Logo JawaPos
Author avatar - Image
01 September 2022, 02.48 WIB

Ancaman Generasi Jompo

Photo - Image

Photo

ISTILAH remaja jompo mungkin saja terdengar ganjil. Tetapi, fenomena itu telah merebak di tengah pandemi. Terma ini pada awalnya berkembang sebagai bentuk ekspresi di media sosial Twitter yang berkonotasi olok-olok kepada remaja dan anak muda yang selalu mengeluh capai (capek). Bahkan, jagat Twitter juga melengkapi fenomena tersebut dengan ”starter pack remaja jompo” yang berisi barang-barang wajib untuk ”penderita” remaja jompo. Seperti minyak angin, balsam, koyo, dan obat pereda nyeri sendi justru harus tersedia menyertai aktivitas mereka layaknya sebuah amunisi.

Pengalaman hidup di tengah pandemi dengan aturan lockdown dan pembatasan sosial membuat anak muda memilih rebahan (sedentary behavior) dan screen time menjadi meningkat. Konsekuensi yang harus diterima adalah perubahan aktivitas fisik anak muda, misalnya penurunan physical activity. Penurunan aktivitas fisik yang dialami pemuda di tengah situasi pandemi terjadi secara global. Padahal, beberapa penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi frekuensi aktivitas fisik (atau semakin sedikit waktu duduk), semakin baik kualitas hidup terkait kesehatan.

Selain remaja jompo, ada terma-terma lain yang ikut mengemuka di tengah pandemi, misalnya laziness (kemalasan), procrastination (menunda-nunda), jenuh (burn-out), dan rebahan. Menariknya, praktik bermalas-malasan juga mendapati pembelaan, karena disebut sebagai pandemic procrastination yang secara spesifik dikaitkan dengan faktor lockdown, sehingga mereka tidak perlu dikutuk berlebihan (McKeever 2021). Sebab, produktivitas kerja dan belajar juga bisa dilakukan dengan cara berdiam di rumah saja, termasuk sebab sokongan media sosial yang memanjakan setiap orang untuk mengisolasi diri.

Terjebak Mager


Protokol kesehatan pandemi Covid-19 memaksa anak muda terus berdiam diri di rumah sehingga memunculkan kebiasaan mager (malas gerak). Situasi demikian telah memproduksi beberapa istilah yang mengarah pada definisi jompo dan lansia itu sendiri, seperti kelelahan (tiredness) dan pusing (dizziness). Kelelahan, pusing, dan pegal dialami mahasiswa karena pengaruh langsung alat-alat elektronik yang menjadi media pembelajaran kelas daring dan kebutuhan interaksi via digital lainnya. Fakta tersebut dipertegas bahwa berinteraksi dengan alat elektronik yang terhubung dengan jaringan internet setiap hari membuat mereka merasa lelah dan pusing (tired and dizzy), konsentrasi belajar juga terasa berkurang dari biasanya, banyak materi pelajaran yang kurang dipahami.

Situasi pandemi yang memaksa untuk berdiam di rumah dan kesempatan menggunakan gawai dengan fitur-fitur seperti media sosial yang lengkap mengukuhkan kebiasaan baru berupa mager dengan justifikasi-justifikasi atas pilihan demikian. Ketika cara dan perilaku seperti itu diulang-ulang dalam durasi yang relatif panjang, didukung situasi, kondisi, dan lingkungan, mager menjadi gaya hidup yang ikut diafirmasi pengalaman pandemi, Istilah mager kemudian kerap kali berkonotasi negatif ke malas yang secara masif menjadi pilihan anak muda dalam menikmati waktu luang mereka di tengah pandemi.

Slow Culture


Satu pendekatan yang menarik diangkat terkait praktik rebahan dan mager adalah slow culture yang telah mewarnai diskursus ilmu-ilmu sosial dalam satu dekade terakhir. Pada prinsipnya, slow culture didefinisikan sebagai kesadaran ”untuk bernapas dalam-dalam dan ”memperlambat” untuk menangkap kembali esensi kehidupan nyata (Osbaldiston 2013).

Kesadaran untuk berdiam sejenak di tengah gempuran globalisasi dan runaway world yang, meminjam istilah Beck, penuh risiko dan ketidakpastian bisa ditandai sebagai sikap radikal. Praktik perlawanan seperti itu semakin masif misalnya dengan mencuatnya gerakan kuasi-sosial seperti slow food, slow cities/towns, slow democracy, slow ethnography, dan slow fashion. Semua gerakan di atas dibingkai dalam diskursus yang lebih luas dengan sebutan slow living.

Konsep slow culture dan slow living bisa dilihat sebagai gerakan ideologis untuk membendung hasrat keserbacepatan dan keserbainstanan di tengah gempuran konsumerisme yang diproduksi modernisme dan kapitalisme. Tetapi, remaja jompo muncul bukan sebagai bentuk perlawanan terhadap keserbacepatan semua varian dari modernitas.

Ia justru menjadi hanya kesenangan (just an indulgence) yang ditopang dengan leksikon-leksikon kesehatan (wellness lexicons) dan problem-problem psikologis seperti laziness (kemalasan), procrastination (menunda-nunda), idleness (kemalasan), rebahan, dan malas gerak (mager). Meskipun fenomena remaja jompo tidak bisa secara serampangan ditempatkan dalam posisi ideologis, ia tetap menarik menjadi tawaran konseptual yang mampu memberikan ruang ekspresi alternatif dalam sebagai bagian dari resiliensi anak muda di tengah situasi pandemi, khususnya terkait pemanfaatan waktu luang (leisure).

Ketika ditarik dalam telaah leisure studies (studi waktu luang), praktik mager menunjukkan satu bentuk justifikasi atas kebutuhan personal anak muda di tengah pandemi, baik sebagai resiliensi maupun berupa hiburan ataupun pekerjaan. Dalam situasi pandemi, pemanfaatan waktu luang bergeser pada konteks dan skala yang lebih terbatas secara ruang fisik di satu sisi.

Tetapi di sisi lain juga menyuburkan praktik rebahan, yaitu dengan adanya fasilitas gawai. Para remaja dan anak muda seperti dininabobokan oleh kemudahan akses dan fasilitas internet sehingga kenyamanan demikian membuat mereka mendapatkan ruang untuk mengekspresikan dengan self-reward. Alasan self-reward pada dasarnya adalah cara menghindar dari tuduhan mager dan rebahan yang tidak produktif. Selain itu, mager disebut sebagai pemanfaatan waktu luang untuk resiliensi di tengah pandemi.

Dalam situasi demikian, kita harus bijak menghadapi beragam bentuk praktik sosial yang lahir karena pandemi, termasuk remaja jompo. Di satu sisi, aspek negatif dari fenomena ini harus dipecahkan dengan mengembalikan anak muda pada ruang-ruang sosial yang aktif secara fisik dan terlibat dalam kehidupan sosial. Namun, di sisi lain, pengalaman produktif di dunia digital yang masif dipraktikkan selama pandemi juga menjadi basis penting bagi proses kekaryaan anak muda itu sendiri. (*)




*) BERNANDO J. SUJIBTO, Sosiolog UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore