
Photo
SITUASI pandemi ganda di dunia memberi pukulan tambahan bagi penderita HIV. Seperti halnya penderita penyakit lain, terutama yang disertai penurunan sistem kekebalan, gangguan selama pandemi yang sangat mengganggu pelayanan kesehatan berpotensi menyebabkan banyak kematian. Padahal, hingga sekarang, kondisi umum penyakit HIV di Indonesia belum cukup menggembirakan, sekalipun sudah mencapai kemajuan yang lumayan dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Peringatan Hari AIDS Sedunia tiap 1 Desember bisa jadi momen untuk meningkatkan kesadaran global untuk mengatasi penyakit menular tersebut.
Berdasar pengalaman di banyak negara, salah satu upaya paling realistis dalam menurunkan penderita baru yang sekaligus akan menaikkan derajat kesehatan adalah dengan memberi prioritas pada penularan vertikal. Penularan vertikal adalah ketika seorang ibu menularkan penyakit kepada bayi yang dikandungnya. Dalam upaya ini, Kementerian Kesehatan RI menggandengkan penyakit HIV dengan sifilis dan hepatitis B.
Tiga penyakit tersebut memang memiliki beberapa kesamaan. Ketiganya masih menjadi masalah kesehatan yang menakutkan, banyak dijumpai di tanah air, efek jangka panjangnya permanen, sama ditularkan dari ibu ke janin atau bayi, penularan utama antarmanusia melalui jalur darah, serta mempunyai cara dan sarana pencegahan yang efektif.
Target Kemenkes RI sejak memulai program ini pada 2017 lalu adalah eliminasi. Eliminasi adalah menjadikan penyakit tersebut sebagai bukan lagi masalah signifikan. Jadi, bukan hilang sama sekali. Angka yang dituju adalah maksimal 5 per 10.000 kelahiran hidup. Ini angka yang sangat ambisius, tetapi bukan tidak masuk akal.
Dua tahun lalu jumlah seluruh penderita HIV di Indonesia melewati setengah juta orang dengan sebaran yang bervariasi lumayan besar antarprovinsi. Banyak orang menilai angka itu terlalu rendah. Diperkirakan ada banyak kasus tidak terdeteksi karena yang bersangkutan tidak menjalani pemeriksaan laboratorium. Memang ketiga penyakit memerlukan kepastian diagnosis dari laboratorium. Jumlah ibu hamil yang terkena HIV di Jawa Timur selama Januari hingga September 2022 telah melewati 600 orang. Jangan dilupakan, salah satu kelompok terbesar yang menderita HIV berasal dari para ibu rumah tangga.
Penderita penyakit sifilis pernah sangat minimal. Namun, kemudian meningkat kembali sejalan dengan merebaknya kasus HIV, termasuk di Indonesia. Jumlah ibu hamil dengan sifilis di Jawa Timur selama 2022 sekitar seperlima penderita HIV. Ini angka yang relatif besar. Untuk hepatitis B, di mana Indonesia menjadi salah satu negara di dunia dengan pengidap terbanyak, angka prevalensi mencapai 7 persen atau sekitar 18 juta penderita. Kita menempati peringkat pertama di Asia Tenggara.
Upaya pencegahan penularan ke bayi pada ketiga penyakit harus diawali dengan mendeteksi ibunya. Mau tidak mau diagnosis ibu adalah kunci utama. Diagnosis pasti tersebut memerlukan pengambilan darah, dan di sarana kesehatan seperti puskesmas di Surabaya hal ini jelas dimungkinkan. Jika ibu tidak tertular hingga proses kelahiran, tentu bayi akan aman. Jika ibu tertular, langkah penanganan yang telah disiapkan harus dijalankan.
Pada HIV dan sifilis, si ibu harus diobati sejak diagnosis ditegakkan. Kondisi hamil bukan penghalang pengobatan. Berbagai referensi ilmiah telah sangat kuat membuktikan hal ini. Jika pengobatan ditunda, efek yang terjadi lebih berbahaya. Ada beberapa kasus yang mengecoh karena di awal kehamilan negatif namun kemudian menjadi positif di belakang hari menjelang persalinan. Jika tenaga kesehatan lengah, kasus seperti ini tidak akan tertangani dengan optimal.
Selanjutnya, setelah lahir si bayi yang akan menerima pengobatan. Obat HIV untuk bayi berupa tablet atau sirup yang harus diminum. Sedangkan pada sifilis dan hepatitis B, pengobatan berupa obat injeksi atau vaksin. Semua upaya ini dikendalikan melalui sarana kesehatan dan relatif tidak tersedia di jalur perorangan sehingga antisipasi sejak awal sangat penting. Seluruh obat dan keperluan diagnostik disediakan gratis oleh pemerintah supaya pemanfaatan masyarakat bisa maksimal.
Jika sejak tahap ibu hamil kegiatan diagnosis dan pengobatan berjalan baik, hasil yang diperoleh sangat bermakna. Penularan bayi HIV yang awalnya sekitar 40–50 persen bisa menurun menjadi 1 persen. Tidak heran di banyak negara maju penularan bayi baru lahir sudah terhenti karena program yang masif. Di Asia, Thailand dan Malaysia menjadi dua negara pertama yang mencapai tahap tersebut. Ini sangat mencengangkan mengingat penderita HIV di Thailand sesungguhnya adalah yang terbesar di Asia.
Masalah paling sering di lapangan adalah menjangkau ibu hamil untuk dites. Saat ini kemampuan menjangkau ibu hamil di Indonesia tidak merata antardaerah. Secara agregat, angka kita baru berkisar 60 persen, terutama untuk HIV. Masalah kedua menyangkut ketepatan waktu menyiapkan kelengkapan diagnosis dan pengobatan. Ini lebih berurusan dengan koordinasi sarana kesehatan yang bersangkutan.
Obat HIV untuk bayi harus sudah dikonsumsi sebelum usia 72 jam. Waktu terbaik adalah dalam 24 jam pertama. Vaksin hepatitis B untuk bayi harus masuk sebelum 24 jam pertama. Makin lama ditunda makin besar angka kegagalan.
Khusus untuk HIV, pemeriksaan laboratorium memerlukan persetujuan orang yang diperiksa secara khusus pula. Hal ini merupakan kelaziman di seluruh dunia. Adapun suntikan untuk sifilis pada bayi ada yang hanya sekali, namun ada pula yang mencapai 10 hari.
Virus HIV dan hepatitis B boleh dibilang akan dibawa seseorang seumur hidup. Kuman penyebab sifilis, jika tidak diobati dan mencapai tahap ketiga, akan merusak sistem saraf dan tidak bisa dipulihkan. Vaksin yang efektif untuk mencegah HIV dan sifilis belum ditemukan hingga saat ini.
Kemenkes RI berusaha sekuat tenaga memulai tahap langkah eliminasi sejak tahun ini. Sebelum tahun 2022, kita berada pada tahap praeliminasi. Sekalipun terganggu oleh suasana pandemi, tujuan mulia ini tetap menjadi prioritas. Diperlukan kerja sama dan dukungan segenap anggota masyarakat untuk bahu-membahu mewujudkannya. (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
