MUHAMAD ROSYID JAZULI
PERUBAHAN pilihan politik kian lumrah di Indonesia. Bukan hanya politisinya, para partai politik (parpol) pun sudah biasa mengubah dukungan politiknya. Pada Pemilu 2024 ini fenomena tersebut makin kentara.
Pada level institusi, berbagai koalisi politik pecah karena parpol-parpolnya berubah arah politik. Misalnya, awalnya mesra, Golkar dan PPP pun berpisah. Gerindra dan PKB pun jadi beda koalisi. PSI yang awalnya tegak lurus bersama Ganjar Pranowo berbalik arah lurus mendukung Prabowo Subianto.
Di level individu tak kalah dinamis. Anies Baswedan yang awalnya mesra dengan Gerindra kini erat dengan Nasdem. Lalu, ada Budiman Sudjatmiko dan Maruarar Sirait yang menyatakan keluar dari PDIP. Juga Jusuf Kalla sebagai tokoh senior di Golkar yang memilih mendukung Anies –ketimbang Prabowo yang total didukung partai beringin tersebut.
Loyalitas Politik
Secara konsep, bertahannya sebuah partai politik sangat bergantung pada loyalitas para kadernya. Dan kesuksesan sebuah negara bergantung pada performa partai-partai politik di dalamnya (Muirhead, 2013).
”Alam” politik umumnya menuntut loyalitas luar biasa bagi para individu maupun institusi (parpol) di dalamnya. Namun, harus diakui, banyak ketidakpastian yang harus dilalui dan dinavigasi. Insentif dan kompensasi di politik tiada ukurannya karena, misalnya, sering kali tak ada gaji tetapnya.
Kadang, dipisuhi iyo, duite ora ono, dimaki iya, tak ada uangnya. Tak ayal, ketahanan mental dan kesetiaan politik menjadi modal penting kesuksesan dalam politik. Kesetiaan Presiden Jokowi bersama PDIP, misalnya, mengantarkannya ”selamat” menjalani dua periode presidensinya.
Jika loyalitas politik adalah kunci dalam mengupayakan perubahan sosial, tentu sikap inkonsisten berbagai parpol, elite politik, dan para capres-cawapres kita adalah kurang bijak. Mereka jelas banyak mengingkari perjanjian dan kesepakatan yang telah mereka setujui sebelumnya.
Redefinisi
Di era sekarang ini, para individu dan instansi politik sepertinya menginginkan fleksibilitas dalam bergerak dan memilih sikap. Karena akses pengetahuan dan informasi yang luas, kepentingan dan misi politik makin berkembang. Berbagai pemikiran dan opsi kebijakan mudah diakses dan dipelajari.
Karena itu, di Indonesia agaknya menguat pandangan bahwa untuk siapa pun yang bermimpi membangun Indonesia, parpolnya bisa apa saja. Kondisi itu memungkinkan bagi individu, misalnya, jadi wali kota lewat partai A, lalu jadi gubernur lewat partai B dan kemudian maju jadi capres lewat partai C tanpa gejolak publik yang signifikan. Proses itu erat dengan yang dilalui, contohnya Gibran Rakabuming Raka dan Anies.
Beda kasusnya di belahan bumi lainnya. Misalnya, kepindahan Ronald Reagan pada 1962 dan Condoleezza Rice pada 1982 dari Partai Demokrat ke Partai Republik menjadi diskusi panas politik di Amerika Serikat. Tudingan atas pengkhianatan menjadi headline di mana-mana. Perdebatannya berlarut-larut. Sebab, Reagan dan Rice berubah bukan hanya partainya, tapi juga arah ideologinya, yang awalnya liberal menjadi konservatif.
Di Indonesia, perubahan sikap PKB yang memilih bergabung dengan PKS tentu menjadi obrolan publik sebagaimana pindahnya dukungan PSI dari Ganjar ke Prabowo. Tapi, itu semua cepat mereda. Mungkin publik sudah malas berdebat karena terlalu sering berulangnya zigzag-zigzag politik di atas.
Lagi pula, meski kita punya banyak parpol, nyatanya semua adalah Pancasila dan nasionalis-religius. Dengan ideologi partai yang 11-12, berbagai perubahan sikap di atas adalah keniscayaan. Ketika menandatangani sebuah komitmen politik, mereka sudah saling tahu bahwa semua akan berubah.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
