Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Oktober 2023 | 20.38 WIB

Seruan dari Jakarta untuk Gaza dan Tel Aviv

VIRDIKA RIZKY UTAMA

GEJOLAK terbaru antara Palestina dan Israel merupakan hal yang menyakitkan dari konflik yang tak berkesudahan. Lonjakan kekerasan terbaru antara Israel dan Hamas, ditandai oleh serangan besar-besaran dari militan Palestina, yang paling mematikan dalam beberapa dekade, menggarisbawahi sifat siklus agresi ini. Saat dampak konflik terus berlangsung, kita dipaksa bertanya: apa yang mendorong siklus tanpa henti ini dan apakah resolusi yang adil dapat dicapai?

Pernyataan terbaru dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia memberikan pencerahan mengenai inti masalah yang terjadi, dengan menekankan okupasi Israel terhadap wilayah Palestina sebagai akar konflik. Meskipun klaim itu bukanlah hal baru, penekanannya yang berulang-ulang sepanjang tahun menunjukkan bahwa itulah masalah yang belum terselesaikan, yang tidak terpengaruh oleh pembicaraan damai atau perjanjian.

Konflik ini berlangsung sangat lama dan memiliki perspektif yang beragam. Dari sudut pandang Israel, serangan terbaru dari Hamas dilihat sebagai tindakan permusuhan yang tidak diprovokasi, yang memberikan dampak besar kepada warga Israel. Kondemnasi perdana menteri Israel terhadap ”perang kejam dan jahat” yang dimulai oleh Hamas mendukung perspektif ini.

Sebaliknya, Palestina melihat tindakan-tindakan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap eskalasi serangan Israel. Dalam konteks yang lebih luas sejak 2007, Gaza dengan populasi 2,3 juta jiwa, berada di bawah kepungan, terus-menerus menghadapi kekurangan pasokan esensial dan sumber daya medis. Wilayah tersebut telah menjadi saksi dari banyak bentrokan, ketidakstabilan internal terbaru di Israel, bahkan episode-episode intensif dari intifadah Palestina.

Secara historis, dalam pandangan global, terutama dari Barat, telah condong ke arah Israel. Komentar terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menekankan bahwa menjadi hak Israel untuk membela diri. Namun, apakah dukungan yang begitu kuat untuk satu pihak secara tidak sengaja mengabaikan keluhan berkepanjangan dari pihak lain?

Sejak kemerdekaannya, Indonesia telah konsisten mendukung Palestina dan memberikan pandangan alternatif dalam isu ini. Dukungan tersebut bukan hanya soal pertarungan wilayah, tapi juga mendorong keadilan, hak asasi manusia, dan pengakuan atas kedaulatan sebuah bangsa. Sementara itu, dinamika politik di Israel dan hubungan baru dengan Arab Saudi menambah kerumitan situasi, meski keinginan Palestina untuk berdaulat tetap menjadi prioritas. Namun, dengan konflik yang terus berlangsung dan tekanan politik yang meningkat, mewujudkan aspirasi tersebut semakin menantang.

Merefleksikan konflik yang berlarut-larut ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan: apakah komunitas global benar-benar menangani akar penyebab perselisihan ini? Apakah aliansi politik membuat kita buta terhadap tragedi manusia yang sedang berlangsung? Dan dapatkah kita membayangkan Timur Tengah di mana pemuda dari Gaza dan Tel Aviv tidur tanpa takut serangan misil tiba-tiba?

Mengarungi sengketa yang berkepanjangan ini memerlukan pemahaman mendalam tentang lanskap geopolitik yang lebih besar. Dengan jaringannya yang rumit dari aliansi, persaingan, dan sisa-sisa sejarah, Timur Tengah sering kali menjadi teater bagi kekuatan global yang mencari dominasi. Di tengah permainan geopolitik ini, kehidupan sehari-hari warga Palestina dan Israel penuh derita. Kisah, aspirasi, dan impian mereka sering kali hilang di tengah kehancuran atau tersaingi oleh retorika politik.

Komitmen Indonesia yang tak tergoyahkan terhadap Palestina melampaui politik –ini mewujudkan idealisme keadilan, hak asasi manusia, dan penentuan nasib sendiri. Berasal dari empati dan pemahaman tentang dampak kolonisasi yang berkepanjangan dan semangat untuk meraih kemerdekaan, sikap Indonesia harus mengilhami negara-negara lain untuk memprioritaskan kemanusiaan daripada kemudahan politik.

Konfrontasi terbaru ini memiliki kemiripan yang menyeramkan dengan tragedi masa lalu. Jalanan Sderot yang penuh dengan korban sipil. Adegan-adegan menyayat hati dari Gaza, rumah sakit yang sudah berada di bawah tekanan blokade itu harus berjuang dengan meningkatnya korban.

Namun, harapan tetaplah ada. Lelah dengan konflik yang tak berkesudahan, warga biasa dari kedua pihak mencari rekonsiliasi dan pemahaman serta berharap untuk masa depan di mana Palestina dan Israel bisa hidup dalam harmoni. Meskipun suara-suara ini sering kali tenggelam oleh narasi yang agresif, mereka tetap menjadi tanda harapan sejati di wilayah ini.

Agar suara-suara tersebut mendapatkan tempat yang layak, komunitas internasional harus berperan lebih aktif. Dukungan partisan semata atau teguran dangkal tidaklah cukup. Introspeksi mendalam dan komitmen untuk menangani isu-isu mendasar sangat diperlukan. Seperti yang ditekankan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo, kesatuan Palestina adalah hal yang penting. Dan dunia harus mendukung proses rekonsiliasi di antara semua faksi Palestina.

Gejolak terbaru di Timur Tengah bukan hanya sekadar berita utama. Ini adalah refleksi menyayat hati dari kegagalan kolektif kita. Namun, ini juga menawarkan kesempatan untuk mengubah narasi, mengadvokasi keadilan, dan memastikan bahwa aspirasi jutaan orang tidak hanya menjadi catatan kaki sejarah.

Sebagai negara mayoritas muslim terkemuka dengan tradisi mendukung keadilan, Indonesia berada dalam posisi unik untuk menyerukan serta mendorong perubahan. Otoritas moral dan pengaruh diplomatiknya sangat penting untuk mendorong upaya perdamaian yang otentik. Lebih dari sekadar dukungan vokal, Indonesia harus memimpin upaya yang mendukung solusi kedua negara, mengumpulkan dukungan internasional untuk hak asasi manusia, dan menegakkan pertanggungjawaban bagi pelanggar. Nasib Timur Tengah dan komitmen global kita terhadap keadilan bergantung pada tindakan tegas seperti itu. (*)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore