Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 Februari 2022 | 02.48 WIB

96 Tahun NU dan Setumpuk Pekerjaan Rumah

ilustrasi khofifah indar parawansa - Image

ilustrasi khofifah indar parawansa

MENGEMBANGKAN sumber daya manusia (SDM) dan menjaga tatanan sosial-ekonomi-politik dalam ekosistem equilibrium dynamic merupakan tantangan terbesar Nahdlatul Ulama (NU) untuk dapat berkolaborasi dan bersinergi menghadapi percepatan transformasi digital. Sebuah era di mana cara berpikir manusia, hidup, dan pola interaksi berubah total.

Perubahan signifikan di bidang teknologi ini turut mendorong perubahan di bidang lainnya seperti pola dakwah, ekonomi, sosial, dan politik. Dan NU mau tidak mau harus secara cepat dan efektif mengembangkan kemampuan seluruh SDM untuk bisa beradaptasi serta berinovasi guna menghadapi persaingan dunia yang makin kompleks dan disrupsi di berbagai bidang.

Tanggung jawab tersebut makin berat mengingat jamiyah NU terus membesar dan menyebar di seluruh penjuru dunia. Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA 2019 bahkan menempatkan NU sebagai ormas terbesar di Indonesia dengan jumlah persentase 49,5 persen. Disusul Muhammadiyah di peringkat kedua dengan jumlah 4,3 persen dan peringkat ketiga adalah gabungan ormas lain sejumlah 1,3 persen. Yang menarik, sebanyak 35 persen tidak merasa menjadi bagian dari ormas yang ada. Survei melibatkan 1.200 responden dengan margin of error sebesar 2,9 persen.

Dengan jumlah penduduk Indonesia kurang lebih 267 juta jiwa pada 2019, hasil survei di atas tidak hanya menempatkan NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Artinya, tidak berlebihan apabila saya menyebutkan, jika NU sukses menghadapi transformasi digital, kesuksesan tersebut tidak hanya menjadi kesuksesan Indonesia, tapi juga dunia.

Menjelang satu abad NU pada tahun 2026 mendatang, pekerjaan rumah terberat NU adalah menjadikan seluruh SDM NU memiliki kualitas dan karakter kuat serta keterampilan dan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan dewasa ini. Cukup? Tentu tidak. NU juga harus tetap mengawal dan menjaga bagaimana transformasi digital ini bisa seiring dengan nilai-nilai keislaman dan kebudayaan Nusantara.

Tidak menutup mata, transformasi digital membawa dampak positif berupa makin mudah dan cepatnya akses informasi, juga munculnya inovasi dalam berbagai bidang kehidupan yang meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam kehidupan. Namun, jangan lupakan juga dampak negatifnya seperti maraknya pelanggaran hak cipta atau hak kekayaan intelektual, bullying, pornografi, kejahatan siber, serta maraknya berita palsu yang menimbulkan disintegrasi bangsa dan perpecahan.

Satu-satunya kunci penguatan SDM untuk menangkal itu adalah melalui jalur pendidikan. Seluruh jenjang pendidikan NU, dari raudatul atfal hingga perguruan tinggi, harus terus berpegang teguh pada nilai, metodologi, dan kurikulum keagamaan, namun adaptif mengadopsi kurikulum modern berbasis science, technology, engineering and mathematics (STEM) serta memberikan ruang untuk berkreasi dan berinovasi.

Dengan begitu, seorang intelektual NU akan mampu secara fasih menjelaskan Islam secara benar dan mendalam. Islam yang damai, sejuk, dan tanpa kekerasan. Islam yang rahmatan lil’alamin. Kemampuan itu pula yang kemudian akan mampu membendung munculnya radikalisme, intoleransi, dan disintegrasi bangsa yang saat ini juga telah menjejak ranah digital.

Pekerjaan rumah NU tersebut selaras dengan tantangan Indonesia di mana republik ini tidak lama lagi akan mencapai puncak demografi ketika usia produktif (15–64 tahun) mendominasi jumlah penduduk di dalam negeri. Penguatan SDM mau tidak mau harus digencarkan untuk menghasilkan SDM yang berkualitas. Dengan begitu, bonus demografi tersebut membawa Indonesia makin unggul, bukan sebaliknya justru menimbulkan bencana demografi.

Bab Pemulihan Ekonomi

Pemulihan ekonomi akibat Covid-19 menjadi bab lain perjalanan NU menjelang usianya yang mencapai satu abad. Dengan kekuatan yang dimiliki NU, tidak berlebihan apabila NU optimistis Indonesia bisa segera keluar dari krisis ini jauh lebih cepat. Langkah dimulai dengan penguatan kemandirian ekonomi di internal kader NU yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Konsep itu sangat bisa diterapkan pada lingkungan pesantren.

Data Kementerian Agama pada 2021 menyebutkan, sekitar 4 ribu pesantren memiliki potensi pada sektor ekonomi. Perinciannya, 1.479 pesantren bergerak pada sektor agrobisnis, 1.141 pesantren pada sektor perkebunan, 1.053 pesantren pada sektor peternakan, dan 318 pesantren pada sektor maritim. Mereka memiliki usaha yang berada di bawah naungan koperasi atau baitul maal wat tamwil. Dengan begitu, konsep bisnis yang diterapkan berbasis syariah dan masuk kategori halal.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin sendiri tengah mendorong percepatan realisasi halal lifestyle di Indonesia melalui keberadaan kawasan industri halal di sejumlah wilayah Indonesia. Jawa Timur menjadi salah satu provinsi yang menjadi pilot project dalam mewujudkan halal lifestyle serta industri halal tersebut.

Targetnya adalah membalik keadaan. Jika sebelumnya Indonesia menjadi negara terbesar pengimpor produk halal, maka dengan tumbuh dan berkembangnya kawasan industri halal, Indonesia mengubah statusnya menjadi negara terbesar produsen produk halal.

NU dengan basis massa yang kuat dan berbagai potensi bisa menjadi bagian penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Penguatan kemandirian ekonomi pada lingkungan pesantren adalah langkah awal yang sangat tepat. One pesantren one product yang sudah berjalan di Jawa Timur bisa menjadi prototipe penguatan ekonomi di lingkungan pesantren. Program tersebut merupakan modal bagi umat Islam, khususnya warga NU, untuk mendorong produk halal Indonesia unggul dibandingkan negara lain. Amanah untuk membalik keadaan pun bisa diwujudkan dari lingkungan pesantren NU.

Akhirnya, pada peringatan Harlah Ke-96 NU yang bersamaan dengan pelantikan pengurus PBNU periode 2022–2027 ini, bisa menjadi renungan bersama, NU harus menyiapkan strategi dalam menghadapi tantangan yang ada di depan mata. Basis kader yang sangat besar dan pesantren yang cukup banyak merupakan modal kuat dalam menghadapi tantangan tersebut. Saatnya menata strategi bersama sehingga NU menjadi organisasi yang memiliki manfaat besar bagi umat Islam di Indonesia dan dunia. (*)




*) KHOFIFAH INDAR PARAWANSA, Gubernur Jawa Timur, ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore