
Presiden Joko Widodo (keempat kiri) didampingi Wakil Presiden Ma
JawaPos.com - Lokataru Foundation menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengalami penyempitan ruang ekspresi publik (shrinking space). Menurut Lokataru, rezim Jokowi mulai menghilangkan dua esensi dasar demokrasi pascareformasi, yakni kebebasan berekspresi dan kebebasan berserikat.
"Dua hal dramatik ini (kebebasan berekspresi dan kebebasan berserikat, Red) menurut saya semakin hari justru semakin menurun kualitasnya dan itu kemudian kita mengambil kesimpulan. Kenapa? Karena syarat shrinking space terpenuhi di era Jokowi," kata peneliti Lokataru Foundation, Mufti Makarim dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/10).
Mufti menyatakan kebebasan berekspresi semakin sempit berdasarkan dua kata kunci yang jadi fokus di pemerintahan Jokowi, yakni pembangunan dan stabilitas. Dari sisi pembangunan, pemerintah menganggap bahwa masyarakat yang berserikat merupakan ancaman. Dari sisi stabilitas, Jokowi takut dengan suara berekspresi.
Mufti pun mencontohkan empat isu, yakni isu Papua, penggunaan kekerasan dan intimidasi kepada demonstran, menyempitnya ruang kebebasan akademik, hingga pemberangusan serikat buruh. "Pemerintah justru menggunakan stigma separatisme dalam penyelesaian konflik Papua," terangnya.
Mufti pun menegaskan, pemerintahan pascareformasi di era Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak memenuhi unsur seperti Jokowi. Ia beralasan, pemilihan Mega terjadi karena euforia oposisi, sementara SBY dipilih karena harapan terhadap figur baru.
Pemerintahan Jokowi, di lain pihak, memenuhi unsur karena dianggap bisa membawa perbaikan konstruktif. Tetapi, hal ini justru membuat publik sulit menyampaikan ekspresi mereka.
"Ini lebih menarik. Jokowi itu figur bersih yang diharapkan bisa bersih-bersih konstruktif, tapi (yang dilakukan Jokowi, Red) bersih-bersih destruktif dan malah kemudian memberikan potensi terhadap persoalan-persoalan shrinking space ke depan," sesal Mufti.
Oleh karenanya, Mufti berharap Presiden Jokowi berhati-hati dengan ruang publik yang menyempit. Lokataru berharap pemerintah bisa memperbaiki empat isu tersebut. "Kami ingin mengingatkan Pak Jokwoi untuk melakukan koreksi terhadap beberapa hal yang menjadi temuan ini," pungkas Mufti.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
