Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 September 2022 | 02.48 WIB

Pesantren Aman untuk Semua

Photo - Image

Photo

PESANTREN adalah lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama. Kiai, ustad, pengurus, dan santri hidup bersama di area pesantren. Interaksi di pesantren terjadi selama 24 jam penuh dalam sehari semalam. Selama nyantri, santri bersekolah, makan, istirahat, berolahraga, dan bergaul di pesantren.

Perkembangan pendidikan dan terjaganya pergaulan santri dapat terpantau secara maksimal di lingkungan pesantren. Dan banyak orang tua yang memasrahkan anaknya di pesantren. Mereka menimbang ada banyak keuntungan pendidikan pesantren bagi anak usia remaja. Banyak orang tua menilai pesantren sebagai tempat yang aman bagi anaknya. Kondusivitas pesantren sangat terjaga. Kemampuan menghasilkan lulusan yang berkualitas telah dipercaya banyak pihak.

Namun, harapan yang tinggi akan menimbulkan kekecewaan ketika kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan harapan berbagai pihak pada pesantren. Pesantren dapat mewujudkan harapan tersebut bila didukung manajemen yang baik. Kiai sebagai pimpinan pesantren memegang peran penting dalam membangun manajemen yang efektif.

Sederet Masalah


Masalah di pesantren bukanlah fenomena gunung es yang tampak kecil di permukaan ternyata lebih besar dari perkiraan. Tanpa menafikan masalah yang ada, masalah di pesantren sebenarnya adalah masalah yang bisa terjadi di lembaga pendidikan mana saja. Sorotan terhadap pesantren akan kian meningkat di era keterbukaan informasi saat ini. Besarnya perhatian masyarakat terhadap pesantren menunjukkan harapan besar terhadap pesantren sebagai wadah pembangunan karakter dan religiusitas generasi penerus bangsa.

Beberapa tahun terakhir, banyak terdengar masalah terjadi di pesantren. Mulai pelecehan seksual, perundungan, hingga penganiayaan yang tidak jarang berujung kematian. Timbul kekhawatiran masyarakat terkait layak tidaknya menitipkan anak di pesantren. Muncul keraguan apakah pesantren mampu mengemban amanah dari orang tua. Guna mendidik anak yang sejatinya adalah titipan Tuhan.

Pesantren dengan sejarah panjangnya telah banyak melalui fase sejarah bangsa ini. Mulai awal penyebaran Islam, masa penjajahan, hingga era kemerdekaan. Pesantren mampu eksis hingga saat ini berkat watak kemandirian, akomodatif terhadap perkembangan zaman, serta kemampuannya menyelesaikan masalah.

Kekerasan yang terjadi antarsantri di pesantren adalah akibat yang timbul dari lemahnya pengawasan terhadap tiap-tiap santri. Kekerasan tidak akan terjadi bila bibit konflik dapat diselesaikan secara damai sedari awal. Ketidaksepahaman adalah hal biasa dalam pergaulan antarsantri. Namun, bila tidak dibarengi dengan sikap legawa, akan timbul kekerasan dan perundungan dari santri yang merasa kuat terhadap santri yang lemah.

Pelecehan seksual di pesantren terjadi akibat adanya person dengan perilaku menyimpang yang tidak terdeteksi sejak dini. Santri perlu didorong untuk berani melaporkan perilaku menyimpang. Baik penyimpangan teman sesama santri atau bahkan penyimpangan tenaga pendidiknya. Pelecehan seksual, perundungan, dan kekerasan fisik dapat dicegah dengan pola pengasuhan dan pengawasan yang baik.

Semangat Berbenah


Adalah tugas pesantren terus berbenah dan membuka diri atas masukan berbagai pihak yang kompeten. Semangat terus berbenah tersebut senada dengan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa umat yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Dan mereka yang hari esok lebih baik daripada hari ini.

Menjadi kerugian besar bagi pesantren yang menutup diri dengan masalah yang terjadi. Apalagi menganggap segala masalah yang terjadi adalah urusan internal pesantren yang tidak boleh dicampuri pihak lain. Kemudian menganggap pesantren adalah lembaga yang telah mapan dengan sistem yang sempurna.

Pembenahan dan keterbukaan tidak akan menghilangkan independensi dan watak kemandirian pesantren. Masukan dari wali santri, ormas Islam, tenaga kesehatan, psikolog, kepolisian, BNN, maupun lembaga lainnya amat berarti dalam mewujudkan pesantren yang aman untuk semua.

Pesantren memiliki tugas utama mendidik keilmuan dan karakter santri. Namun, dua hal tersebut tidak bisa terlepas dari kajian psikologi perkembangan remaja, kenakalan remaja, bahaya narkotika, bahaya radikalisme, kesehatan, sanitasi, dan berbagai hal lainnya.

Perlindungan terhadap korban kekerasan, pelecehan, dan perundungan mampu mewujudkan ketenteraman dan keadilan di pesantren. Pesantren tidak perlu menutupi ketika terdapat suatu masalah yang membutuhkan penanganan lintas sektoral. Masalah di pesantren bukanlah aib yang perlu ditutupi. Uluran tangan berbagai pihak sebenarnya membuat pesantren mampu menangani masalah yang terjadi dengan baik. Pesantren yang baik selalu bekerja sama dengan babinsa, bhabinkamtibmas, perangkat desa, puskesmas setempat, serta lembaga terkait lainnya.

Pesantren dengan jumlah santri yang sedikit tidak menjamin lebih aman daripada pesantren dengan jumlah santri ribuan. Pesantren yang aman terwujud dari koordinasi yang baik antara kiai dan jajaran di bawahnya. Perkembangan santri perlu dipantau dan dilaporkan berjenjang. Mulai pembimbing kamar, pengurus, hingga dilaporkan kepada kiai sebagai pucuk pimpinan tertinggi. Kiai perlu mengetahui setiap detail perkembangan santri. Sistem pamong yang efektif akan mendorong terwujudnya hal tersebut.

Berapa pun banyaknya jumlah santri tidak akan menjadi kendala selama sistem pengawasan santri berjalan dengan baik. Mulai tingkatan paling bawah. Kiai tidak hanya bertanggung jawab terhadap perkembangan intelektualitas, moral, dan spiritual santri. Namun juga bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan seluruh santri.

Pesantren tidak boleh menoleransi perilaku kekerasan, perundungan, dan penyimpangan. Ketiganya merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Pesantren sejatinya adalah lembaga pendidikan yang humanistis, yang memanusiakan manusia. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal yang dianggap biasa terjadi, walaupun dilakukan banyak orang sampai menjadi tradisi, bukanlah satu hal yang bisa dibenarkan. Pelanggaran tetaplah pelanggaran yang memerlukan pendekatan penyelesaian yang baik.

Interaksi antarsantri dengan watak dan latar belakang yang berbeda memiliki potensi konflik. Konflik yang diselesaikan dengan baik, sistem pamong/kepengurusan yang berjalan efektif, ditambah konseling dari pesantren, penambahan ilmu setiap hari, dan keteladanan welas asih terhadap sesama mampu mewujudkan pesantren yang aman untuk semua. (*)




*) AKHMAD TAQIYUDDIN, Pengasuh Pesantren An-Nashriyah Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore