Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 November 2020 | 00.20 WIB

Sekolah Cikal Tidak Tanggapi Tudingan Bisnis 'Lulus Asesmen Nasional'

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menuturkan bahwa tidak perlu persiapan khusus dalam menjalani Asesmen Nasional (AN). Sebab, AN bukanlah penentu kelulusan siswa.

Namun faktanya, di lapangan masih ada yang menjual nama AN sebagai barang dagangan yang dilakukan oleh lembaga bimbel atau lembaga swasta tertentu. Artinya, banyak yang masih menyamakan AN dengan UN.

Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah munculnya poster 'Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional' dengan Sekolah Cikal sebagai lembaga penyelenggaranya. Lembaga tersebut diketahui memiliki hubungan erat dengan Kemendikbud, seperti mereka lah yang mempelopori merek Program Merdeka Belajar yang kini sudah dihibahkan.

Menanggapi itu, Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim pun menduga bahwa Kemendikbud membiarkan praktik bisnis model ini terjadi dan dijalankan oleh Sekolah Cikal.

"Padahal secara regulasi, AN itu bukan penentu kelulusan siswa. Praktik penyelenggaraan AN bukan menilai-nilai siswa seperti UN dulu. Tapi peluang bisnis dari Sekolah (Swasta) yang memang jualan AN ini laku di masyarakat yang belum paham secara utuh dan komprehensif tentang AN," terang dia kepada JawaPos.com, Selasa (3/11).

Bisnis model ini tentu memanfaatkan persepsi publik, baik dari kalangan guru, siswa, orang tua yang belum paham seutuhnya tentang AN yang sejatinya berbeda dari UN. Ini lah yang menjadi kekhawatirannya, lembaga melakukan praktik bisnis di dunia pendidikan.

"UN dulu itu menjadi beban siswa, guru, dan orang tua ya karena model-model bisnis pendidikan seperti di atas. Jualan LULUS AN/UN untuk bisnis pendidikan. Bahaya jika (kebijakan) pendidikan dibisniskan seperti ini," tambah dia.

Praktik-praktik seperti ini menjadi faktor yang membuat pendidikan Indonesia semakin buruk atau terjatuh. Siswa hanya dijadikan sebagai objek ujian dan pendidikan berorientasi untuk pengetahuan saja.

"Bagaimana cara agar siswa lulus ujian AN dengan menjual praktik atau cara-cara pintas menjawab soal. Karakter makin dipinggirkan. Penguatan nilai-nilai bukan lagi prioritas sekolah. Prioritas sekolah lebih dominan kepada bagaimana caranya agar sekolah mendapatkan Nilai AN (dulu UN) yang tinggi," tambah Satriwan.

Praktik bisnis jualan Lulus AN juga berpotensi memanipulasi publik. Sebab kebijakan Mendikbud yang sesungguhnya justru tidak menjadikan AN sebagai penentu kelulusan siswa. Ini diduga kuat bentuk kebohongan publik.

"Praktik-praktik bisnis pendidikan seperti di atas harus diberantas dan ditertibkan oleh Kemendikbud. Jika Mas Nadiem tak turun langsung menghentikan praktik-ptaktik Jualan Lulus AN seperti di atas, maka Mas Nadiem bersikap inkonsisten dengan kebijakannya. Semoga Mas Nadiem membenahi praktik-praktik bisnis pendidikan yang manipulatif tersebut," tutup dia.

Mengenai isu itu, Pendiri Sekolah Cikal Najelaa Shihab tidak menanggapi tudingan tersebut. Akan tetapi, dia membenarkan bahwa poster diskusi soal AN itu memang milik pihaknya.

"Ini poster diskusi Yayasan Guru Belajar Kampus Guru Cikal yang topiknya soal Asesmen Nasional. Rutin kok diadakan bersama Komunitas Guru Belajar Nusantara dan acaranya terbuka buat semua," katanya singkat kepada JawaPos.com.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore