
Mantan Dirut LPP TVRI, Helmy Yahya saat mengikuti RDPU (Rapat Dengar Pendapat Umum) dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/1/2019). RDPU tersebut membahas Penjelasan terkait permasalahan pemberhentian Direktur Utama LPP TVR
JawaPos.com - Rapat dengar pendapat di Komisi I DPR kemarin (28/1) menjadi panggung pembelaan terhadap Helmy Yahya yang dipecat dari jabatan Dirut TVRI. Para legislator heran dengan pemecatan tersebut. DPR menilai kinerja lembaga penyiaran itu di bawah Helmy mengalami kemajuan.
Anggota komisi I Nurul Arifin mengatakan, pemecatan Helmy adalah bentuk ketidakadilan. Padahal, sejumlah prestasi dan capaian berhasil membuat TVRI kembali ditonton publik. TVRI sebagai televisi pemerintah sudah mengalami rebranding yang berdampak pada peningkatan rating. Juga, menayangkan sejumlah program baru seperti Liga Inggris yang justru dianggap dewan pengawas (dewas) sebagai sumber persoalan di TVRI.
”Jadi, saya menyimpulkan, kesalahan Pak Helmy karena berjalan terlalu cepat. Pak Helmy berlari, sementara yang lain hanya bisa melongok,” cetus Nurul.
Pembelaan juga datang dari Yan Permenas Mandenas. Dia justru menilai ada pelanggaran prosedur yang dilakukan dewas TVRI. Sebab, sejauh ini belum ada mediasi yang intensif antara dewas dan direksi. ’’Bayangkan, kita baru rapat sekali dengan dewas, tapi SK (surat keputusan, Red) pemberhentian langsung keluar,” ujarnya.
Dia mengatakan sudah berdialog dengan jajaran TVRI di sejumlah provinsi. Salah satunya Papua. Dia bertanya terkait kondisi TVRI di bawah kepemimpinan Helmy. Hasilnya, kinerja TVRI terus membaik.
Effendi Simbolon menambahkan, pihaknya segera memanggil Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate. Dia menilai ada pembiaran atas konflik di TVRI.
Sementara itu, Helmy Yahya membantah program asing mendominasi tayangan TVRI. Menurut dia, durasi tayangan program asing tidak sampai 10 persen dari total 8 ribu jam nasional. Faktanya, ada 30 stasiun TVRI di seluruh Indonesia. Setiap hari siaran empat jam dengan konten lokal. ”Mulai budaya, bahasa daerah, pendidikan, hingga informasi daerah lainnya,” papar Helmy.
Menurut Helmy, hanya empat program tayangan yang dirindukan di Indonesia. Yakni, sepak bola, bulu tangkis, drama, dan dangdut. ’’Kami minimal sudah punya dua. Dan disesuaikan betul dengan anggaran,’’ imbuhnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
