Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 September 2023 | 21.29 WIB

Menyigi Penyebab Kenaikan Harga Beras

Khudori - Image

Khudori

SEJUMLAH media hari-hari ini menyodorkan pertanyaan bertubi-tubi tentang pangan nasional. Mengapa harga beras tinggi, bahkan terus naik? Bukankah sudah ada impor beras 1,9 juta ton? Jumlah itu merupakan realisasi 0,3 juta ton sisa kuota 0,5 juta ton tahun lalu dan realisasi 1,6 juta ton dari kuota impor Bulog 2 juta ton pada 2023. Bukankah operasi pasar beras bernama Stabilisasi Pasokan dan Harga Beras (SPHP) oleh Bulog gencar dilakukan tiap hari? Bukankah Bulog juga menjual beras komersial?

Merujuk Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, harga beras medium pada 15 September 2023 bergerak antara Rp 14.000 hingga Rp14.250 per kilogram (kg). Selain lebih tinggi dari awal Januari 2023 (Rp 12.450–Rp 12.650/kg), harga tersebut melampaui harga eceran tertinggi (HET): Rp 10.900–Rp 11.800/kg (tergantung wilayah).

Sementara harga beras premium pada periode yang sama bergerak antara Rp 15.000–Rp 15.600/kg. Selain lebih tinggi dari awal Januari 2023 (Rp 13.750–Rp 14.100/kg), harga itu melampaui HET: Rp 13.900–Rp 14.800/kg (tergantung wilayah). Pertanyaannya, apa penyebab harga beras terus naik?

Yang pasti, penyebab harga beras terus naik bukan karena faktor tunggal. Pertama, mengikuti siklus panen harga di musim gadu (Juni–September) saat ini memang lebih tinggi ketimbang saat panen raya (Februari–Mei).

Ini terkait dengan irama tanam serentak yang menghasilkan panen yang ajek: musim panen raya (Februari–Mei dengan 60–65 persen dari total produksi), panen gadu (Juni–September dengan 25–30 persen dari total produksi), dan musim paceklik (Oktober–Januari). Harga tertekan saat panen raya, naik di musim gadu, dan melejit tinggi saat paceklik.

Kedua, perkiraan produksi beras menurun. Produksi beras pada sepuluh bulan tahun 2023, merujuk Kerangka Sampel Area BPS, diproyeksikan 27,88 juta ton beras. Kendati data Agustus–Oktober 2023 masih proyeksi, yakni berdasar luas tanam, angka itu turun dibandingkan sepuluh bulan pertama 2022 yang tercatat 28,55 juta ton beras atau turun 0,67 juta ton beras.

Di sisi lain, pada sepuluh bulan 2023 konsumsi beras diproyeksikan meningkat: mencapai 25,45 juta ton. Itu lebih tinggi dari periode yang sama pada 2022: 25,15 juta ton. Perkiraan produksi yang menurun ini membuat keseimbangan pasokan dan permintaan tidak lagi seimbang, yang berujung pada ekspektasi harga yang naik.

Ketiga, indikasi terjadi El Nino semakin nyata. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memperkirakan, produksi beras turun 1,2 juta ton jika skala El Nino kuat. Ada juga yang memperkirakan produksi beras akan turun 5 persen atau setara 1,5 juta ton.

Untuk mengantisipasi hal itu, Kementerian Pertanian telah menyiapkan penanaman baru di 500 ribu hektare di enam provinsi. Saat ini penanaman baru di 60 ribu hektare. Jika langkah tersebut mulus, hasilnya baru diketahui pada November–Desember 2023. Artinya, masih serba tak pasti.

Keempat, dinamika global yang tecermin dari kebijakan negara-negara eksportir beras yang cenderung restriktif. Salah satunya India. India pada 20 Juli lalu menutup ekspor beras nonbasmati. Dampaknya, harga beras di pasar dunia naik. Negara-negara yang selama ini tergantung pada beras impor dari India terkena dampaknya.

Indonesia impor dari India sebagian besar dalam bentuk beras patahan (broken rice), yang sebenarnya tidak bakal terdampak langsung oleh kebijakan India. Tapi, sentimen ini ke mana-mana. Dampak tidak langsungnya, harga beras impor di pasar dunia makin mahal.

Untuk menahan kenaikan harga, pemerintah mempercepat penyaluran bantuan sosial (bansos) beras. Bansos yang semula hendak disalurkan mulai Oktober dipercepat ke September. Selama September–November 2023, sebanyak 21,35 juta keluarga akan menerima beras 10 kg per bulan.

Bulog harus menggelontorkan beras sebanyak 210-an ribu ton per bulan atau total 640-an ribu ton selama tiga bulan. Jumlah tersebut setara 8,4 persen dari kebutuhan konsumsi bulanan.

Berpijak dari penyaluran bansos beras Maret–Mei 2023, langkah itu terbukti mampu menahan kenaikan harga beras di pasar. Harga beras memang cenderung naik, tapi kenaikannya tipis. Empat bulan sebelum ada bansos beras, November 2022–Februari 2023, fluktuasi harga beras mencapai 1,67 persen.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore