Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 September 2022 | 07.10 WIB

Peluang Koalisi Nasdem, PKS, dan Demokrat Usung Anies Makin Besar

Caption: Presiden PKS Ahmad Syaikhu, Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketum NasDem Surya Paloh, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan politikus senior Golkar Jusuf Kalla di acara pernikahan anak Anggota DPR dari Fraksi Nasdem Sugeng Prawoto di J - Image

Caption: Presiden PKS Ahmad Syaikhu, Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketum NasDem Surya Paloh, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan politikus senior Golkar Jusuf Kalla di acara pernikahan anak Anggota DPR dari Fraksi Nasdem Sugeng Prawoto di J

JawaPos.com - Partai Nasdem dan PKS sampai saat ini belum menentukan calon presidennya untuk 2014. Meskipun partai Demokrat, pada saat rapimnas-nya kemarin secara tegas menyatakan akan berjuang untuk terus mengusung Ketua umumnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Namun, ketiga partai itu pun memiliki kesamaan yakni dekat dengan Anies Baswedan.

Apalagi, diketahui elektabilitas Anies Baswedan dalam beberapa bulan terakhir disebut-sebut meningkat dari 16,3 persen menjadi 17,7 persen.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Trust Indonesia Azhari Ardinal mengatakan, hal tersebut dipertegas dengan adanya pertemuan-pertemuan formal dan informal ketiga partai politik tersebut.

"Padahal jika dilihat ketiga partai politik tersebut memiliki background dan ideologi politik yang berbeda," kata Azhari kepada wartawan, Kamis (22/9).

Bahkan, Azhari juga mengatakan, Nasdem adalah partai koalisi pemerintah (Dependen), sedangkan Demokrat dan PKS adalah partai oposisi pemerintah (Independen).

"Dengan dukungan calon presiden kepada Anies Baswedan maka NaDeSe menjadi satu-satunya Partai Politik Interdependen (bekerjasama) yang terdiri dari partai politik koalisi dan partai politik oposisi," ungkapnya.

Azhari juga mengatakan, kalau kerjasam tersebut merupakan sebuah peluang besar karena masyarakat memiliki banyak pilihan dalam menentukan calon presiden 2024. Karena itu, dengan adanya koalisi Interdependen ini, semakin mempertegas bahwa PDIP akan ditinggalkan oleh partai-partai koalisi lainnya.

"Hal ini akan terjadi jika sikap dan gaya politik PDIP terlalu elitis. Apalagi PDIP sebagai partai pemenang pemilu sikapnya tidak tegas soal kenaikan harga BBM oleh Presiden Jokowi," sambungnya.

Dikatakan Azhari bahwa PDIP selaku partai pemerintah saat ini sangat bertolak belakang dengan sikap PDIP pada saat kenaikan harga BBM di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Ini sedikit banyak pasti akan menggerus suara PDIP," ujarnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore