
Photo
SAAT menulis ini, saya baru menyelesaikan binge watching drama Korea One Ordinary Day. Tak sampai satu setengah hari, delapan episode dengan rata-rata durasi satu jam per episodenya itu tuntas. Ceritanya bikin candu. Membuat saya tak bisa melakukan apa pun selain menjalani kewajiban sebagai umat beragama, juga memenuhi kebutuhan vital sebagai makhluk hidup. Semua kegiatan lainnya sejenak saya sampingkan.
Drama tersebut diadaptasi dari serial pemenang dua BAFTAs dan satu Emmy Awards, Criminal Justice (2008) milik BBC (Inggris). Sebelum One Ordinary Day, serial itu diadaptasi HBO (AS) dengan judul The Night Of (2016) dan Criminal Justice (2019) di Hotstar (India). Semuanya mendapat rating tinggi.
Bintang utamanya Kim Soo-hyun, salah seorang aktor berpendapatan tertinggi di Korea. Untuk satu episodenya, dia dibayar KRW 500 juta atau sekitar Rp 5,9 miliar. Kalau ada delapan episode, tinggal kalikan berapa saldo banknya akan bertambah. Bujet penggarapannya KRW 20 juta atau sekitar Rp 239 miliar. Angka-angka yang lumayan uwoo untuk tayangan drama TV, ya. Tetapi, banyak lho drakor lain yang juga berbujet selangit seperti itu.
Selain itu, dalam dua minggu ini, saya menjadi penunggu setia episode baru dua drakor berjudul Our Beloved Summer yang tayang tiap Senin dan Selasa serta Snowdrop yang tayang tiap Sabtu dan Minggu. Di sela-sela itu, saya dijerat tuntutan (dari diri sendiri) untuk segera menghabiskan serial Happiness yang episode finalnya sudah tayang 11 Desember lalu.
Seolah-olah tak ada ending-nya hidup dan pikiran ini diinvasi warga Korea Selatan. Setiap selesai satu judul, ada judul lainnya yang sudah siap grak untuk ditonton. Saya tentu saja bukan satu-satunya yang merasa begitu. Ada jutaan pencinta drakor di Indonesia ini.
Memangnya, apa sih yang bikin drakor itu nggak abis-abis pesonanya? Sudah puluhan tahun demam drakor tersebut terjadi dan sampai sekarang kok ya bisa demamnya terus hangat. Kekuatan cerita dan kemampuan akting para pemainnya yang mampu mengikat emosi penonton merupakan alasan utamanya. Tema-tema yang diambil kebanyakan sederhana sehingga meminimalkan plot hole.
Selain itu, temanya variatif. Ada sejuta, eh dua juta, eh tiga juta mungkin, hehe. Saking banyaknya tema yang dihadirkan. Ada drama sejarah yang biasa disebut saeguk, romcom, futuristis, sampai makjang yang menyediakan banyak konflik.
Faktor lainnya adalah setting lokasi yang apik dan sesuai, fashion dan make-up yang menarik, serta teknis filmografinya. Lalu, ada faktor soundtrack yang umumnya memang akan booming bersamaan dengan dramanya karena menjadi relate dengan penonton. Tak kalah penting adalah jumlah episode yang pas. Ada yang sampai ratusan, tapi umumnya hanya 16–20 episode. Malah, serial-serial yang tayang di OTT sekarang tak sampai 10 episode. Mayoritas produser mampu menjaga iman untuk memolorkan episode, meski serialnya banyak penggemar.
Namun, dari semua faktor itu, menurut saya yang membuat drakor bisa sustain menarik penonton adalah terus adanya pengembangan. Baik dalam keragaman cerita, karakter pemain, pengambilan gambar, maupun semua elemen terkait. Semuanya terasa dinamis. Drakor sangat mengikuti perkembangan zaman. Apalagi, beberapa drama sekarang juga diadaptasi dari webtoon-webtoon laris yang jumlah massanya tak kalah banyak.
Ngomongin drakor terus, memangnya drama Indonesia nggak ada yang menarik? Lho jangan salah. Drama produksi anak negeri kini juga makin oke. Ada sejumlah judul yang menarik, salah satu yang terbaru adalah Layangan Putus dengan bintang Reza Rahadian, Putri Marino, dan Anya Geraldine. Drama itu diadaptasi dari kisah seorang ibu yang tulisannya tentang pengkhianatan sang suami yang menjadi viral.
Sayang, memang belum banyak judul yang mampu jadi obrolan para penyuka drama. Namun, tidak berarti tidak bisa kan. Geliat dan dinamisnya drama Korea mungkin bisa jadi cermin bagi para sineas Indonesia. Di era maraknya layanan TV OTT, sisi positifnya adalah semakin banyak medium untuk menampilkan karya. Itu bisa menjadi peluang dan bukan tak mungkin menjadi benchmark dimulainya demam drama Indonesia.
Tentu saja ini butuh dukungan semua pihak terkait. Dari sineas sudah pasti dituntut untuk terus mengembangkan kreativitas baik dari sisi cerita maupun teknis penggarapan, tim promosi mesti mampu membuat teknik pemasaran yang mengena, penonton yang tak apatis terhadap karya anak negeri, pemilik OTT yang memberi ruang seluasnya untuk pemutaran produk lokal, dan tak kalah penting adalah kehadiran pemerintah sebagai regulator untuk menciptakan aturan yang mampu menciptakan ekosistem yang baik untuk drama Indonesia. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
