkin menopang argumen tersebut, namun sektor properti justru yang paling menyembul begitu krisis mulai reda.
Manusia butuh tempat tinggal, sementara pasokan tanah tidak bertambah. Hukum ekonomi berjalan dengan sempurna: harga naik bila permintaan meningkat dan pasokan tetap (turun). Hari ini bukti ini terjadi kembali di Indonesia.
Krisis juga dipandang melahirkan kelumpuhan. Banyak insiden yang memperkuat kepercayaan tersebut sehingga yang muncul adalah pesimisme. Fakta yang terjadi kerap sebaliknya: krisis membawa pembaruan.
Kreativitas sering muncul saat situasi kelangkaan menghantam. Novel bermutu lahir dari warga di negara represif. Ketakutan mengekspresikan ide mengendap menjadi bahan baku penulisan.
Pandemi merupakan salah satu kisah yang bukan hanya menyebabkan resesi, namun juga terciptanya aneka inovasi dalam ragam kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi. Konser virtual, digitalisasi pendidikan, transaksi elektronik, perdagangan daring, dan seterusnya menjadi habitus baru pergerakan pembangunan. Jadi, krisis juga semacam ekspedisi: pengirim kabar terang.
Banyak lagi yang bisa dideretkan bahwa isi dari krisis bukan cuma kemurungan. Selama pandemi 2020, penjualan buku cetak di Inggris tembus 200 juta (tepatnya 220 juta), bahkan di AS mencapai 751 juta.
Laporan penjualan buku e-book juga sama, mengalami lonjakan seiring penggunaan gawai yang makin intensif. Jika manusia membaca buku lebih banyak, literasi bakal menyeruak. Implikasinya, inovasi makin berserak.
Sisi-sisi positif krisis mesti digandakan publikasinya sehingga antara ratapan dan harapan menjadi sepadan. Kinerja ekonomi lebih banyak disumbang oleh ekspektasi, bukan keadaan hari ini. Apabila sebagian besar manusia dominan berpikir optimistis, proyeksi kemuraman bisa dibatalkan. Jemaah yang bersikap riang gembira mesti diperbanyak. (*)
*) AHMAD ERANI YUSTIKA, Guru besar FEB UB dan ekonom senior Indef

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
12 Kuliner Nasi Pecel Enak di Jember, Perpaduan Sayur Segar, Rempeyek dan Bumbu Kacang yang Sedap
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
