Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Januari 2019 | 02.47 WIB

Toleransi di Indonesia Belum Mati

Ilustrasi toleransi di Indonesia. - Image

Ilustrasi toleransi di Indonesia.


“Ini kelian makan kue aja dulu ya. Uak mau bikin limun,” kata Uak sambil bergegas menuju dapur.


Sementara si Uak sibuk membuat limun, kami mengambil kacang, nastar, kue salju, dan sejumlah kue lainnya. Sesekali kami sambil menatap sambil tersenyum karena menikmati betapa senangnya akan jamuan kue macam itu.


Saya tak ingat kenapa saat itu hanya Uak yang menyambut kami dan di mana keluarganya. Tapi saya ingat betul bagaimana senyuman Uak. Bagaimana ramahnya dia menyambut kami, anak-anak Nasrani dari kampung seberang.


Uak datang, membawa gelas berisi cairan berwarna kuning oranye. “Nah ini minum kelian (kalian),” ucap Uak dengan ramah.


Sambil membersihkan tangan dengan celana, kami langsung mendekat ke Uak seraya mengucapkan selamat berlebaran. Tak lupa kami bersalaman.


Uak dengan senyum pun menerima salam kami dan menjawab dengan selamat Lebaran. Tidak banyak percakapan yang kami utarakan dengan Uak. Kami hanya mengucap selamat, menikmati kue, atau memohon izin untuk mengantongi kacang dan nastar yang dia sediakan.


Tidak ada basa-basi berlebihan. Karena, anak-anak memang tidak punya topik untuk dibicarakan dengan orang tua seusia Uak.


Sudah makan kue, boleh mengantongi kue, limun habis, maka kami berpamitan pulang.


“Terima kasih ya Uak, sekali lagi selamat Lebaran ya Uak,” ucap kami seraya berpamitan.


Uak pun tersenyum. Dia melepas kami melangkah menjauh mencari rumah-rumah lain yang kami tahu penghuninya adalah Muslim.


Cerita anak-anak pengejar kue dan limun itu bukan rekayasa. Mungkin beberapa orang yang membaca tulisan ini ada yang pernah mengalami. Silakan tanya kepada mereka yang lahir dan besar di Siantar pada 1980-an atau 1990-an. Hal semacam itu sudah biasa dilakukan. Saya tidak tahu apakah kebiasaan semacam itu masih terus berlangsung sampai saat ini.


Namun yang saya bisa pastikan sampai saat ini masalah-masalah intoleransi belum pernah terdengar datang dari Siantar. Selain itu, setahu saya bagi orang Batak perbedaan agama adalah satu hal yang sangat lumrah dan menjadi bagian dari kekerabatan kami. Kenapa saya menyebut orang Batak? Ya karena di Siantar dan beberapa kota di Sumatera memang banyak orang Bataknya.


Kekerabatan orang Batak itu sangat kental. Hampir tidak mungkin dipisahkan hanya karena masalah perbedaan agama. Contoh hidupnya adalah saya sendiri. Saya punya namboru, amang boru dan opung yang agamanya berbeda dengan saya. Sampai saat ini dalam acara keluarga kami sering bertemu dan kami saling menghargai.


Bahkan namboru kandung saya (adik atau kakak kandung ayah) berbeda agama dengan saya. Kami baik-baik saja sampai saat ini. Bahkan saling mengucapkan selamat ketika kami merayakan hari besar. Juga saya masih kerap berkunjung saat hari raya.


Saya bukanlah satu-satunya. Ada banyak orang Batak yang secara kekerabatan memang terhubung. Entah karena marga yang sama, marga ibu yang sama, atau marga yang memiliki keterkaitan. Itu membuat mereka terikat atau terkoneksi secara budaya, meski berbeda agama.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore