Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 Januari 2017, 23.10 WIB

Senyum Perdamaian

Simon Filantropha - Image

Simon Filantropha

Ada sekian banyak iklan kecantikan, mulai ujung rambut sampai ujung kaki, yang ditawarkan begitu meyakinkan dan menjanjikan. Vitamin B dan E ada pada sampo sehingga dapat mengatasi masalah akar rambut, kemilau rambut, dan bahkan soal ketombe. Ada lotion (cairan) tertentu yang dapat merawat kaki agar tetap halus dan mulus.



Yang lebih hebat, ada lotion yang dibuat dari (mengandung) tabir surya yang dapat mengubah kulit hitam dan cokelat menjadi ”sedikit agak putih” dalam waktu enam minggu. Paling hebat adalah seperangkat alat kecantikan yang dapat mengatasi penuaan: kulit keriput jadi kencang kembali, khususnya daerah T pada wajah. Ya, tetap cantik dan awet muda serta terpeliharanya penampilan Anda bisa ditunjang dengan sekian banyak alat kecantikan. Silakan Anda pilih sendiri secara cermat dan cerdas!



Dunia senam tidak mau ketinggalan. Mereka menjanjikan pembentukan tubuh yang aduhai nan semlohai melalui senam. Wajah pun dapat menjadi amboi memesona melalui senam wajah (ala Mr Bean) sehingga dapat mengurangi, bahkan kalau mungkin menghilangkan, kerut dan keriput di wajah berganti kencang cemerlang.



Lain lagi yang ditawarkan anak-anak sekolah Minggu bagi penampilan. Mereka menawarkan pesona penampilan lewat nyanyian: ”Senyum dan berwajah gembira, angkat tangan pujilah Dia. Berjabat tangan mesra, senyum gembira.” Senyum, seulas senyuman, begitu berartikah?



Ayub, orang saleh yang menderita tanpa sebab yang jelas, mengenang kembali masa lampaunya yang indah dan berkesan (Ayub 29). Dia begitu dihormati, dikagumi, dipuji dan dipuja, dinantikan sebagai penolong, penghibur, mata bagi si buta, bapa bagi si miskin, raja dan pemimpin. Di sela-sela nostalgianya, ia tersenyum manakala ia ingat: ”Aku tersenyum kepada mereka, ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka (Ayub 29:24).” Begitu kuatnya senyuman Ayub sehingga tidak dapat dipengaruhi keputusasaan dan kesuram-muraman mereka.



Malah oleh seulas senyuman keputusasaan berubah menjadi sikap optimistis dan berharap; kemuraman dan kesuraman berubah menjadi berseri, kata (mendiang) Santa Teresa, pemenang Nobel Kemanusiaan tahun ’80-an, dari Kalkuta, India. Beliau juga menulis: ”Tersenyumlah satu sama lain, tersenyumlah kepada istrimu, kepada suamimu, kepada anak-anakmu. Tersenyumlah satu sama lain, tak soal siapa orangnya. Ini akan membantu Anda untuk berkembang dalam rasa saling mengasihi yang semakin besar.”



Bagi Santa Teresa, yang penting dalam karya layanannya adalah biarkanlah setiap orang yang menghadapi sakaratul maut (akan mati) masih merasakan sapaan sesamanya melalui seulas senyuman. Senyuman membantu kita berkembang dalam rasa saling mengasihi yang semakin besar. Bagaimana mau mengasihi kalau tersenyum saja sudah begitu sulit. Lebih jauh, beliau mewariskan moto hidup: ”Peace Begins with a Smile”.



Antoine de Saint-Exupery, penulis buku Little Prince, seorang pilot pesawat tempur yang tewas dalam tugas tatkala berperang melawan Nazi, menuliskan kisah hidupnya manakala ia ikut berperang dalam Perang Sipil Spanyol.



