Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Agustus 2020 | 17.48 WIB

Revolusi Pendidikan Penguruan Tinggi Demi Ciptakan Lapangan Kerja

Kemendikbud - Image

Kemendikbud

JawaPos.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan bahwa dunia saat ini tengah bertransformasi lebih masif dalam pemanfaatan teknologi. Untuk itu, perguruan tinggi (PT) juga patut mengikuti perubahan era ini demi menciptakan lulusan yang berkualitas.

“Pada esensinya jika kita menghadapi dunia yang berubah maka kampus harus berubah, tidak bisa diam. Saat ini kita dapat melihat bahwa sumber ilmu yang kita rancang masih sepenuhnya bersumber dari dosen, padahal alangkah lebih baiknya mahasiswa mendapat sumber ilmu lain dari sumber manapun,” tutur Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Nizam dalam siaran pers, Kamis (20/8).

Adapun, dampak perkembangan zaman akan membuat berbagai pekerjaan manusia kian tergantikan oleh otomasi yang cerdas dan canggih.

"Setiap revolusi selalu menghapus banyak sekali pekerjaan manusia, digantikan oleh mesin. Di era ini pun pekerjaan mapan yang saat ini menjadi aktivitas manusia untuk bekerja digantikan oleh teknologi. Sehingga tidak heran McKinsey memprediksikan 23 juta pekerjaan akan hilang digantikan oleh otomasi dan sistem cerdas,” jelas dia.

Agar hal seperti itu tidak terjadi, maka perlu adanya keterlibatan industri dengan perguruan tinggi. Tidak adanya hubungan yang baik dengan dunia kerja akan membuat penyerapan tenaga kerja pun sulit dilakukan, karena tidak sesuai standar kompetensi industri.

“Jangan sampai terjadi broken link, perguruan tinggi dinilai tidak fit dengan dunia kerja, link and match tidak terjadi. Perlu dilakukan revolusi pendidikan, jika biasanya fit to industry dengan mempersiapkan sekrup-sekrup butuhan industri, kini mahasiswa punya jalan tangannya berbeda, dengan istilah student centered learning. Dosen tidak menjadi satu satunya ilmu tapi jadi co-creator bersama mahasiswa,” ujarnya.

Student center learning merupakan salah satu contoh revolusi pendidikan, di mana pusat pembelajaran tidak hanya terpaku pada dosen sebagai fasilitator sumber ilmu. Namun juga mahasiswa harus siap berkreasi lintas keilmuan dan memiliki karakter yang kuat sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan global.

Nizam menyimpulkan bahwa semangat Merdeka Belajar: Kampus Merdeka dilakukan demi terwujudnya kreativitas generasi unggul, membuka ruang semesta belajar bagi mahasiswa, serta menggandengkan perguruan tinggi dan dunia nyata. Selain itu, Kampus Merdeka menjadi katalis terbentuknya ekosistem penta helix yang menjadikan perguruan tinggi sebagai mata air bagi industri, masyarakat, dan pembangunan bangsa.

“Manusia tidak hanya sekadar merdeka, tetapi merdeka dan berbudaya. Insan merdeka diwujudkan dengan berdikari, tidak bergantung pada orang lain, serta mampu menentukan masa depannya sendiri,” tuturnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore