
Photo
EKONOMI dianggap kehilangan tuah apabila tidak sanggup membuat prediksi. Seorang ekonom akan dipandang lemah jika kapasitas ramalannya payah. Namun, sejarah perjalanan ekonomi lebih banyak diwarnai kesalahan (proyeksi) ketimbang kesahihan. John Kenneth Galbraith membuat taklimat padat untuk mendeskripsikan realitas muram itu: ”In economics, the majority is always wrong”. Bahkan, secara sarkastis Peter Lynch membuat ujaran: ”There are two economic facts and there’s economic predictions and economic predictions are a total waste”.
Intinya, proyeksi (dalam ekonomi) adalah ikhtiar akademik yang berujung pada kesia-siaan.
Tetapi, sampai kini proyeksi tetap dilakukan sesering para ekonom melakukan revisi (atas prediksinya). Akhir tahun (seperti saat ini) biasanya akan terjadi banjir proyeksi (ekonomi) masa depan sebagai panduan pemegang kebijakan ataupun pelaku perekonomian menjalankan usaha.
Global dan Indonesia
Variabel ekonomi sedemikian kompleks sehingga setiap penyederhanaan atas variabel tersebut akan membuat proyeksi menjadi rentan.
Hal ini yang membuat terjadinya ketidakpastian atas seluruh ramalan. Dua tahun terakhir kerumitan makin besar karena sergapan pandemi yang melantakkan kehidupan. Proyeksi berguguran seturut jatuhnya perekonomian. Sekarang dunia sedang memandang masa depan (2022) lebih berbinar. Sebab, pengendalian pandemi memanen keberhasilan.
Para ekonom dan lembaga keuangan internasional menyajikan proyeksi yang menjanjikan. IMF dan World Bank menaksir pada 2022 ekonomi global akan tumbuh 4,3 persen dan 4,9 persen.
Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan ekonomi tumbuh 4,5persen; sedangkan OECD cenderung konservatif dengan meramal pertumbuhan global hanya akan berada di kisaran 3,8 persen. Jika proyeksi ini bisa direalisasikan, situasi ekonomi 2022 nyaris sama dengan masa sebelum pandemi.
Lembaga yang sama juga membuat proyeksi perekonomian Indonesia 2022. IMF dan World Bank menaksir pada 2022 ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,9 persen dan 5,0 persen.
Sementara itu, OECD cenderung meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi ketimbang prediksi IMF dan World Bank, yakni di kisaran 5,2 persen. Proyeksi OECD ini selaras dengan optimisme yang dibuat oleh Bank Indonesia (antara 4,7–5,5 persen) dan kesepakatan antara pemerintah dengan DPR yang tertuang dalam UU APBN 2022 (5,0–5,5 persen).
Lagi-lagi, bila proyeksi ini bisa diwujudkan, keadaan ekonomi Indonesia 2022 juga sama dengan masa sebelum pandemi. Artinya, ekonomi nasional akan menjemput musim semi dan berada di jalur pemulihan ekonomi di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global. Sungguh pun begitu, problem yang dihadapi tetap sama: seluruh proyeksi tersebut amat bergantung pada stabilitas persebaran virus.
Jadi, seharusnya masa depan yang dilihat terang itu mesti dikawal dengan satu sikap yang sama: disiplin penanganan pandemi secara seragam. Setiap kecerobohan yang dibuat oleh satu negara dengan cepat akan menjalar ke negara lainnya hingga menyebar ke seluruh pojok dunia (tanpa kecuali).
Regulasi dan protokol pengendalian pandemi dalam situasi tertentu memang akan ”mengorbankan” kelompok masyarakat atau usaha tertentu pula, namun ini risiko yang tidak bisa dihindari untuk menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Risiko itu bisa ditutup dengan jalan membuat paket proteksi sosial seperti yang telah dijalankan selama ini. Singkatnya, pandemi jangan sampai merontokkan proyeksi ekonomi (kembali).
Tiga Penopang
Pada 2022, perekonomian nasional sekurangnya akan ditopang oleh tiga kekuatan.
Pertama, permintaan (rumah tangga) domestik yang meningkat seiring pengendalian pandemi yang dianggap berhasil. Jika disiplin pemerintah selama 4–5 bulan terakhir berhasil dijaga, warga akan kian percaya diri melakukan belanja (bahkan eksekusi investasi).
Kedua, kenaikan harga beberapa komoditas (seperti CPO dan batu bara) turut memperkuat keyakinan dan pergerakan ekonomi di beberapa sektor, seperti pertambangan, perkebunan, properti, manufaktur, transportasi (logistik), dan keuangan. Demikian pula, beberapa mitra dagang utama yang terus pulih ekonominya membuat kemampuan ekspor nasional kian meningkat.
Ketiga, program stimulus ekonomi masih dilanjutkan pada 2022 dan merupakan tahun terakhir pemerintah diizinkan membuat defisit APBN di atas 3 persen. Ini merupakan modal yang kukuh untuk mendorong pergerakan ekonomi pada kelompok tertentu masyarakat.
Di luar itu, terdapat tiga peluang bagus yang perlu digarap serius oleh pemerintah.
Pertama, digitalisasi dalam kegiatan ekonomi harus dipacu, khususnya bagi pelaku UMKM, termasuk fasilitas e-commerce yang juga mesti digenjot.
Kedua, sektor manufaktur didorong kebih keras lagi, terutama yang berbasis bahan baku lokal. Asimetri pertumbuhan ekonomi global 2022 perlu disikapi dengan menggarap produk bernilai tambah sebagai manifestasi dari strategi transformasi ekonomi.
Ketiga, produk halal (termasuk keuangan syariah, kawasan industri halal, pariwisata halal, dan seterusnya) menjadi tren global dan harus dikapitalisasi oleh pemerintah.
Singkatnya, proyeksi bagus 2022 ini dijaga sekuatnya agar ekonom tidak dikutuk sebagai tukang membual. Jangan sampai seperti ucapan Warren Buffett: ”Forecasts usually tell us more about forecaster than of the future.” (*)
*) AHMAD ERANI YUSTIKA, Guru Besar FEB UB dan Kepala Badan Analisis Informasi dan Kebijakan Kadin

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
9 Soto Legendaris di Bandung, Kuliner Murah Isian Melimpah tapi Rasa Juara