Aku tertangkap lawan dan dijebloskan ke dalam sel penjara. Dari perlakuan para sipir aku tahu bahwa aku akan dijatuhi hukuman mati. Aku yakin aku akan dibunuh. Aku menjadi gugup dan senewen tak alang kepalang. Aku meraba-raba saku baju dan celanaku kalau-kalau masih ditemukan sebatang rokok yang dapat menenangkan hatiku. Ternyata aku mene­mukan sebatang rokok. Dengan tangan gemetar aku menyelipkannya pada bibirku. Tapi, aku tidak mempunyai korek api untuk menyalakan rokok itu. Maklum, mereka telah mengambilnya.



Melalui palang penjara aku melihat sipir penjara yang sedang menjagaku. Aku memanggilnya: ”Apakah Anda memiliki korek api?” Ia datang untuk menyalakan rokokku. Ketika ia mendekat dan menyalakan korek itu, matanya secara tak sengaja bertatapan dengan mataku. Saat itu juga aku tersenyum. Aku tidak tahu mengapa melakukannya. Apa pun alasannya, yang jelas aku tersenyum. Seketika itu juga, seolah-olah ada percikan api melompati jurang di antara kedua hati kami, lalu ia balas tersenyum sehingga hubungan antar sesama pun terjadilah.



Saling tersenyum makin menebar. Sipir bertanya: ”Kamu punya anak?” ”Ya, ya, ini,” kuambil dompet, kutunjukkan kepadanya foto keluargaku. Kami pun saling bercerita tentang keluarga kami masing-masing. Tatkala kami sampai pada kisah harapan untuk keluarga, aku tak dapat membendung air mataku yang mengalir deras. Tiba-tiba tanpa sepatah kata pun, ia membuka kunci selku dan membiarkanku keluar, bahkan melepasku sampai di batas kota. Nyawaku selamat berkat seulas senyuman.



Kita tersenyum manakala memandang dan menatap seorang bayi karena dalam diri bayi itu kita berjumpa dengan seseorang yang tidak diselubungi dan dibentengi berbagai macam pertahanan seperti martabat, status, gelar, pangkat, dan sejenisnya. Senyum bayi adalah senyum yang benar-benar murni tanpa tipu daya. Barangkali saja kita harus banyak belajar membuang benteng pertahanan yang hanya menumpuk kepalsuan yang mempersulit kita untuk tersenyum dengan senyuman seorang bayi.



Senyum, salam, dan sapa (3S, kalau di sekolah ditambah sopan dan santun jadi 5S) selalu menghiasi wajah para pelayan (yang sudah terlatih) di minimarket, kafe, dan toko-toko ketika menyambut serta menjemput para pengunjung dan pembeli. Tak heran kalau pembeli berubah jadi pelanggan betah nan tetap hanya karena merasakan sentuhan senyuman tulus ikhlas yang menyapa sampai ke lubuk hati pelanggan. Harga tak jadi soal. Yang penting hati senang, aman, dan nyaman karena seulas senyum perdamaian.



Seulas senyuman yang murni, menyapa, mendamaikan, tidak sinis, dan tanpa tipu daya (kemunafikan) bisa menjadi pengobat budaya kekerasan yang makin merebak dan semarak saat ini. Senyum perdamaian dapat mengubah wajah berang-garang menjadi riang-senang nan tenang; wajah ganas-beringas-buas menjadi welas asih nan lembut; wajah penuh amarah menjadi ramah. Senyuman macam itu mengajak orang untuk bersahabat dan bersaudara tanpa dibentengi tembok sekat yang menghalangi jumpa sesama manusia dan semesta.



Barangkali pada 2017 ini kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kita makin bertambah susah, sulit, dan diselimuti berbagai ketidakpastian. Kemuraman, keburaman, kesuraman, dan putus asa boleh jadi masih melanda kehidupan tahun ini. Namun, kalau saja masih dijumpai seulas senyuman yang lembut penuh keikhlasan, pastilah harapan, pengobatan, pemulihan, dan ceria kehidupan ditemukan kembali.

Editor: Fim Jepe
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore