
Capres nomor urut 01 Joko Widodo kini mengganti gaya kamapnyenya dengan ikut-ikutan menyerang lawannya.
JawaPos.com - Ada perubahan gaya komunikasi politik yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019 dengan Pilpres 2014 lalu. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu dinilai tak lagi kalem dalam menghadapi suatu isu.
Penilaian itu diungkapkan oleh Pakar Komunikasi Politik Hendri Satrio saat menjadi pembicara diskusi Selasaan yang digelar Seknas Prabowo-Sandi di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat, Selasa (4/12).
"Pak Jokowi agak beda dengan zaman 2014 lalu. Kalau dulu kan selalu bilang rapopo, kalem," kata Hendri dalam acara diskusi di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat, Selasa (4/12).
Padahal, kata Hendri, kalau teori kampanye itu sebetulnya ada tiga, yaitu claiming, defence, dan attack. Pada posisi petahana itu harus claiming dan defence. Tapi sekarang justru Jokowi malah ikut-ikutan attack alias menyerang.
Hendri tak mengetahui secara pasti alasan Jokowi yang semula berkepribadian kalem mulai ikut menggunakan gaya attack. Namun menurut dugaannya, ada dua hal yang membuat mantan partner Ahok itu mulai mengubah gaya komunikasi politiknya.
Pertama, kata dia, Jokowi tengah tertekan lantaran elektabilitasnya yang cukup bagus tetapi tidak didukung relawan yang cukup kuat. Pasalnya, sejumlah relawan yang pernah membantu Jokowi pada 2014 lalu sebagian besar telah menjadi komisaris BUMN.
"Kalau 2019 ini kan relawannya banyak yang sudah menjadi komisaris. Jadi, memang beliau sulit juga mengharapkan relawan itu. Makanya kasihan juga Pak Jokowi, sementara Pak Prabowo ada misalnya 212 dan sebagainya yang sangat militan," tuturnya.
Kedua, Hendri menyebut, Jokowi tengah merasa kesal lantaran kapasitas cawapresnya tak dapat menyokong dan melindungi prestasi pemerintahannya selama ini. Itulah sebabnya, mantan Wali Kota Solo itu kerap memainkan gaya menyerang ke lawan politiknya.
"Jokowi kesal karena merasa bertarung sendirian. Bagaimanapun dia harus melindungi prestasinya. Karena Ma'ruf Amin ini blunder juga, Oktober dia bilang esemka, ternyata blunder," ucapnya.
"Akhirnya Mas Sandi pegang pete, Pak Jokowi pegang pete juga. Mas Sandi senang, Pak Jokowi senang juga. Pasti andalan terakhir beliau itu adalah kebijakan. Jadi jangan kaget, banyak bansos gratisan yang akan dikeluarkan di 2019," sambungnya.

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
