Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 November 2020 | 17.44 WIB

Yayasan Guru Belajar Ungkap Cara Manfaatkan Hasil AN

Sejumlah siswa menggunakan fasilitas WiFi saat mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh di balai warga Kelurahan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). Warga setempat menyediakan wifi gratis bagi pelajar yang terkendala biaya kuot - Image

Sejumlah siswa menggunakan fasilitas WiFi saat mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh di balai warga Kelurahan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). Warga setempat menyediakan wifi gratis bagi pelajar yang terkendala biaya kuot

JawaPos.com - Asesmen Nasional (AN) akan dilaksanakan pada 2021 mendatang. Metode AN ini diterapkan untuk menggantikan Ujian Nasional (UN). Namun skema tersebut bukan menjadi penentu kelulusan peserta didik.

Hasil AN akan didapatkan setelah melaksanakan tiga komponen yang dites, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar. Di mana kelas yang akan diujikan adalah 5, 8 dan 11.

Ketua Yayasan Guru Belajar Bukik Setiawan pun menuturkan, untuk bisa memanfaatkan hasil AN itu, tentunya diperlukan adanya perubahan gaya lama ke yang baru. Seperti hafalan rumus yang berubah menjadi penalaran.

"Kalau cara lama kan kita mengejar murid untuk hafalan rumus, sehingga praktiknya memperbanyak latihan soal. Sekarang bukan hafalan, tapi penalaran sehingga perlu terus menerus mengasah penalaran murid melalui pembelajaran Merdeka Belajar," ujar dia dalam webinar Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional, Selasa (3/11) malam.

Baca juga: Apa Makna Lulus Asesmen Nasional? Ini Kata Bukik Setiawan

Lalu, soal konten pelajaran yang biasanya dilakukab berlebihan oleh para guru pada penguasaan pelajaran yang diujikan. Kini yang harus diperhatikan adalah penguasaan kompetensi dengan melakukan asesmen yang komprehensif, yang hasilnya sebagai dasar pembelajaran pada level yang tepat.

Lalu, cara lama itu melakukan sensus semua murid yang paling pintar sebagai pengatrol agar rata-rata nilai UN di sekolah atau daerah itu naik. Namun, sekarang harus dilakukan survey, bukan sensus, artinya tidak bisa memilih murid-murid mana yang akan mengikuti AN.

"Yang bisa kita lakukan adalah pembelajaran yang tertuju pada semua dan setiap murid, gimana cara merangkul semua yaitu melalui kelas Merdeka Belajar," imbuhnya.

Terakhir, cara lama yang harus ditinggalkan adalah mengerahkan segala cara pada semester terakhir untuk meningkatkan nilai UN. Pada saat ini, hal itu harus berubah menjadi penilaian seobjektif mungkin demi peningkatan kualitas pendidikan yang nyata.

"Ngga usah diakal-akali, semakin diakalin itu mungkin bisa tinggi nilainya, tapi tahun depan itu kita makin menderita, kenapa, karena ukuran kelulusan capaian AN tahun depan harus lebih baik dari 2021. Jadi misalnya 2021 nilainya sudah 99, tahun 2022 mati mau naik ke mana lagi. Cara-cara ini ayo dilupakan dan ditinggalkan, saya berani jamin cara ini tidak akan memberikan manfaat pada murid guru sekolah maupun daerah," tutupnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=2Td_lu0UmtM

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore