
Ilustrasi toleransi di Indonesia.
JawaPos.com - Pagi ini saya dikejutkan dengan sebuah peristiwa pelarangan ibadah yang terjadi di Medan, Sumatera Utara. Sebelumnya peristiwa pelarangan ibadah tidak pernah membuat saya terkejut.
Cuma kali ini saya benar-benar kaget. Bahkan sangat kaget. Karena kasus ini terjadi di Medan. Selama ini saya sangat yakin bahwa Medan dan sekitarnya adalah salah satu kota yang orang-orangnya paling toleran.
Kenapa begitu? Karena saya lahir dan besar di Siantar yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan Medan. Di kota itu sejak kecil saya tidak mengenal apa itu mayoritas, apa itu minoritas. Yang saya tahu adalah bahwa di lingkungan itu ada banyak saudara yang agamanya berbeda. Perbedaan agama dan etnis di lingkungan orang Sumatera Utara bukan hal yang aneh. Kami terbiasa dengan itu semua.
Saya masih ingat betul, buat anak kecil di Siantar ada lebih dari satu hari besar yang membuat mereka bergembira. Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru adalah hari besar yang membuat kami bersilaturahmi satu sama lain. Termasuk kepada mereka yang sebenarnya tidak ada hubungan kerabat atau kepada mereka yang berbeda agama.
Saat Natal, saya yang seorang Nasrani dan teman-teman lainnya merayakan Natal yang diikuti dengan tahun baru. Kami berkeliling kampung, mendatangi rumah satu per satu sambil sedikit berteriak.
“Namboru, selamat tahun baru,” teriak kami dari pekarangan rumah.
Biasanya si pemilik rumah akan langsung mempersilakan kami masuk dan akan dijamu dengan kue-kue kering dari toples, dengan limun atau sirup markisa sebagai pendamping.
Bagi anak kecil hal semacam itu adalah kegembiraan. Biasanya kami sengaja memakai celana atau baju yang banyak kantongnya supaya bisa mengantongi banyak kue yang didapat dari setiap rumah yang disambangi. Itu adalah ritual rutin yang biasanya dilakukan setiap Natal dan Tahun Baru. Di samping itu bersilaturahmi dengan saudara dekat masing-masing.
Lalu apakah ada perbedaannya dengan perayaan Idul Fitri? Bagi anak-anak hampir tidak ada bedanya. Kenapa? karena bagi anak-anak meski secara agama dan keyakinannya tidak merayakan Lebaran, namun mereka pun bergembira menyambut hari raya tersebut.
Kegembiaraan itu karena anak-anak itu kembali punya kesempatan untuk berkeliling kamppung untuk mendapatkan kue dan limun.
Saya belum lupa bagaimana rasanya ketika datang ke rumah salah seorang warga yang rumahnya jaraknya kurang lebih satu kilometer dari rumah saya. Mungkin dia tidak begitu mengenali saya atau teman-teman yang lain. Karena memang rumah kami tidak berdekatan. Bahkan boleh dikatakan kami tinggal di kampung yang berseberangan.
Karena saya dan kawan-kawan tahu bahwa dia merayakan Idul Fitri, ya kami dengan senang hati berteriak di depan rumahnya. “Uak, Uak, mau Lebaran,” teriak kami serentak.
Tidak berapa lama seorang ibu membuka pintu dan menatap kami sambil tersenyum.
“Masuk, masuk sini. Dari mana kelian (kalian)?” tanya ibu tersebut yang memang biasa dipanggil Uak oleh pelanggannya. Kebetulan Uak ini adalah penjual miso.
Jujur saya sudah lupa dengan wajah Uak itu. Saya hanya ingat bahwa dia adalah penjual miso, seorang ibu suku Jawa yang udah menetap di Siantar. Mungkin juga dia lahir dan besar di kota toleran tersebut.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
